Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 13 - True Colors


__ADS_3

...༻〇༺...


"So sweet apanya. Ini mungkin orang iseng, Sit!" Acha beranggapan begitu dengan surat yang didapatkannya.


"Iya juga sih. Tapi kalau misalkan lo dapat lagi gimana? Orang yang ngirim surat ini berarti serius," tanggap Sitha.


"Nggak tahu deh. Hal beginian menurut gue cemen," ucap Acha.


Sitha memutar bola matanya. Berusaha memahami pendapat dari Acha.


Tak lama kemudian guru yang mengajar masuk. Acha dan teman-teman sekelasnya segera melakukan aktifitas belajar.


Dua jam berlalu, bel istirahat berbunyi. Acha dan Sitha pergi ke kantin bersama. Sesampainya di kantin, Acha menyaksikan Bimo dan teman-temannya.


Jantung Acha berdebam keras. Bukan karena semangat cintanya seperti biasa, melainkan karena melihat Bimo mesra dengan seorang cewek.


Yang membuat hati Acha tidak karuan adalah, Bimo membiarkan cewek itu duduk di pangkuannya. Bimo dan cewek tersebut sesekali terlihat tergelak bersama.


"Gila ya Kak Bimo. Kemarin dia dekat sama cewek yang berbeda loh," bisik Sitha.


Mata Acha sontak membulat. "Yang benar?" tanyanya memastikan.


"Iya. Kan kemarin lo nggak ke kantin. Jadi nggak lihat," sahut Sitha. "Katanya cuman teman aja sih. Wajar, Cha. Kak Bimo populer. Cewek yang mau dekat sama dia ngantri. Tapi kemarin nggak sampai dipangku begitu kok. Mereka cuman rangkulan aja," sambungnya.


Acha memberengut. Merasa sudah memiliki hubungan dengan Bimo, dia merasa cemburu. Apalagi Acha melihat Bimo bercanda dengan cewek itu persis seperti saat bercanda padanya.


'Apa mungkin hanya gue yang menganggap hubungan dengan Kak Bimo adalah pacaran? Kalau di ingat-ingat Kak Bimo nggak pernah kasih kepastian ke gue,' batin Acha yang termangu memikirkan hubungan ambigunya dengan Bimo.


"Cha, lo mau pesan apa?" tanya Sitha. Namun Acha sama sekali tak merespon. Gadis itu tenggelam dalam lamunan.


"Cha! Acha!" Sitha akhirnya menepuk pundak Acha. Hingga temannya itu akhirnya tersadar.


"Eh, iya! Kenapa?" seru Acha.


"Malah melamun. Lo mau pesan apa?" tanya Sitha sekali lagi.


"Gue mau batagor sama es jeruk," kata Acha sambil mendengus.


Sementara itu, Bimo baru saja menyadari kehadiran Acha. Ia bergegas mendorong cewek yang duduk di pangkuannya. Apalagi saat Acha berjalan melewati meja dimana Bimo dan kawan-kawan berada.

__ADS_1


"Duduk ke kursi sana. Kayak anak kecil aja lo!" ujar Bimo.


"Dih! Tumben ngomong gitu. Biasanya dicium pun lo diam," balas cewek bernama Arlin itu.


"Bacot lo!" Bimo menatap tajam Arlin. Cewek tersebut dan teman-temannya Bimo hanya tergelak geli.


"Bimo ngambek, guys..." Arlin duduk ke sebelah Bimo. Lalu merangkul cowok itu.


"Apaan sih. Kalau mau sebar aib bilang-bilang. Biar gue bocorin juga semua aib lo!" balas Bimo.


"Sorry... Gue keceplosan," bisik Arlin yang ditanggapi dengan memutar bola mata sebal oleh Bimo.


Bersamaan dengan itu, Acha baru duduk di salah satu meja kosong. Posisinya kebetulan berada cukup jauh dari Bimo. Jadi dia tak bisa mendengar pembicaraan kakak tirinya tersebut. Acha hanya bisa mengamati dari jauh.


"Kayaknya cara pertemanan anak kelas tiga emang begitu deh, Cha. Pacaran atau enggak, lagaknya udah mesra," cetus Sitha sambil mengunyah baksonya. Sesekali dia memperbaiki kacamata yang tak sengaja menyentak ke hidung.


"Mungkin. Tapi agak berlebihan nggak sih?" sahut Acha.


"Berlebihan sih. Tapi kalau cewek dan cowok itu temenan akrab, mereka pasti bakalan begitu. Makanya, kata orang-orang nggak ada yang namanya cewek dan cowok bisa temenan. Karena salah satu di antara mereka pasti ada yang jatuh cinta," jelas Sitha.


"Lo bicara kayak orang pengalaman aja," komentar Acha. Pembicaraannya dan Sitha berhenti saat ada seorang cowok culun meminta izin untuk duduk satu meja dengan mereka. Nama cowok itu adalah Farrel. Dia satu angkatan dengan Acha. Kelasnya berada persis di sebelah kelas Acha.


Acha dan Sitha bertukar pandang sejenak. Keduanya seolah saling bicara lewat tatapan.


"Boleh. Silahkan," ucap Sitha mempersilahkan. Sedangkan Acha hanya tampak mengangguk dan tersenyum.


"Makasih..." ungkap Farrel malu-malu. Dia lantas menikmati makanannya. Suasana jadi canggung gara-gara kehadirannya. Sesekali Farrel mencuri pandang ke arah Acha. Meskipun begitu, Farrel tak bicara sepatah kata pun. Ia memang dikenal sangat pendiam dan penyendiri.


"Ekhem!" Sitha berdehem. Dia sadar kalau Farrel sejak tadi terus melirik Acha.


Acha menghela nafas panjang. Dia sebenarnya juga sadar dengan gelagat Farrel. Cowok itu membuatnya merasa tidak nyaman. Acha buru-buru menghabiskan makanan dan minuman agar bisa pergi secepatnya.


"Gue udah selesai. Ayo kita pergi! Kebetulan juga gue mau ke toilet," ajak Acha seraya menarik lengan Sitha.


"Eh, tapi gue belum--"


"Udah... Ayo!" Acha memaksa. Dia membawa Sitha pergi dari kantin. Padahal makanan di piring temannya itu belum habis.


Acha sengaja menundukkan kepala saat melangkah melewati Bimo. Meski sudah menjadi adik cowok itu, Acha sadar diri untuk tidak mengganggu kehidupan pribadinya.

__ADS_1


"Acha!" panggil Bimo. Membuat langkah kaki Acha sontak terhenti. Gadis itu menoleh.


"Iya, Kak?" sahut Acha.


"Gimana tadi? Kau nggak kena hukum kan?" tanya Bimo.


"Lancar, Kak. Ya udah, aku pergi." Acha menjawab singkat. Sikapnya juga tidak ceria seperti biasa. Kemungkinan itu terjadi karena rasa cemburu.


Bimo mengedikkan bahu. Dia merasa aneh dengan sikap Acha. Sebagai cowok, dirinya sama sekali tidak sadar dengan kesalahannya.


"Adik lo cantik, Bim. Gue boleh deketin nggak?" tanya Arvan. Salah satu teman Bimo.


Bimo langsung melotot. "Kalau lo berani dekatin dia, nih!" ancamnya seraya mengepalkan tinju ke depan wajah Arvan.


"Galak amat abangnya Acha!" tukas Reyhan dengan nada mengejek.


"Udah kalian nurut aja. Kalian tahu kan kalau Acha sudah diembat juga sama Bimo," kata Arlin.


"Tapi aneh kalau dia marah begitu. Nggak kayak biasanya. Jangan-jangan lo udah jatuh cinta sama adik lo lagi," tukas Arvan.


"Gila lo!" Bimo membantah tegas. Teman-temannya lantas terbahak.


Saat itulah Bimo terdiam. Entah kenapa dia berusaha melindungi Acha. Bimo juga merasa kesal saat teman-temannya membual tentang Acha.


Bimo menggeleng tegas. Membuang segala kegelisahannya tentang Acha. Ia tak mau terlalu memikirkannya.


"Hari ini kita balapan lagi kan?" tanya Bimo sambil merangkul Reyhan.


"Iya. Lawan kita hari ini anak SMA Bima Satya. Mereka orang-orang kaya, Bim! Jadi kayaknya hadiahnya tinggi," ujar Reyhan antusias.


"Bagus!" Bimo ikut merasa bersemangat.


Ketika pulang sekolah, Bimo pergi bersama teman-temannya. Membiarkan Acha pulang sendiri dengan dijemput sopir. Sekarang gadis itu berdiri di depan halte bus. Mengamati Bimo yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.


"Kak Bimo sibuk sama urusan apa ya?" gumam Acha penasaran.


Mobil jemputan Acha datang bersamaan saat Bimo dan teman-temannya pergi. Saat itulah Acha terpikir untuk mengikuti Bimo.


"Pak! Kita nggak usah pulang langsung. Ikuti Kak Bimo ya!" perintah Acha pada sang sopir.

__ADS_1


__ADS_2