
...༻〇༺...
Karena Alan membongkar perselingkuhan sang ayah, Ezra dan ibunya harus terkena imbas. Mereka menerima banyak cacian. Terlebih ayahnya Alan memilih meninggalkan mereka. Ezra dan ibunya disuruh pergi sejauh mungkin dengan bayaran uang setimpal.
Kehidupan Ezra dan ibunya sangat terpuruk. Apalagi ketika ibunya Ezra yang bernama Widya, mengalami depresi akibat masalah yang ada.
Pada akhirnya Ezra juga pergi dari kehidupan Acha seperti Alan dan Bimo. Dia satu-satunya cowok yang pergi tanpa salam perpisahan.
Sementara itu, Acha tetap bersekolah layaknya hari biasa. Dia kali ini belajar lebih giat dibanding sebelumnya.
Sekarang Acha fokus menata masa depannya. Ingin jadi apa dan bagaimana dia nanti saat lulus SMA.
Anehnya selain tertarik di bidang seni, Acha juga berminat mengenai segala hal tentang Psikologi. Jadi ketika sudah kelas tiga, Acha memilih dua jurusan kuliah di sebuah universitas.
Dari dua jurusan, Acha hanya berhasil lulus di jurusan Psikologi. Dia yang menerima kenyataan itu, merasa hal tersebut adalah takdir.
Kini tiga tahun berlalu. Jujur saja, setelah bercerai dengan Rizal, Mira dan Acha hidup lebih mandiri. Acha bahkan seringkali membantu ibunya mengurus bisnis butik yang baru saja dikembangkan.
Sekarang Acha baru pulang kuliah. Dia biasanya pergi ke cafe seberang kampus untuk makan siang.
"Pesan capuccino sama roti burgernya satu. Dibungkus ya!" ujar Acha pada pelayan cafe.
"Bentar ya, Mbak." Pelayan cafe itu merespon.
__ADS_1
Butuh waktu sekitar lima menit untuk menunggu. Saat lima menit berlalu, pesanan Acha telah siap. Gadis tersebut segera merogoh dompetnya. Akan tetapi seorang cowok tiba-tiba menghentikan.
"Biar aku yang bayar makanan gadis ini," imbuh lelaki itu. Acha sontak menoleh ke arahnya. Ternyata dia adalah Bimo.
"Kak Bimo!" seru Acha. Dia memperhatikan penampilan Bimo yang berubah drastis. Cowok itu memiliki tubuh bugar, berambut cepak dan berkulit kecokelatan. Bimo semakin tampan dan berkharisma. Membuat jantung Acha berdetak tidak karuan.
"Lama nggak bertemu," tanggap Bimo sembari tersenyum. Dia mengajak Acha mengobrol sambil duduk.
Sekarang Acha dan Bimo duduk saling berhadapan. Suasana terasa canggung karena mereka sudah lama tidak bertemu.
"Bagaimana kabarmu dan ibumu?" tanya Bimo.
"Baik. Kami menjalankan bisnis butik. Aku juga sedang sibuk kuliah. Kalau Kak Bimo? Sudah selesai pelatihannya?" tanya Acha.
"Sudah! Aku dan Papah juga baik-baik saja. Hanya saja kami sudah tidak tinggal bersama," ungkap Bimo.
Hening menyelimuti suasana dalam beberapa detik. Sampai akhirnya Bimo angkat suara lebih dulu.
"Kedatanganku menemuimu sekarang karena ingin memberimu kepastian," ucap Bimo.
Pupil mata Acha membesar. Dia mengira Bimo akan mengajaknya menikah. Mengingat usia mereka sudah cukup matang untuk itu. Acha juga sangat ingat kalau Bimo pernah berjanji akan menemuinya setelah pelatihan selesai.
"Kepastian apa, Kak?" tanya Acha yang sudah tegang lebih dulu.
__ADS_1
"Kepastian kalau kemungkinan kita tidak akan bertemu lagi. Aku pernah bilang kalau aku akan menemuimu lagi setelah pelatihan kan?" tanggap Bimo.
"I-iya..." bahu Acha melemah. Dia tentu heran kenapa Bimo menyebut mereka tidak akan bertemu lagi.
"Awalnya aku ingin memperjuangkan cintaku padamu. Tapi sepertinya tak bisa kulakukan karena aku akan ditugaskan pergi ke Suriah. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana nantinya aku di sana." Bimo bercerita panjang lebar. Dengan kepala yang tertunduk tentu saja.
"Kak Bimo kenapa pesimis begitu? Kita bisa bertemu lagi kok!" sahut Acha. Dibanding pada Ezra dan Alan, dia memang masih menyukai Bimo.
"Apa kau yakin?" tanya Bimo. Namun Acha terdiam seribu bahasa. Di dunia ini, manusia tentu tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.
"Kau tidak yakin kan? Karena itulah aku tidak bisa berjanji. Aku harap kau menemukan lelaki yang baik, Cha. Sejak awal, cowok sepertiku tidak pantas untuk gadis baik sepertimu," tutur Bimo.
Mendengar apa yang dikatakan Bimo, air mata Acha berjatuhan. Bimo lantas menghampiri dan memeluknya.
"Kak Bimo itu cinta pertamaku..." ungkap Acha sambil terisak.
"Kau juga cinta pertamaku, Cha..." Mata Bimo berkaca-kaca. Dia sebenarnya ingin sekali tetap tinggal di Indonesia demi Acha, tetapi di sisi lain dirinya tak mau perjuangannya selama pelatihan jadi sia-sia. Sebagai abdi negara, Bimo juga sudah memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi. Dia memang dilatih untuk mengorbankan segalanya demi negara. Termasuk cintanya.
Acha tak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan Bimo. Dia hanya berharap lelaki itu menjalankan tugas dengan baik dan bisa kembali. Mereka berpisah secara baik-baik. Namun perpisahan tersebut tak akan pernah dilupakan Acha.
...~SELESAI~...
Catatan Author :
__ADS_1
Kisah Acha dan tiga cogan selesai di sini ya guys. Aku akan tulis cerita selanjutnya di novel baru. Di bab ini juga sudah dipastikan kalau Bimo dihapus jadi opsi lelaki pilihan Acha. Jadi tinggal Ezra dan Alan.
Cus lanjut baca untuk season 2!