
...༻〇༺...
"Kak Bimo! Lepasin aku!" Acha berusaha keras memberontak.
"Cha, wajahmu merah banget. Kau yakin sudah tidak suka denganku?" tukas Bimo sembari mengangkat dua alisnya bersamaan.
"Enggak!" tegas Acha.
"Apa kau ingat ciuman panas kita di garasi? Aku merindukannya," ungkap Bimo.
"Heh! Kalau begitu lakukan saja dengan pacarmu sana!" hardik Acha. Namun dia masih belum bisa lepas dari belenggu Bimo.
"Pacar? Aku nggak punya tuh!" sahut Bimo. Ia bergerak lebih dekat pada Acha. Memposisikan mulutnya ke telinga gadis tersebut. Lalu mendesiskan nafas di sana. Bimo sepertinya sangat tahu titik sensitif seorang gadis. Salah satunya adalah telinga.
"Kak Bimo! Geli!" protes Acha sambil meringiskan wajah. Ia juga sedikit tersenyum karena desiran aneh yang dirasakannya. Apalagi ketika Bimo meniup telinganya dengan hembusan pelan.
"Aagh..." Acha reflek melenguh. Sekujur badannya merinding hebat. Kini Bimo menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Acha. Gadis tersebut sempat terbuai hingga memejamkan mata mendongakkan kepala.
Untung saja Acha cepat sadar. Terutama saat tangan nakal Bimo mulai menyusup masuk ke perutnya. Dengan cepat, Acha dorong Bimo. Dia cubit perut cowok itu sekuat tenaga.
"Aaarrghh!! Sakit, Cha!" rintih Bimo sambil menggeleparkan tubuhnya akibat kesakitan.
Acha tergelak puas. "Makanya, Kak! Jangan kebiasaan nyosor!" timpalnya.
"Achaaaa! Bimoo!" suara panggilan dari lantai bawah terdengar. Jelas orang yang memanggil adalah Mira.
Buru-buru Acha melompat turun dari ranjang. "Aku duluan!" ujarnya seraya beranjak lebih dulu.
Bimo mendengus kasar sambil mengelus bekas cubitan Acha. Ia membuka kaos baju dan memeriksa keadaan perutnya. Cubitan Acha sukses membuat otot perut Bimo memerah bak roti sobek rasa stroberi.
"Dasar anak itu!" geram Bimo. Ia tidak tahu apakah harus marah atau tidak. Akan tetapi entah kenapa Bimo merasa hubungannya dan Acha semakin kuat.
Bimo segera menyusul Acha. Menemui semua keluarganya yang telah berkumpul di ruang tengah.
"Malam ini kita ada undangan untuk datang ke pesta besar! Kalian berdua ikut juga ya," pinta Mira. Berbicara pada Acha dan Bimo.
__ADS_1
"Pesta apaan, Mah?" tanya Acha.
Sementara itu Bimo terlihat duduk di sofa dengan raut wajah malas. "Ah, malas. Aku sama Acha jaga rumah aja deh," ungkapnya.
"Bimo!" Rizal menegur dengan tegas. Ia juga tak lupa memancarkan tatapan tajam agar Bimo berhenti membangkang.
"Sudah, Pah... Bimo pasti ikut kok." Mira segera menenangkan sang suami.
"Ini undangan langka yang jarang didapat oleh kebanyakan orang. Ini pesta amal yang diadakan oleh gubernur kota!" jelas Mira.
"Benarkah? Bagaimana bisa kalian dapat undangannya?" tanya Acha. Menatap Mira dan Rizal secara bergantian.
"Papah kalian berhasil dapat undangan karena kerjasama yang dilakukannya baru-baru ini dengan pemerintah. Kerjasama itu sukses besar!" Mira menatap bangga ke arah Rizal.
"Tidak, Mah. Jangan begitu. Aku yakin kesempatan ini adalah rezeki keluarga kita," tanggap Rizal. Membalas tatapan Mira dengan penuh cinta.
Bimo yang melihat, memutar bola mata jengah. Dia mengalihkan pandangan ke jendela karena malas menyaksikan kemesraan Rizal dan Mira.
"Jadi kapan kita akan berangkat?" tanya Acha.
"Oke. Aku akan pastikan aku sama Kak Bimo bersiap!" imbuh Acha sembari berdiri. Dia juga menyeret Bimo ikut bersamanya.
Bimo tersenyum miring dan melangkah saja mengikuti Acha. Keduanya kini beranjak menaiki tangga. Kemudian berhenti ketika sudah jauh dari posisi Rizal dan Mira.
"Kau yakin ingin ikut ke pesta?" tanya Bimo.
"Itu lebih baik dari pada berduaan di rumah sama Kakak!" balas Acha.
"Ya iyalah. Kau pasti senang bisa bertemu pacarmu di sana," tanggap Bimo seraya masuk ke dalam kamarnya. Ia juga tak lupa menutup pintu.
"Hah? Apaan coba," gumam Acha yang tak mengerti. Dia lantas mengedikkan bahu dan melenggang masuk ke kamar.
Kala sudah menunjukkan jam tujuh malam, Acha dan keluarganya sudah berkumpul. Mereka segera tancap gas untuk pergi ke lokasi pesta.
Acha terlihat cantik dengan dress selutut berwarna pastel. Sedangkan Bimo tampak menawan dengan setelan kemeja rapi.
__ADS_1
Diam-diam Acha melirik Bimo. Jantungnya berdetak tak karuan lagi. Jelas dia tidak bisa membantah ketampanan Bimo.
"Kenapa? Aku ganteng banget ya?" tukas Bimo yang sadar dengan lirikan Acha.
"Dih! Kepedean." Acha sigap membuang muka. Menyembunyikan rona merah yang tertera di wajah cantiknya.
Bimo hanya terkekeh. Dia mendekat dan merangkul pundak Acha. "Kau cantik banget, Cha..." bisiknya.
Acha mengerutkan dahi. Dia berusaha menjauhkan tangan Bimo dari pundaknya. Sehingga Acha jadi tak sengaja menoleh ke arah Bimo. Keduanya saling bertukar pandang dalam sesaat. Waktu seolah berhenti saat itu juga.
Mira dan Rizal duduk di kursi depan. Mira tiba-tiba menoleh ke belakang dan sukses memergoki kedua anaknya. Wajah Mira yang tadinya sumringah berubah menjadi datar. Ia tentu merasa aneh dengan tatapan yang dipancarkan Acha dan Bimo.
"Acha! Bimo!" Mira segera memanggil. Buru-buru Acha dan Bimo saling menjaga jarak sekaligus mengalihkan pandangan.
"Sebentar lagi kita sampai," ujar Mira dengan senyuman kecut. Dia menatap Rizal seakan ingin bicara. Dirinya akan membicarakan semuanya nanti saat hanya berduaan.
...***...
Orang yang mengadakan pesta amal tidak lain adalah ayahnya Alan. Namanya adalah Afirza Fatih. Dia memang dikenal sosok terpandang dimata masyarakat. Bagaimana tidak? Afirza merupakan gubernur yang memimpin kota.
Sosok Alan jelas adalah seorang putra gubernur yang kaya dan terpandang. Itulah alasan dia tak khawatir dengan urusan jalanan yang dirinya tempati untuk balapan liar.
Alan terlihat semakin tampan dengan balutan jas rapi. Ia sedang duduk bersama dua temannya. Menikmati minuman dan hidangan mewah yang tersedia. Ditambah, Alan memanfaatkan kesempatannya untuk membuli Ezra.
Ya, Ezra juga ada di pesta itu. Tidak seperti Bimo dan Alan, dia mengenakan setelan pelayan dengan dasi kupu-kupu. Dia berjalan bolak-balik dengan wajah cemberut untuk melayani Alan dan kawan-kawan. Kini Ezra baru saja meletakkan hidangan yang di inginkan Alan ke meja. Yaitu steak.
"Apa-apaan! Kenapa lo ngambilin gue steak daging? Gue pengen steak tuna! Ini apa lagi? Cendol? Lo pikir orang sekelas gue makan cendol?" omel Alan yang jelas disengaja karena ingin mengerjai Ezra.
"Jelas-jelas lo tadi nggak bilang mau steak tuna! Lo juga bilang mau minuman yang segar! Kalau mau pesan yang spesifik lah!" balas Ezra. Dia sudah tak tahan dan akhirnya meledak juga. Mengingat sudah hampir lima kali dirinya disuruh bolak-balik oleh Alan hanya untuk mengambilkan makanan.
..._____...
Catatan Author :
Kalian tim siapa guys, Bimo, Alan, atau Ezra? Wkwk. Btw nanti cerita mereka berlanjut sampai dewasa dan kerja. Jadi bisa dibilang ceritanya agak panjang. Kalian tenang aja, konfliknya juga nggak akan berat. Othor mau coba kejar reward 80 rb kata juga sekalian. Penasaran juga sama sistem baru. 😆
__ADS_1