
...༻〇༺...
Acha sudah menunggu Bimo di parkiran. Dia segera menoleh saat melihat Bimo muncul dari kejauhan. Cowok itu tampak mengobrol dengan Citra si ketua OSIS.
Acha mendengus kasar. "Pasti susah kalau punya pacar kayak Kak Bimo. Ada pelakor dimana-mana," keluhnya.
Tak lama kemudian, Bimo berpisah dari Citra. Dia tersenyum ke arah Acha sambil berlari kecil.
"Sorry, udah lama nunggu ya?" tanya Bimo.
"Enggak kok, Kak." Acha menjawab sambil menggeleng. Sikap cerianya selalu muncul saat merasa bahagia.
"Lo itu gemesin banget." Bimo lagi-lagi mengusap puncak kepala Acha. Hal itu otomatis membuat pipi Acha bersemu merah.
"Ayo kita pulang!" ajak Bimo. Dia dan Acha segera masuk ke mobil.
Sesampainya di rumah, Bimo menyuruh Acha untuk masuk lebih dulu. Ia juga tak lupa minta tasnya dibawakan masuk.
"Kak Bimo mau pergi lagi?" tanya Acha.
"Iya, aku harus mengambil motorku ke bengkel. Jadi mulai besok kita naik motor aja. Kau nggak masalah kan?" tanggap Bimo.
Acha langsung menggeleng. "Nggak apa-apa kok, Kak!" jawabnya tanpa berpikir lama.
"Kau itu sepertinya tipe orang yang nggak bisa menolak ya," komentar Bimo.
"Bukan begitu, Kak. Aku beneran nggak masalah. Kalau Kak Bimo ngajak aku mencuri ya pasti aku tolak lah!" balas Acha. Membuat Bimo terkekeh. Cowok itu pergi setelah ojek pesanannya datang.
Acha memandangi Bimo sampai cowok tersebut benar-benar pergi. Dia bersikap seperti melepas kepergian Bimo dalam waktu lama. Acha bahkan melambaikan tangan. Selanjutnya dia segera masuk ke rumah.
Acha langsung mendatangi kamar Bimo. Meletakkan tas ransel cowok itu. Ia juga memanfaatkan kesempatan untuk melihat-lihat kamar Bimo.
"Bau khas Kak Bimo..." gumam Acha seraya mendengus aroma kamar. Ia memejamkan mata karena menyukai bau tersebut.
Atensi Acha terpaku pada buku yang tersusun rapi di lemari dan meja belajar. Dia berdecak kagum.
"Wah... Pantas saja Kak Bimo pintar. Bukunya sebanyak ini," ujar Acha. Ia memeriksa buku-buku yang tersusun di meja belajar.
Ternyata selain menemukan buku, Acha juga menemukan kumpulan kotak hadiah berwarna pink.
__ADS_1
"Ini pasti dari semua penggemarnya. Kak Bimo luar biasa. Belum jadi artis aja penggemarnya udah begini. Apalagi kalau jadi artis," komentar Acha. Dia iseng menghempaskan diri ke ranjang Bimo. Ranjang itu tampak berbalutkan seprei berwarna biru tua dengan gambar lambang klub bola Argentina.
"Selain basket. Kak Bimo juga suka bola." Acha bergumam sambil mengelus seprei yang membalut ranjang Bimo.
Karena terlarut, Acha jadi mengantuk. Dia tak sengaja tertidur di kamar Bimo. Acha tertidur sampai tiga jam lebih.
"Achaaa! Bimo!" suara panggilan Mira terdengar. Hal itu sontak membuat Acha terbangun dari tidurnya. Dia tentu merasa kaget juga. Namun dirinya dibuat semakin kaget tatkala melihat Bimo.
"Kak Bimo!" Acha bergegas turun dari ranjang.
Bimo tergelak. "Udah, tiduran aja. Kau kenapa kayak ketakutan gitu. Aku malah senang melihatmu merasa sudah sangat nyaman denganku," ucapnya.
"Nggak! Bukan begitu, Kak! Aku tadi nggak sengaja--"
"Udah! Bilang aja saking capeknya kau jadi tertidur di sana," potong Bimo menebak.
"Beneran, Kak. Aku nggak bermaksud apa-apa tidur di sini. Aku nggak sengaja. Aku harap Kak Bimo nggak berpikiran aneh-aneh padaku," jelas Acha.
"Itu berarti kau emang kecapekan. Kau tertidur sampai malam loh. Tuh! Lihat keluar jendela. Udah gelap." Bimo menunjuk jendela dengan lirikan matanya.
Acha langsung menoleh ke arah jendela. Benar saja, hari sudah malam. Dia langsung menepuk-nepuk jidatnya sendiri.
"Sekali lagi maaf, Kak! Ini nggak akan terulang lagi." Acha berlari keluar dari kamar dengan kepala tertunduk. Dia malu sekali. Rasanya Acha ingin menyembunyikan wajahnya ke pantat karena saking malunya.
Bimo hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala. Dia sama sekali tak terganggu dengan apa yang dilakukan Acha. Bimo segera keluar untuk menemui Mira.
"Kau duluan aja makan malam. Aku mau panggil Acha dulu," kata Mira saat berpapasan dengan Bimo.
"Iya." Bimo menjawab singkat.
Setibanya di kamar Acha, Mira tidak menemukan putrinya ada di sana. Dia lantas menduga kalau Acha sedang di kamar mandi.
"Cha? Kau di dalam?" tanya Mira.
"Iya, Mah!" sahut Acha.
"Kalau sudah selesai langsung makan malam ke bawah!" suruh Mira. Lalu beranjak pergi.
Di kamar mandi Acha tak berhenti mengeluhkan dirinya sendiri. Ia masih merasa malu dengan apa yang terjadi di kamar Bimo tadi.
__ADS_1
"Acha, Acha, Acha! Lo gila! Itu malu-maluin banget sumpah. Kalau Kak Bimo curiga aku suka sama dia gimana?" gumam Acha sembari mengacak-acak rambutnya. Dia terus mengoceh. Bahkan saat mandi sekali pun.
Acha sengaja mandi berlama-lama agar tidak ikut makan malam. Dia masih terlalu malu berhadapan dengan Bimo.
...***...
Karena Acha tak kunjung mendatangi meja makan, Mira lantas pergi ke kamar putrinya itu lagi. Saat sudah di sana, dia melihat Acha sibuk di meja belajar.
"Kau nggak makan?" tanya Mira.
"Mah, aku harus selesaikan tugas sekolahku. Lagian aku lagi nggak lapar sekarang," sahut Acha sambil berlagak sibuk dengan bukunya.
"Tumben kau begini," komentar Mira. "Ya sudah. Aku akan biarkan malam ini. Tapi jangan dibiasakan!" tukasnya.
"Iyaaa..." Acha menjawab malas. Ia menghela nafas panjang ketika Mira pergi dari kamar.
Acha sengaja menyibukkan diri agar bisa melupakan rasa malunya. Kebetulan dia juga punya PR Matematika yang belum dikerjakan.
Selama berjam-jam Acha mengerjakan PR-nya. Akan tetapi dia selalu menemukan jalan buntu. Padahal soal Matematika yang dikerjakannya hanya lima. Dia kesulitan mengerjakannya karena memang tidak ahli dalam bidak eksak.
Jujur saja, Acha ahli di bidang sastra dan seni. Penghayal sepertinya memang akan sulit menghadapi dunia penuh logika seperti Sains dan Matematika. Butuh waktu berjam-jam baginya untuk menyelesaikan soal-soal dari mata pelajaran tersebut.
"Akhirnya..." Acha sangat senang ketika sudah menemukan jawaban dari soal Matematika. Sayangnya dalam waktu lima jam, dia hanya berhasil mengerjakan satu soal.
Acha lelah dan lapar. Dia memegangi perut sambil keluar dari kamar.
Di lantai bawah beberapa lampu telah dimatikan. Mengingat hari sudah larut malam.
Acha mendatangi dapur. Kebetulan lampu di sana juga dimatikan. Meskipun begitu, Acha masih bisa melihat karena pancaran cahaya lampu dari ruang tengah.
Saat itu telinga Acha mendengar suara aneh dari dalam kamar ibunya dan Rizal. Terdengar seperti erangan wanita dan decitan ranjang. Acha yang tadinya hendak membuka kulkas, tidak jadi melakukannya.
Acha bisa menduga apa yang dilakukan Mira dan Rizal. Terlebih dia bukanlah anak kecil lagi. Pastinya Acha juga sudah belajar mengenai reproduksi manusia saat di sekolah.
"Kau dengar juga?" Bimo tiba-tiba muncul dan langsung berbisik begitu.
"Kak Bimo!" Acha tersentak kaget. Dia reflek menghindar dan tak sengaja menabrak meja makan. Akibatnya, sebuah gelas bergetar dan menimbulkan suara.
Acha nyaris terjatuh karena tersandung kaki meja. Untung saja Bimo sigap memegangi.
__ADS_1