Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 36 - Jebakan Alan [2]


__ADS_3

...༻〇༺...


"Ayo!" Alan menarik tangan Acha begitu saja. Dia membawa gadis itu tanpa adanya persetujuan.


Sejak Acha dan Alan mengobrol di ruang tengah, Ezra mengamati. Cowok itu kebetulan ada di sana karena harus mengambil sesuatu ke dapur. Namun Ezra beranjak pergi sebelum menyaksikan Acha dan Alan masuk ke kamar.


Kini Acha sudah berada di kamar Alan. Saat dia hendak bicara karena ingin segera keluar, Alan angkat suara lebih dulu.


"Tunggu di sini. Aku mau keluar sebentar," ujar Alan seraya beranjak keluar kamar.


"Tapi, Kak--" ucapan Acha terpotong ketika Alan sudah terlanjur pergi. Cewek itu sekarang sendiri. Dia melihat-lihat keadaan kamar Alan yang luas.


"Wah, dia benar-benar anak gubernur. Kamarnya gede banget," komentar Acha. Dia terdiam dan berpikir. Terutama mengenai alasan Alan membawanya ke kamar.


"Jangan-jangan alasan dia ngajak gue ke kamar karena pengen melakukan itu?" gumam Acha. Menduga Alan akan mengajaknya berhubungan intim.


Pupil mata Acha membesar. Dia buru-buru keluar dari kamar. Akan tetapi tidak jadi karena melihat ada orang tua Alan yang keluar dari lift. Acha terpaksa kembali masuk ke kamar untuk bersembunyi.


Di sisi lain, Alan mendatangi dapur. Di sana kebetulan dia bertemu dengan Ezra.

__ADS_1


"Eh, babu! Kotak obat disimpan dimana?" tanya Alan.


Ezra yang sejak tadi berdiri membelakangi Alan, segera menoleh. "Mau ngapain?" balasnya yang malah berbalik tanya.


"Bukan urusan lo! Cepat ambil!" perintah Alan seraya duduk ke kursi. Ia duduk dengan meletakkan salah satu kakinya ke atas lutut. Duduk bak gaya seorang raja.


Ezra menuruti keinginan Alan. Dia segera mengambilkan kotak obat. Sambil melangkah, Ezra memikirkan niat Alan terkait obat yang sedang dibawanya.


"Apa Acha sakit?" tanya Ezra yang sudah memberikan kotak obat pada Alan.


Alan menarik sudut bibirnya ke atas. "Dia sakit perut," sahutnya berbohong. Dia segera mencari obat yang di inginkannya dari kotak.


"Bukannya lo banyak kerjaan? Pergi sana!" usir Alan.


"Gue tahu lo nggak akur sama Bimo. Tapi kayaknya Acha bukan orang yang pantas buat dijadikan kambing hitam. Lo pacaran sama Acha bukan karena Bimo kan?" tukas Ezra serius.


Mata Alan semakin menyalang. Dia menarik kerah baju Ezra. "Lo itu bukan siapa-siapa? Berani ya ngatur-ngatur gue! Sekarang lo mending pergi!" geramnya sambil mendorong kasar Ezra.


Ezra hanya bisa mendengus kasar. Dia lantas pergi dari hadapan Alan. Namun tanpa sepengetahuan Alan, Ezra bersembunyi ke tempat dirinya masih bisa mengamati.

__ADS_1


Ternyata setelah dilihat, Alan tidak mengambil obat sakit perut sama sekali. Melainkan obat tidur. Hal itu otomatis membuat Ezra curiga.


Setelah mendapatkan obat yang dicari, Alan mengambil segelas minuman. Ia tak lupa memasukkan obat tidur ke sana. Lalu kembali ke kamar. Ia menemui Acha di sana.


"Apa orang tua Kak Alan masih ada di luar?" tanya Acha.


Alan mengerutkan dahi. "Orang tuaku?"


"Iya. Aku tadi ingin keluar, tapi tidak jadi karena ada mereka. Takutnya nanti mereka berpikir yang tidak-tidak sama kita," jelas Acha.


"Mereka masih ada duduk di sofa!" ucap Alan yang lagi-lagi adalah kebohongan. Ia tahu Acha akan pergi dari kamar kalau dirinya bilang orang tuanya tidak ada.


"Ah, begitu..." Acha menundukkan kepala sambil duduk ke tepi ranjang. Dia jadi gelisah sendiri. Acha merasa terjebak dengan rencananya sendiri.


"Aku mau keluar, Kak. Keluargaku pasti mencariku," ungkap Acha.


Alan duduk ke sebelah Acha. "Nanti kita keluar. Nih! Minum dulu," tawarnya sembari menyodorkan minuman yang sudah terkontaminasi obat tidur.


Niat Alan sekarang adalah ingin membuat Acha jatuh tertidur. Saat itulah dia akan melepas baju gadis tersebut. Membuat skenario seolah-olah dirinya sudah meniduri Acha. Setelah rencana itu nantinya berhasil, Alan akan langsung memutuskan hubungannya dengan Acha. Alan yakin, dengan begitu Acha akan menderita dan Bimo pasti akan frustasi.

__ADS_1


"Makasih," ucap Acha sambil menerima minuman dari Alan.


__ADS_2