
...༻〇༺...
Acha menghampiri Ezra. Dia memperhatikan cowok itu dengan seksama. Memastikan apakah cowok yang dilihatnya sekarang benar Ezra atau bukan.
Merasakan kehadiran Acha, Ezra langsung menoleh. Dia berdiri sambil mengerutkan dahi.
"Sialan! Mau ngapain lo!" tukas Ezra.
"Ternyata benar Kak Ezra," ucap Acha.
"Apa?! Jangan bilang lo udah ngaduin ke guru mengenai apa yang gue lakukan di sini!" tebak Ezra yang terkesan sinis.
"Enggak." Acha lekas menggeleng. "Aku memang benci sama cowok perokok. Tapi aku nggak tahu kenapa pas lihat Kak Ezra aku nggak risih sama sekali. Aku lihatnya Kak Ezra pakai rokok karena ingin melepas stres. Bukan karena kebiasaan atau kecanduan," jelasnya panjang lebar.
"Sok tahu lo! Pergi sana!" hardik Ezra. Dia memutar tubuh untuk membelakangi Acha. Lalu menghisap rokoknya.
Di sisi lain, Sitha keluar dari toilet. Dia mengira Acha sudah pergi duluan ke kelas. Gadis itu lantas pergi tanpa tahu dimana keberadaan temannya.
Acha sendiri masih berada di belakang sekolah. Dia tidak pergi meski Ezra mengusirnya. Acha malah duduk ke atas meja. Ia menikmati angin yang berhembus.
"Lo kenapa masih di sini?!" timpal Ezra.
"Aku tahu kenapa Kak Ezra memilih nongkrong di sini. Ternyata suasana dan udaranya enak," sahut Acha.
Ezra terkekeh. "Jadi maksudnya lo suka udara yang terkontaminasi asap rokok?" balasnya.
"Asap rokokmu nggak terbang ke arahku kok. Tuh lihat! Asapnya ngikutin angin." Acha menunjuk ke arah asap rokok yang berhembus mengikuti angin.
__ADS_1
Ezra membisu. Dia terdiam cukup lama. Sampai akhirnya berkata, "Btw, bagaimana lo bisa kenal sama Alan?"
"Kak Alan? Aku kenal dia pas cari Kak Bimo," sahut Acha seraya mengayunkan dua kakinya yang menjuntai.
"Lo suka sama dia?" tanya Ezra.
Mendengar hal itu, Acha mengernyitkan kening. Ia memicing penuh curiga. "Kenapa Kak Ezra mau tahu?" selidiknya.
Pupil mata Ezra membesar. Dia sedikit terkejut dengan kecurigaan Acha.
"I-itu karena--"
"Hei kalian! Apa yang kalian lakukan berduaan di sini?!" ucapan Ezra terpotong karena kedatangan seorang guru. Guru itu berhasil memergoki Ezra dan Acha. Keduanya segera dibawa ke ruang BK.
"Astaga... Gimana nih..." gumam Acha yang takut. Sebab ini pertama kalinya dia dibawa ke ruang BK. Ruang horor bagi murid normal seperti Acha. Gadis itu terus menunjukkan kekhawatirannya sambil melangkah bersama Ezra.
"Aku takut dihukum... Kita nggak akan dihukum kan?" perkataan Ezra bagaikan angin lalu di telinga Acha. Dia begitu karena takut akan dihukum.
Ezra hanya memutar bola mata jengah. Dia tidak menanggapi ucapan Acha lagi.
Sesampainya di ruang BK, Ezra dan Acha disuruh duduk menunggu. Tak lama kemudian Bu Riska datang.
"Ezra... Ada apa denganmu akhir-akhir ini?" ujar Bu Riska. Selanjutnya, dia menatap ke arah Acha. "Dan kau! Kau itu perempuan kenapa merokok?" timpalnya.
"Acha nggak salah, Bu. Dia cuman duduk di sana. Orang yang merokok hanya aku," ungkap Ezra yang tampak tenang.
Acha langsung menatap Ezra. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya Acha sejak tadi sengaja tidak membela diri karena tak mau menyudutkan Ezra. Akan tetapi cowok itu justru melakukan pengakuan sendiri.
__ADS_1
"Apa benar itu, Cha?" Bu Riska lantas bertanya pada Acha untuk meyakinkan.
"Em..." Acha bingung. Ia melirik ke arah Ezra. Cowok tersebut tampak menatapnya dengan serius.
Acha terdiam karena berusaha memutuskan. Dia bisa saja membenarkan perkataan Ezra. Apalagi apa yang dikatakan cowok itu adalah fakta. Namun Acha juga merasa tidak enak membiarkan Ezra dihukum sendirian. Terlebih dirinya juga masih merasa bersalah dengan yang terjadi pada Ezra di jalan tempo hari. Akibat rasa kepedulian itu, Acha bahkan membuang segala rasa takutnya.
"Aku memang tidak merokok, Bu! Tapi aku ada di sana karena... Karena..." Acha meragu untuk melanjutkan. Meskipun begitu, dia tetap melanjutkan karena tak punya pilihan lain.
"Karena apa?" Bu Riska menuntut jawaban. Ezra bahkan terus menatap Acha karena merasa penasaran juga.
"Karena aku dan Kak Ezra berpacaran!" kata Acha. Membuat mata Ezra membulat sempurna.
"Acha!" seru Ezra menegur. Dia tak paham kenapa Acha tiba-tiba mengaku begitu. Alhasil dirinya dan Acha sama-sama mendapat hukuman. Mereka disuruh membersihkan toilet selama satu minggu lamanya. Nanti pulang sekolah keduanya akan langsung melakukan hukuman tersebut.
Kini Acha dan Ezra keluar dari ruang BK. Ezra langsung menyeret Acha ikut dengannya.
Bertepatan dengan itu, Bimo melihat dari kejauhan. Dia tentu cemas menyaksikan Acha keluar dari ruang BK. Terutama saat melihat Acha tidak sendiri.
Ezra membawa Acha jauh dari keramaian. Ia terlihat marah.
"Apa-apaan lo! Apa susahnya bicara jujur sih!" timpal Ezra.
"Itu karena aku nggak tega lihat Kak Ezra dihukum sendiri! Anggap saja ini sebagai permintaan maafku dengan yang terjadi di jalan tempo hari," sahut Acha.
"Eh! Lo nggak salah sama sekali! Lagian Alan memang sudah biasa memperlakukan gue begitu! Dan satu hal lagi. Gue bisa mengurus masalah gue sendiri. Lo jangan ikut campur!" Ezra mengacungkan jari telunjuk ke wajah Acha. Dia terlihat begitu murka.
Dari belakang, Bimo tiba-tiba muncul. Ia langsung menarik kerah baju Ezra. "Beraninya lo marahin adik gue!" geramnya.
__ADS_1