Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 18 - Badboy Lainnya


__ADS_3

...༻〇༺...


Alan kembali dengan membawa motornya. Dia berhenti tepat di hadapan Acha. Kala itu, Acha bisa melihat dari kejauhan seluruh anggota geng motor Alan menatap ke arahnya.


"Kenapa mereka ngelihatin gue begitu?" tanya Acha yang merasa terancam.


"Santai aja. Mereka memang selalu kepo sama cewek yang gue dekatin," jawab Alan.


"Maksud lo?" Acha menuntut penjelasan.


"Nggak ada. Lupain aja. Ayo naik!" titah Alan.


Acha sempat terdiam cukup lama. Dia tentu ragu untuk mempercayai cowok seperti Alan. Tetapi di sisi lain dirinya juga penasaran dengan dimana Bimo sekarang. Kemungkinan besar orang yang paling tahu dimana cowok itu adalah Alan.


"Masih mikir aja lo. Cepetan! Nanti keburu malam," desak Alan.


Acha akhirnya memutuskan naik ke motor Alan. Dia juga berusaha menjaga jarak dari cowok tersebut.


"Kenalin gue Alan. Lo?" tanya Alan seraya menjalankan motornya.


"Panggil aja gue Acha," sahut Acha datar. Dia sama sekali tak tertarik membangun percakapan panjang dengan Alan.


"Jutek amat," komentar Alan sambil terkekeh. Selanjutnya, dia berseringai dan melajukan motor.


Acha sontak kaget. Duduknya jadi tersentak maju. Dia reflek berpegangan ke pundak Alan.


"Lo gila! Jangan ngebut!" pekik Acha.


"Tapi kalau nggak ngebut, nggak menantang!" Alan balas memekik. Akibat suara desiran angin yang keras saat berkendara, dia tentu harus bicara dengan suara lantang.


"Kalau begitu, berhenti! Turunin gue! Gue takut!" teriak Acha dengan raut wajah seperti akan menangis.


"Percaya aja sama gue. Gue ini udah berpengalaman!" tanggap Alan santai.


"Plis turunin gue..." Acha sudah merengek seperti balita.


Alan tak bisa menahan tawa. Ia tergelak dan segera memelankan motornya.


"Lo lucu banget. Orang-orang pasti nggak bakalan nyangka lo adiknya Barakuda," tukas Alan.

__ADS_1


"Gue nggak akan lupain yang tadi!" Acha memukul keras punggung Alan. Dia sangat kesal dengan cowok itu. "Lo pasti sengaja kan bikin gue takut? Atau lo sengaja mau bunuh gue?" timpalnya.


"Mana mungkin gue tega," bantah Alan.


"Ya tega lah! Gue kan adiknya Bimo! Gue tahu lo itu nggak akur sama dia," balas Acha.


"Sorry deh kalau itu tadi udah bikin lo takut," ungkap Alan sambil melirik ke arah Acha melalui kaca spion. "Kita bentar lagi sampai," imbuhnya.


Tak lama kemudian, Alan menghentikan motornya. Dia berhenti di pinggir jalan.


Acha mengerutkan dahi. Dia tidak melihat apapun di sana. Apalagi Bimo.


"Kita dimana? Lo bawa gue kemana?" tanya Acha.


Alan turun dari motor sambil melepas helmnya. Dia memutar tubuh Acha menghadap ke seberang jalan. Di sana terlihat ada sebuah tempat billiard besar.


"Tuh! Gue sering lihat Bimo pergi ke sana," ucap Alan sembari menunjuk tempat billiard yang tampak megah itu.


"Tempat billiard? Itu sejenis game sundul bola kan? Yang pakai tongkat?" tanya Acha dengan mimik wajah polosnya.


Alan tak bisa menahan senyum. Dia mengangguk dan berucap, "Itu memang tempat billiard. Tapi bukan tempat billiard biasa."


"Mau masuk dan melihat?" ajak Alan.


"Tapi Kak Bimo beneran ada di sana?" Acha meragu.


"Kalau nggak di cek kan kita nggak tahu." Alan mengangkat dua bahunya bersamaan.


"Ya udah kalau gitu," ujar Acha setuju. Dia menatap ke arah motor Alan. "Terus motor lo gimana? Di parkir di sini aja?"


"Enggaklah! Lo pikir gue bodoh? Itu namanya sama aja ngasih makan sama maling." Alan segera menaiki motornya. Kemudian membawanya ke parkiran tempat billiard.


Saat di parkiran, Acha dan Alan menemukan motor Bimo. Keduanya bertukar pandang.


"Lo benar! Itu motornya Kak Bimo kan?" Acha memastikan.


"Seratus persen. Gue kenal banget sama motornya," tanggap Alan. Dia dan Acha segera mengenakan masker dan topi. Lalu masuk ke dalam tempat billiard. Tempat itu sendiri berupa gedung bertingkat tiga.


Ketika masuk, musik langsung menyambut. Suasana di dalam juga begitu minim dengan pencahayaan. Acha juga melihat pekerja wanita di sana berpakaian seksi.

__ADS_1


"Katanya gedung ini punya temannya Bimo. Mereka menjadikan tempat ini sebagai markas geng motor," jelas Alan sambil berjalan bersama Acha. Keduanya diam-diam menyelinap masuk ke area lebih dalam gedung billiard.


"Tempatnya seram," komentar Acha.


"Lebih seram kalau lo tahu sisi gelap tempat ini," sahut Alan.


"Emang ada apa?" Acha semakin dibuat penasaran. Langkahnya dan Alan terhenti saat melihat sosok Bimo dari kejauhan. Cowok itu duduk di sofa bersama teman-temannya.


"Lihat aja sendiri," ucap Alan.


Acha lantas memperhatikan apa yang dilakukan Bimo. Atensinya tertuju ke meja terlebih dahulu. Acha melihat ada beberapa botol minuman keras dan rokok. Selain itu, mata Bimo juga tampak merah seperti tempo hari. Cowok tersebut menyandar ke sofa. Di pundaknya terlihat ada Arlin yang menyandarkan kepala sambil memeluk.


"Gimana? Lo mau ketemu sama Bimo?" tanya Alan.


Acha tak menjawab. Dia pergi begitu saja dengan langkah laju.


"Sial!" Alan memaki. Dia terpaksa mengejar Acha.


"Lo kenapa pergi? Aneh!" tukas Alan dari belakang. Dia dan Acha sudah keluar dari tempat billiard.


Acha mendengus kasar. Dia memutar tubuhnya menghadap Alan. Menunjukkan wajahnya yang berlinang air mata.


"Gue nggak nyangka Kak Bimo ternyata seburuk itu..." isak Acha.


Alan memutar bola mata jengah. "Begitulah dia. Lo baru tahu?" tanggapnya.


"Gue berharap bisa melakukan sesuatu agar dia bisa berhenti melakukan semua keburukan itu..." ungkap Acha seraya menghapus air mata. Dia berhenti menangis dan menenangkan diri.


"Ya udah. Kita pulang aja. Gue antar lo," ajak Alan.


Acha mengangguk. Dia dan Alan segera menghampiri motor. Bertepatan dengan itu, Acha mendadak mendapat panggilan alam.


"Tunggu bentar. Gue mau ke toilet dulu ya." Acha kembali berlari memasuki tempat billiard.


Saat itulah Alan menunjukkan ekspresi kesalnya. Sejak tadi dia sebenarnya berusaha menahan emosi. Beberapa menit kemudian, Alan mendapat telepon.


Tanpa sepengetahuan Alan, Acha datang mendekat dari belakang. Cewek itu terdiam saat mendengar pembicaraan Alan.


"Gue kayaknya butuh waktu lebih lama untuk dekatin adiknya Barakuda. Sumpah! Saat bareng dia gue serasa nahan muntah. Maksain diri buat senyum itu rasanya susah banget. Sialan! Sifatnya mirip keponakan balita gue!" ujar Alan bicara di telepon.

__ADS_1


__ADS_2