Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 63 - Season 2 [Perubahan Ezra]


__ADS_3

...༻⊛༺...


Mata Alan melotot tajam ke arah Ezra. Hal serupa juga tampak dilakukan Ezra. Keduanya jelas saling mengenal tetapi sama-sama memiliki kebencian luar biasa.


"Sial!" Alan mengumpat sambil kembali melangkah. Dia tidak menghiraukan Ezra sama sekali. Begitu pun sebaliknya.


Alan dan Ezra memang memiliki hubungan tidak baik. Kebetulan ibunya Ezra adalah selingkuhan ayahnya Alan. Itulah alasan kenapa Alan sangat membenci Ezra.


Berbeda dengan Ezra. Awalnya dia tidak membenci Alan. Namun karena lelaki itu mengungkap perselingkuhan orang tua mereka ke publik, Ezra jadi membenci Alan. Kehidupan Ezra dan ibunya jadi sulit karena harus menerima cacian dari banyak orang. Mengingat ayahnya Alan adalah gubernur.


Ketika sudah di mobil, Alan memberitahu pengawalnya untuk mencari tahu perihal Ezra. Dia ingin mengetahui apakah Ezra bekerja di rumah sakit yang sama dengan Acha.


Di sisi lain, Ezra mencari tahu sendiri perihal kedatangan Alan. Diam-diam dia memeriksa berkas milik dokter senior.


Tanpa diduga, Acha muncul dari balik pintu. Dia sukses memergoki Ezra.


"Ngapain tuh?!" tegur Acha.


Ezra sontak kaget. Dia buru-buru berhenti memeriksa berkas, lalu menunjukkan ekspresi normal.


"Apa pedulimu?!" balas Ezra.

__ADS_1


"Ya pedulilah. Itu kan berkas punya Dokter Bima!" sahut Acha.


"Bukan urusanmu." Ezra memilih beranjak. Dia sengaja melarikan diri dengan cara begitu. Acha lantas tak bisa berkata-kata lagi.


...***...


Waktu menunjukkan jam lima sore. Kini Acha sedang berjalan menuju asrama. Langkahnya terhenti ketika menyaksikan ada seorang gadis di depan kamar Ezra. Gadis itu masuk ke kamar ketika pintu dibuka oleh Ezra.


Acha tercengang melihatnya. Mengingat dia tahu kalau Ezra bukanlah lelaki liar.


"Ezra benar-benar berubah setelah beberapa tahun ini," gumam Acha yang sudah menyimpulkan lebih dulu. Dia bahkan tak lagi memanggil Ezra dengan sebutan kakak.


"Terkadang jadi jomblo itu benar-benar membosankan," keluh Acha dengan pundak melemah.


Bertepatan dengan itu, ponselnya berdering. Ada sebuah nomor tak dikenal yang menelepon. Namun Acha memutuskan mengangkat panggilan tersebut.


"Halo? Siapa ya?" tanya Acha.


"Ini dengan Acha kan?" suara lelaki diseberang telepon justru berbalik tanya.


"Iya. Ini si--"

__ADS_1


"Syukurlah. Senang bisa mendengar suara dokterku," potong lelaki tersebut.


"Apa?" Acha mengerutkan dahi. Jujur saja, dia merasa tidak asing dengan suara lelaki yang menelepon. Setelah mengingat-ingat, Acha akhirnya menduga kalau lelaki itu adalah Alan.


"Apa ini Kak Alan?" tanya Acha.


"Kau sepertinya sangat mengenalku. Ya, ini aku. Tak butuh waktu yang lama untuk menemukan nomormu," sahut Alan.


"Lalu kalau sudah dapat nomorku, kau mau apa?"


"Tentu saja ingin tahu lebih banyak tentangmu."


"Maaf, tapi posisimu sekarang adalah sebagai pasienku."


"Aku tahu. Tapi kau dokter koas bukan? Aku rasa itu tak masalah."


"Justru sangat masalah! Karena orang-orang akan menyebutku tidak profesional." Acha membantah keras. "Berhentilah menggangguku dan bersikap saja seperti pasien pada umumnya!" tegasnya yang langsung mematikan telepon lebih dulu.


Acha membanting ponsel ke ranjang. Dia berjalan keluar kamar karena ingin mencari udara segar. Tanpa diduga, di luar ada Ezra yang duduk sambil menikmati rokok.


"Wah! Tadi perempuan, sekarang rokok. Kau benar-benar berubah drastis dibanding saat SMA," tukas Acha. Menatap risih Ezra.

__ADS_1


__ADS_2