Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 7 - Adik Arum Manis


__ADS_3

...༻〇༺...


"Pssst!" Selain sigap menangkap badan Acha, Bimo juga reflek memposisikan jari telunjuk di depan bibir.


Mata Acha terbelalak. Dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan dua tangan. Acha rasanya nyaris terkena serangan jantung.


"Kau pasti kelaparan kan?" tebak Bimo. Karena tinggal satu atap, dia tentu tahu tadi Acha tidak makan malam.


Acha mengangguk dengan kikuk. Rasanya dia kesulitan bicara sekarang. Berduaan di kegelapan bersama orang yang disuka, membuatnya jadi gugup.


Bimo berjalan menghampiri lemari dapur dekat wastafel. Di sana dia mengambil dua roti tawar. Selanjutnya, Bimo membuat roti dengan selai kacang dan roti selai stroberi.


"Bisa lihat nggak, Kak? Mau dinyalakan saja lampunya?" tanya Acha.


"Nggak perlu. Cuman bikin beginian doang kok!" cicit Bimo.


"Aku ambilkan minumannya ya. Kak Bimo mau minuman apa?" tanya Acha dengan nada suara yang begitu pelan. Dia dan Bimo sudah seperti maling saja.


"Ambilkan minuman jeruk saja untukku," jawab Bimo.


Acha mengangguk. Lalu segera membuka kulkas. Dia mengambil susu dan minuman rasa jeruk dari sana. Setelah selesai, Acha dan Bimo pergi meninggalkan dapur. Mereka sekarang berada di teras dekat kolam renang. Keduanya menikmati makanan dan minuman masing-masing.


"Sorry ya. Aku cuman bisa bikinkan roti. Soalnya kalau masak, nanti bokap dan nyokap tahu kita belum tidur," celetuk Bimo.


"Nggak apa-apa. Ini bikin aku kenyang kok," tanggap Acha.


Bimo hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Dia merasa Acha selalu baik-baik saja dengan apa yang dilakukannya.


"Kau tahu apa yang dilakukan kedua orang tua kita sekarang kan?" tanya Bimo.


Wajah Acha seketika memerah. "Kak Bimo ngapain nanya itu sih? Aku nggak mau membicarakan hal begituan," balasnya.

__ADS_1


Bimo terkekeh. "Cie... Malu... Emang mereka lagi ngapain, Cha?" Bimo sepertinya sengaja menggoda Acha.


"Dih! Kak Bimo." Acha menepuk pelan pundak Bimo. Menyuruh cowok itu untuk segera diam. Wajahnya semakin memerah.


"Hahaha! Kau lucu banget, Cha. Polos banget," komentar Bimo. Dia merasa gemas. Untuk yang kesekian kalinya Bimo mengusap puncak kepala Acha.


"Apanya yang lucu? Nggak ada yang lucu." Acha membuang muka karena terlalu malu.


"Kaulah yang lucu. Manis banget kayak permen arum manis," ungkap Bimo.


Acha tersenyum. Dia sebenarnya senang bisa sering menghabiskan waktu bersama Bimo.


"Kak Bimo kenapa belum tidur? Ini udah larut malam banget," tanya Acha.


"Cowok tuh wajar tidur malam. Yang aneh itu cewek yang belum tidur pas waktu hampir tengah malam," sahut Bimo. Menyindir Acha.


"Aku lagi ada PR Matematika, Kak. Susah banget! Orang kayak aku butuh waktu lima jam untuk jawab satu soal," keluh Acha. Ia menghembuskan nafas dari mulut. Merasa lelah dengan apa yang dibicarakannya.


"Yang benar? Kapan PR-nya dikumpul ke guru?"


"Kalau begitu, mungkin aku bisa bantu. Nanti besok sore kita belajar bareng," ujar Bimo.


Mata Acha membulat penuh semangat. "Serius, Kak?" tanyanya memastikan.


"Ya iyalah. Masa aku nggak serius sama adik yang manisnya kayak arum manis ini," tanggap Bimo.


"Wah... Makasih ya, Kak!" Acha kegirangan. Hanya makan roti dan mengobrol dengan Bimo, perutnya merasa sudah kenyang.


...***...


Pagi telah tiba. Usai sarapan, Acha dan Bimo pergi ke sekolah bersama. Mereka kali ini menaiki motor.

__ADS_1


"Pegangan yang erat ya, Cha!" titah Bimo.


"Iya, Kak!" jawab Acha sembari naik ke motor. Saat sudah duduk, dia kebingungan harus berpegangan kemana. Sebenarnya ini pertama kalinya Acha diboncengi menggunakan motor. Mengingat sejak kecil dia selalu di antar pergi pulang sekolah menggunakan mobil.


"Pegangannya kemana ya, Kak?" tanya Acha kebingungan.


Bimo lagi-lagi dibuat tergelak karena Acha. "Terserahmu aja, Cha. Pegangan sama aku juga boleh," ucapnya.


"Apa?" Acha agak terkejut.


Tanpa aba-aba, Bimo menjalankan motornya. Acha lantas tak punya pilihan selain berpegangan ke pinggang Bimo. Ia juga sangat kesulitan dengan rok abu-abunya yang berkibar karena diterpa angin.


'Sabar... Meski sulit, gue harus terbiasa sama ini,' batin Acha. Dia menenangkan diri dengan menghela nafas panjang. Acha merasa lega saat dirinya dan Bimo sudah sampai di sekolah.


"Sampai ketemu sore nanti. Aku sudah menyuruh Pak Norman untuk menjemputmu," ucap Bimo.


"Pak Norman? Emang Kak Bimo nggak pulang?" tanya Acha.


"Aku ada urusan. Biasalah masalah OSIS dan juga hal lainnya," jelas Bimo. Memberikan alasan.


"Oh begitu." Acha mengangguk mengerti.


Waktu berlalu cepat. Ketika jam pulang telah tiba, Acha berdiri di depan gerbang sekolah. Dia menunggu jemputan sopirnya.


Dari kejauhan, Acha bisa melihat Bimo yang duduk di motornya. Cowok itu terlihat tidak sendiri. Dia tampak bersama teman-temannya yang juga menggunakan motor sport sepertinya. Bahkan ada beberapa cowok yang mengenakan seragam berbeda dengan seragam sekolah Bimo.


"Kak Bimo supel banget. Hidupnya perfect banget. Apa dia manusia? Kekurangannya apa sih?" gumam Acha. Dia merasa Bimo tidak memiliki kekurangan sedikit pun.


Bersamaan dengan itu, Pak Norman datang. Acha segera masuk ke mobil dan pulang.


Sesampainya di rumah, Acha langsung makan siang dan berganti pakaian. Dia sudah tidak sabar ingin belajar bersama Bimo. Saking semangatnya, Acha sampai duduk di depan jendela. Menanti kedatangan Bimo.

__ADS_1


Saat dua jam lebih berlalu, barulah Bimo datang. Acha sontak bergegas berdandan ke depan cermin. Ia mengenakan lipstik dan bedak tipis. Tak lupa juga merapikan baju dan rambutnya yang berantakan. Acha cukup lama melakukannya karena terlalu terbawa suasana.


Sementara itu, dari depan pintu ada Bimo yang berdiri. Diam-diam dia memperhatikan Acha dari pintu yang sedikit terbuka. Bimo lagi-lagi dibuat geli karena tingkah Acha yang begitu lucu. Senyuman mengembang di wajah cowok itu.


__ADS_2