Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 47 - Pelukan Acha


__ADS_3

...༻〇༺...


Kini Acha sedang dalam perjalanan bersama Ezra dan Alan. Ia duduk di paling kanan dan Ezra duduk di kursi bagian kiri. Sedangkan Alan, dibiarkan duduk di tengah.


"Ini Kak! Kau pasti kedinginan juga," ujar Acha. Dia melepaskan jaket Ezra dan mengembalikan kepada pemiliknya.


"Nggak usah!" tolak Ezra sambil membuang muka. Meski terkesan tak acuh, penolakannya merupakan kepedulian. Ezra ingin Acha mengenakan jaketnya kembali. Sehingga gadis tersebut tidak jatuh sakit.


Acha hanya mendengus kasar saat melihat reaksi Ezra. Ia memeluk jaket cowok itu agar merasa lebih hangat.


Bersamaan dengan itu, Alan terbangun. Kebetulan kepalanya menghadap ke arah Ezra. Sehingga sosok yang pertama kali dia lihat adalah cowok tersebut.


Alan memasang tatapan tajam. "Ngapain lo!" timpalnya garang. Namun Ezra memilih bungkam.


"Kak Alan!" panggil Acha. Membuat Alan sontak menoleh ke arahnya.


"Lo! Pasti lo kan yang manggil keparat ini?!" Alan mengomel dalam keadaan wajah pucat. Bibirnya tampak kering dan agak membiru. Tetapi dia masih saja berlagak seperti jagoan.


"Sudah. Mending lo tenang sekarang. Kondisi lo sedang nggak memungkinkan buat marah," ucap Ezra pelan.


"Bacot lo ya! Gue mau keluar sekarang!" Alan keras kepala. "Berhenti, Pak!" ujarnya kepada sopir taksi.


"Jangan, Pak! Terus jalan!" seru Acha.


"Iya, Pak! Terus jalan!" Ezra sepemikiran dengan Acha. Mengingat di luar masih hujan. Demam yang diderita Alan bisa bertambah parah.


"Nggak! Hentikan taksinya, Pak! Nanti kubayar dua kali lipat!" Alan tetap tak mau kalah. Bahkan ketika ada dua orang yang mencoba menghalangi.


"Em, anu. Jadi yang benar yang mana nih? Berhenti atau terus?" Sang sopir taksi sontak kebingungan. Dia memperlambat kelajuan kemudinya.

__ADS_1


"Terus!"


"Berhenti!"


Acha dan Ezra menjawab bersamaan. Begitu pun Alan. Namun Alan satu-satunya orang yang menyebut kata berhenti.


"Teman kami yang di tengah sedang sakit, Pak. Dia juga keras kepala. Kalau taksinya berhenti, dia akan memaksakan diri keluar. Bapak tadi--"


"Lo bisa diam nggak!" Alan memotong ucapan Ezra. Dia kembali fokus bicara pada sopir taksi. Mencoba membujuk lelaki paruh baya itu untuk berhenti.


Akan tetapi si sopir taksi tidak bersedia berhenti. Dia sepertinya berada di pihak Ezra dan Acha. Hal tersebut membuat Alan gusar.


"Oke kalau ini mau kalian! Minggir, Cha!" Alan nekat mengambil posisi duduk Acha. Ia berniat ingin keluar di saat taksi masih dalam keadaan berjalan.


"Lan! Lo gila!" Ezra berupaya menghentikan. Namun Alan sigap menjauhkan tangan Ezra.


"Jangan, Kak!" Kini Acha yang mencoba menghentikan. Terlebih posisinya berada paling dekat dengan Alan. Awalnya dia hanya mencengkeram pergelangan tangan cowok itu.


"Jangan begini, Kak. Aku mohon..." Acha berhenti mencengkeram lengan Alan. Dia justru memeluk cowok itu sambil menangis.


Alan mematung. Pelukan Acha berhasil membuatnya tidak jadi nekat keluar dari taksi.


"Aku nggak mau lihat kau kenapa-napa..." isak Acha. Dia merasa takut sekaligus cemas.


Mata Alan mengerjap cepat. Wajah pucatnya seketika dihiasi oleh rona merah. Cowok mana yang tidak salah tingkah saat menerima perhatian cewek seperti itu.


"Apaan sih. Sampai nangis segala. Ya udah gue nggak jadi keluar. Lebay banget," ucap Alan. Tanpa berani menatap ke arah Acha dan Ezra. Dia benar-benar salah tingkah sekarang.


Sementara Ezra, sejak tadi dia memilih diam. Dia merasa lega menyaksikan Alan tidak jadi mempertaruhkan nyawa keluar saat taksi masih dalam keadaan berjalan. Tetapi di sisi lain, Ezra merasa cemburu melihat Acha memeluk Alan. Ia lantas hanya bisa membuang muka layaknya Alan.

__ADS_1


"Udah nangisnya? Sekarang bisa lepasin gue nggak?" imbuh Alan. Terutama ketika mendengar tangisan Acha mulai mereda.


"Maaf, Kak..." Acha perlahan melepas pelukannya. Lalu mengusap air mata yang berjatuhan di wajah.


"Ngomong-ngomong tujuan kita kemana? Bukan rumah gue kan?" tanya Alan. Mendelik ke arah Ezra.


"Nggak. Gue tahu kok lo nggak mau pulang," sahut Ezra.


"Terus kita kemana?" Alan menuntut jawaban.


"Ke rumah kontrakan gue," jawab Ezra. Dia sekarang memang tinggal di rumah Alan. Namun Ezra terkadang tidur di rumah kontrakan. Itu semua dia lakukan karena seringkali tidak tahan dengan suasana di rumah Alan. Apalagi saat Alan terus berusaha menindasnya.


"Apa? Rumah kontrakan lo? Nggak! Gue nggak mau! Nggak sudi gue!" tolak Alan sambil memeluk tubuhnya. Jujur saja, sejak tadi dia mencoba menahan rasa tidak enak di tubuhnya. Alan masih saja memaksakan diri untuk bersikap kurang ajar. Terlebih pada orang yang sudah bersedia menolongnya.


Setelah penolakan Alan terucap, taksi berhenti karena sudah tiba di tempat tujuan.


"Ayo! Kebetulan di rumah gue punya obat demam." Ezra tak peduli dengan penolakan Alan. Dia keluar lebih dulu dari taksi.


"Ayo, Kak." Acha segera menyusul Ezra.


"Kalau gue bilang nggak, ya nggak!" kata Alan. Membuat Acha urung turun dari taksi. Ia menatap cowok itu dengan nanar.


Deg!


Jantung Alan berdegup kencang tatkala menerima tatapan Acha itu. Dia berpikir Acha akan memeluknya lagi. Alhasil wajah Alan kembali memerah.


"Ya udah. Gue turun!" Alan segera keluar dari taksi. Bahkan ketika Acha belum sempat mengatakan apapun. Gadis tersebut lantas tersenyum dan menyusul keluar.


Dengan terpaksa Alan mengikuti Ezra. Wajahnya semakin cemberut saat melihat rumah kontrakan Ezra yang tampak kumuh. Alan mematung berdiri di teras. Dia merasa enggan sekali masuk ke rumah Ezra.

__ADS_1


"Ayo, Lan! Lo bakalan mati kedinginan kalau terus berdiri di sana." Ezra mendesak Alan.


Sambil mendengus kesal, Alan melangkah masuk ke rumah Ezra. Itu pertama kalinya dia menjejakkan kaki di sebuah rumah kontrakan.


__ADS_2