Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 52 - Tak Bisa Menahan Lagi


__ADS_3

...༻〇༺...


Dalam perjalanan, pengendara motor tiba-tiba menghalangi jalan Bimo. Cowok itu sontak terpaksa mencengkeram rem. Hingga Bimo dan Acha sontak berhenti.


"Mau ngapain lo!" timpal Bimo. Dia tahu cowok yang menghalangi jalannya adalah Alan.


Benar saja, saat helm cowok tersebut dibuka, wajah Alan terpampang nyata.


"Gue mau bicara sama adik lo!" tukas Alan.


"Nggak bisa!" Bimo menolak tegas. Dia juga sigap memegangi tangan Acha. "Kau duduk diam aja!" titahnya.


"Tapi, Kak--"


"Cha! Kau sekali-kali bisa nurut nggak?" potong Bimo dengan dahi berkerut.


"Aku cuman nggak mau kalian bertengkar nggak jelas!" ungkap Acha.


"Itu nggak akan terjadi," sahut Bimo. Dia segera mencari celah hingga bisa menjalankan motor. Meninggalkan Alan yang baru saja turun dari motornya.

__ADS_1


"Sialan!" Alan hanya bisa merutuk. Entah apa yang ingin dirinya bicarakan pada Acha.


Kini Acha dan Bimo kembali dalam perjalanan menuju sekolah.


"Cha, gue harap lo nggak pernah berhubungan lagi sama Alan," kata Bimo serius.


"Kau tidak bisa mengatur kehidupanku!" balas Acha.


"Ini semua demi kebaikanmu. Kau tahu sendiri kalau Alan bukan cowok baik. Terbukti dari apa yang sudah dia lakukan padamu dan juga skandal yang menimpanya sekarang!" cetus Bimo. Tak lama kemudian, dia dan Bimo tiba di sekolah. Acha segera melepas helm dan turun dari motor.


"Aku nggak ngerti kenapa kau bersikap begini..." lirih Acha.


"Bukankah kau sudah tahu?" Bimo memancarkan tatapan lekat.


"Jangan ngawur deh, Kak." Acha segera membuang muka. Tatapan Bimo membuatnya salah tingkah.


"Aku sekarang udah nggak tahan lagi." Bimo menggenggam tangan Acha. Membuat mata gadis itu sontak membulat. "Aku sepertinya jatuh cinta pada adikku sendiri..." ungkapnya.


"Kak Bimo gila!" timpal Acha yang langsung menarik tangannya dari genggaman Bimo. Dia buru-buru meninggalkan cowok tersebut dengan langkah laju.

__ADS_1


Meski menyebut Bimo gila, Acha tak dapat memungkiri bahwa jantungnya berdegup kencang sekali sekarang. Dia bahkan berlari ke toilet dan memegangi dadanya.


Ketika berada di bilik toilet, Acha memukuli dadanya beberapa kali. Dia tidak mau dirinya terbuai dengan pernyataan Bimo. Kisah asmara di antara kakak dan adik tiri tentu adalah kesalahan besar.


"Apa ini nyata? Apa Kak Bimo baru saja menyatakan perasaannya padaku?" gumam Acha sembari memegangi wajahnya sendiri. Dia segera keluar dari toilet saat sudah benar-benar tenang.


Akan tetapi Acha tak sengaja menabrak seseorang saat keluar dari toilet. Orang itu tidak lain adalah Ezra.


Selembar kertas dijatuhkan oleh Ezra. Kertas tersebut dilipat sedemikian rupa. Persis seperti surat misterius yang diterima Acha beberapa kali.


"Maaf, Kak!" ucap Acha. Dia memilih mengabaikan apa yang dilihatnya. Pernyataan Bimo hari ini benar-benar membuatnya bingung. Jadi Acha tak mau menambahkan beban pikirannya dengan teka-teki pengirim surat misteriusnya.


Setelah mengucap maaf, Acha mencoba pergi meninggalkan Ezra. Namun cowok itu dengan cepat menghentikan.


"Tunggu, Cha!" panggil Ezra. Dia bergegas mengambil kertas miliknya yang terjatuh.


Acha berhenti melangkah. Dia perlahan berbalik menghadap Ezra. Cowok itu langsung memberikan surat yang dipegangnya pada Acha.


"Gue udah ketahuan. Sepertinya sekarang nggak ada yang perlu disembunyikan," ujar Ezra.

__ADS_1


"Maksud Kakak?" Dengan ragu Acha menerima surat pemberian Ezra.


"Gue nggak berharap banyak. Tapi gue cuman pengen masa muda gue nggak dipenuhi penyesalan. Terutama tentang cinta." Jawab Ezra sama sekali tak memberi jawaban untuk Acha. Selanjutnya, cowok itu beranjak pergi.


__ADS_2