Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 41 - Berantakan


__ADS_3

...༻〇༺...


Sitha jadi heboh sendiri. Setelah berhasil merekam video apa yang dilakukan Bimo dan Ezra, dia segera menghampiri Acha.


"Acha!" seru Sitha antusias.


"Astaga! Bikin kaget aja," keluh Acha yang reflek memegangi dada.


Sitha justru cengengesan. Dia buru-buru duduk ke sebelah Acha. "Lo bakalan lebih kaget saat lihat yang gue dapat!" ungkapnya.


"Apaan?" Acha mengerutkan dahi. Dia sebenarnya tidak begitu tertarik dengan kabar yang dibawa Sitha. Mengingat gadis itu selalu menyikapi segalanya secara berlebihan.


Sitha mengeluarkan ponsel dari saku. Dia berucap, "Gue dapat--"


Tiba-tiba orang-orang terlihat riuh sambil melihat ke satu arah. Mereka juga saling berbisik. Seolah ada seseorang yang sangat menarik perhatian. Ucapan Sitha bahkan harus terpotong karenanya. Cewek itu langsung melihat ke arah yang sama dengan orang-orang.


Acha mengerutkan dahi. Dia tentu merasa penasaran. Apalagi ketika menyaksikan Bimo langsung berdiri dari tempat duduk sambil menunjukkan raut wajah tegang.


"Apaan sih? Kayak presiden aja yang datang," cetus Acha yang akhirnya menoleh ke belakang. Tepatnya ke arah dimana semua perhatian orang sedang tertuju.


"Cha, dia bukannya cowok yang dekat sama lo ya?" tanya Sitha sembari menepuk pundak Acha.


Acha membisu. Matanya juga terbelalak lebar. Bagaimana dia tidak kaget? Sosok yang sekarang sedang menarik perhatian banyak orang adalah Alan. Acha semakin gelisah ketika melihat cowok itu berjalan ke arahnya.


"Sit! Dia nggak ke sini kan?" Acha langsung berbalik badan sambil menutupi wajah dengan rambut. Ia juga memegang erat lengan Sitha secara tiba-tiba. Temannya itu sampai dibuat kaget sampai tersentak olehnya. Acha sendiri terlihat sangat tegang.

__ADS_1


"Kenapa lo tanya ke gue? Kan lo yang lebih tahu. Tapi dia kayaknya berjalan ke arah sini. Dia semakin dekat!" sahut Sitha. Memberitahukan asumsinya setelah menilik baik-baik ke arah Alan.


"Gawat!" Acha kini menutupi wajah dengan dua tangan. Namun tak bisa dilakukan ketika seseorang memegangi salah satu tangannya lebih dulu.


"Ayo ikut gue!" orang yang memegang tangan Acha tidak lain adalah Bimo.


"Eh! Kemana, Kak?" Acha sontak bingung.


Di sisi lain, Ezra kalah cepat dibanding Bimo. Padahal dia sudah berlari setengah jalan menuju ke arah Acha. Cowok itu lantas hanya bisa berhenti melangkah. Dia memilih mengamati dari kejauhan.


Alan terlihat sudah menghampiri Acha. Ia segera memanggil cewek yang sejak tadi ditunggunya itu.


"Cha!" panggil Alan.


"Pergi lo! Beraninya lo masuk ke sekolah orang!" usir Bimo.


"Enggak! Jangan, Cha! Kamu nggak kapok sudah dipermainkan sama dia?!" tukas Bimo.


"Cha!" Alan angkat suara saat waktunya tiba. Dia memegangi pundak Acha. "Kedatanganku ke sini cuman pengen mastiin kau baik-baik saja," ujarnya


"Maksud Kak Alan?" Acha tak mengerti.


"Kemarin saat di pesta kita--"


Buk!

__ADS_1


Bimo tak tahan lagi. Sebelum Alan berbicara hal buruk, dia daratkan tinju ke wajah lelaki tersebut. Semua orang otomatis berseru kaget. Terutama Acha.


"Sialan lo!" Bimo terbakar amarah. Dia yang berhasil menjatuhkan Alan, ingin terus melayangkan pukulan.


"Kak Bimo!" Acha berusaha keras menghentikan tindakan Bimo. Namun cowok itu tidak hirau dan terus memberi pelajaran pada Alan.


Aksi perkelahian Bimo dan Alan kini menjadi ajang tontonan. Suasana semakin memanas ketika Alan melakukan perlawanan.


Para guru yang mendengar ada keributan, segera turun tangan. Perkelahian lantas terhenti. Bimo dan Alan dibawa ke ruang guru.


Melihat keadaan kacau, Acha jadi cemas. Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri. Karena jika bukan karena Acha, Bimo dan Alan tidak mungkin bertengkar.


Acha melarikan diri ke belakang sekolah. Ia menangis di sana. Menyesali segala perbuatannya yang berakhir berantakan.


"Acha!" Sitha menemani Acha karena cemas. "Astaga... Lo kenapa nangis?" tanyanya sambil duduk ke samping Acha. Lalu mengelus pundak Acha dengan pelan.


"Ini salah gue, Sit... Salah gue." Acha terisak.


"Apa yang terjadi? Coba bicara sama gue. Mungkin gue bisa bantu," tutur Sitha.


Acha menghapus air matanya. Dia memilih menceritakan segalanya pada Sitha. Termasuk tentang sandiwara yang dilakukannya terhadap Alan.


Bersamaan dengan itu, ada Ezra yang berdiri di balik dinding. Lagi-lagi kedatangannya kalah cepat dibanding Sitha. Akhirnya dia memilih bersembunyi dan mendengarkan.


Kini Ezra tahu semuanya. Senyuman mengembang di wajahnya. Terutama saat mengetahui pendekatan yang dilakukan Acha terhadap Alan adalah sandiwara. Itu mengartikan bahwa perasaan Acha pada Alan bukanlah sungguhan.

__ADS_1


Terdengar suara notifikasi pesan masuk secara beruntun dari ponsel. Ezra segera memeriksa ponsel yang layarnya tampak retak tersebut.


Pupil mata Ezra membesar tatkala menyaksikan video yang dikirim dalam grup. Dari sana disebutkan kalau video itu sedang viral. Apa yang ada di dalam video membuat Ezra kaget sekali. Sebab dirinya juga berada dalam video itu.


__ADS_2