
...༻〇༺...
Ezra duduk ke sebelah Acha. "Lo kenapa sih? Beda banget dari biasanya," tanyanya.
"Lagi nggak semangat," jawab Acha malas. "Rasanya tuh kayak lagi nggak punya energi buat ngapa-ngapain," tambahnya.
"Mau ikut gue nggak? Mungkin lo bisa lebih semangat," ajak Ezra.
Dahi Acha berkerut. Dia tidan setuju atau pun menolak ajakan Ezra.
"Tapi pakai sepeda nggak apa-apa kan?" ujar Ezra sembari berjalan menghampiri sepedanya.
Acha tersenyum tipis. Itu pertama kalinya dia lakukan di hari tersebut.
"Ayo naik! Kalau nggak mau, aku pulang nih!" kata Ezra. "Lagian ini sudah sore banget. Katanya halte bus ini angker," tambahnya menakut-nakuti.
Mendengar hal itu Acha langsung berdiri. Dia segera duduk di kursi belakang sepeda Ezra. Cowok itu lantas mengayuh sepedanya.
Hening menyelimuti suasana. Acha merasakan desiran angin lembut yang menerpa rambut. Entah kenapa suasana hatinya terasa lebih tenang.
"Begini kalau naik sepeda. Agak lambat," imbuh Ezra memulai pembicaraan.
"Tapi enak. Bikin tenang. Aku kayaknya lebih suka dari pada dibonceng pakai motor," sahut Acha.
Ezra hanya menanggapi dengan memajukan bibir bawahnya. Dia membawa Acha singgah di sebuah panti jompo.
__ADS_1
"Tempat apaan nih?" tanya Acha yang heran.
"Ini rumah kakek-kakek dan nenek-nenek gue!" ungkap Ezra. Ia menarik lengan Acha dan menyeret gadis itu masuk ke panti jompo.
Ezra memang diketahui sering mendatangi panti jompo tersebut. Mengingat di sana ada neneknya sendiri. Karena sudah sering ke sana, Ezra jadi akrab dengan penghuni lainnya.
Kala itu Ezra dan Acha membantu memasak makan malam di sana. Mereka bahkan ikut makan di sana. Sungguh, pengalaman baru tersebut membuat Acha melupakan masalahnya sejenak.
"Ezra, apa dia pacarmu? Ini pertama kalinya kau membawa teman ke sini. Gadis cantik lagi," ujar Nenek Rida dengan suara rentanya.
"Kenapa kau tanya, Da. Bukankah itu sudah jelas?" teman seumuran Nenek Rida menyahut.
"Enggak, Nek. Kami cuman teman," ujar Ezra sambil melirik canggung ke arah Acha. Dia tentu malu mendapatkan pertanyaan begitu.
"Masa cuman teman? Nggak mungkin. Kami tahu kau tak pernah mendekati sembarang orang. Kalau bukan pacar, berarti gebetanmu ya?" tebak Nenek Rida lagi.
Sementara Acha hanya terkekeh. Dia berjalan ke halaman samping panti jompo. Di sana Acha duduk di teras sambil melihat langit senja.
Tak lama kemudian Ezra datang. Ia membawakan teh hangat untuk Acha.
"Makasih." Acha menerima teh pemberian Ezra.
"Maafin omongan Nenek Rida tadi ya. Beliau emang suka gitu," kata Ezra.
"Santai aja, Kak." Acha tersenyum. Ia mengambil ponsel dan menemukan ada beberapa pesan yang masuk.
__ADS_1
Acha menerima pesan dari ibunya yang menyebut kalau sidang perceraian akan dilakukan lusa. Mira juga menyebutkan kalau dirinya dan Acha akan pindah rumah lagi.
Selain menerima pesan Mira, Acha juga mendapat pesan dari Bimo. Cowok itu tadi juga sempat menelepon Acha. Namun tidak dijawab. Dalam pesannya Bimo menyebutkan bahwa dia ingin bicara secara pribadi dengan Acha.
Acha menghela nafas panjang. Dia merasa kalau Bimo mengajaknya bertemu untuk mengucap perpisahan.
"Kenapa? Apa lo dapat kabar buruk?" tanya Ezra.
"Iya. Kedua orang tuaku akan bercerai," jawab Acha.
Mata Ezra membulat. "Maaf..." ungkapnya yang bingung harus berkata apa.
"Nggak apa-apa, Kak. Aku tahu ini bakalan terjadi," tanggap Acha.
"Apa ini berarti lo dan Bimo juga akan berpisah?" tanya Ezra.
"Iya. Sepertinya begitu. Aku dengar Kak Bimo akan mendaftar TNI."
"Mengenai itu, gue rasa semua orang di sekolah sudah tahu. Gue berharap yang terbaik buat dia dan juga lo."
Acha mengangguk dan tersenyum. Dia baru tersadar bahwa Ezra juga kelas tiga. Menandakan kalau cowok tersebut juga akan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
"Oh iya. Kak Ezra juga satu angkatan sama Kak Bimo. Kak Ezra mau kemana setelah lulus nanti?" tanya Acha.
"Mungkin kedokteran. Gue selalu bermimpi pengen jadi dokter gigi," ungkap Ezra.
__ADS_1
"Wah, keren!" puji Acha. Tanpa sadar, dia menjadi lebih dekat dengan Ezra.