
...༻〇༺...
10 menit sebelum Acha mengetahui rencana Alan...
Acha berdiri di depan cermin toilet. Dia merasa kesal sekaligus kasihan pada Bimo. Dirinya juga ingin melakukan sesuatu agar cowok itu menghilangkan semua kebiasaan buruk.
Sambil mencuci tangan di wastafel, Acha berpikir. Sampai akhirnya dia terpikirkan sesuatu. Acha akan meminta bantuan pada Alan agar bisa membuat Bimo peduli kepadanya.
Acha berniat ingin mengajak Alan melakukan kesepakatan. Dia berencana ingin pura-pura menjadi anggota geng motor Alan. Bahkan kalau perlu, dirinya berpura-pura pacaran dengan cowok itu.
"Apa salahnya mencoba! Alan adalah saingan buat Kak Bimo. Gue yakin Kak Bimo pasti terganggu kalau tahu gue dekat sama Alan," gumam Acha. Dia yang merasa bersemangat dengan rencananya, ingin cepat-cepat menemui Alan.
Ketika sudah di parkiran, Acha justru mendengar sesuatu mengejutkan dari Alan. Cowok itu terdengar mengejeknya. Alan juga mengeluhkan tentang sandiwaranya yang begitu menyiksa saat berhadapan dengan Acha.
Acha sengaja diam saat mengetahui kebenaran yang didengarnya. Dia sebenarnya sudah menduga sejak awal. Tidak mungkin cowok seperti Alan membantunya tanpa tujuan tertentu.
Dari pembicaraan Alan di telepon, Acha bisa mengetahui bahwa sepertinya cowok itu melakukan rencana buruk.
'Cowok ganteng pakai motor sport emang nggak bisa dipercaya,' batin Acha mengeluh.
Meski mengetahui rencana Alan yang sebenarnya, Acha tidak melabrak cowok itu. Dia justru berniat ingin membalas Alan dengan sandiwara juga. Acha bertekad akan berpura-pura jatuh pada jebakan cowok tersebut. Jadi Acha tidak perlu melakukan kesepakatan dengan Alan.
Acha melangkah mundur dan menyandar ke dinding sebentar. Dia akan menunggu Alan selesai bicara di telepon lebih dulu.
"Gue akan bikin dia jadi pacar gue. Setelah itu, baru gue hancurin dia biar kakaknya juga hancur," kata Alan yang bisa didengar jelas oleh Acha.
Saat Alan memasukkan ponsel ke saku celana, barulah Acha berjalan mendekat. Lalu menyapa cowok itu.
"Maaf ya lama," imbuh Acha.
__ADS_1
"Eh, nggak papa kok. Santai aja," tanggap Alan dengan senyuman pura-puranya. Dia memundurkan motor dan menyuruh Acha naik.
Acha balas tersenyum pura-pura. Ia segera naik ke motor Alan. Dari belakang, Acha mengepalkan tinju.
'Lihat aja. Gue bakalan bikin lo dan Kak Bimo kapok. Gue pastikan geng motor kalian bubar sekalian. Dasar sampah masyarakat!' Acha merutuk dalam hati.
"Alamat lo dimana?" tanya Alan.
"Gue tinggal sama Kak Bimo. Lo pasti tahu," sahut Acha.
"Gue emang tahu banyak tentang Barakuda. Tapi nggak alamat rumahnya," ujar Alan.
Acha lantas memberitahukan dimana alamatnya. Ketika sudah tiba di depan pintu pagar rumah, Alan berhenti dengan pelan. Acha pun segera turun dari motor.
"Makasih ya, Lan... Gue hargain bantuan lo. Sekarang gue tahu gimana Kak Bimo yang sebenarnya," tutur Acha.
'Tulus apaan! Dasar serigala licik!' Acha berkomentar dalam hati.
"Mau mampir dulu nggak?" tawar Acha sambil menunjuk ke arah rumahnya.
"Mungkin lain kali. Ini udah hampir malam juga," tolak Alan baik-baik.
Acha masih terdiam di tempat. Ia sebenarnya menunggu Alan untuk meminta nomor teleponnya. Sebab Acha yakin, jika Alan berniat memacarinya, maka cowok itu pasti akan meminta nomornya. Suasana hening dalam sesaat. Alan juga hanya membisu.
'Apa dia oon? Kenapa dia nggak nanyain nomor telepon gue?' benak Acha bertanya-tanya.
"Ya udah kalau gitu. Gue masuk," cetus Acha sembari beranjak untuk membuka pintu pagar rumahnya.
"Iya," tanggap Alan. Dia sebenarnya lupa meminta nomor telepon Acha. Alan bahkan sudah memutar kunci motornya.
__ADS_1
Sementara itu, Acha sengaja berjalan lambat. 'Yah... Kalau dia nggak minta nomor telepon gue sekarang, gue harus pergi ke jalanan lagi biar bisa ketemu dia,' keluhnya dalam hati.
"Acha! Tunggu!" Ketika Acha nyaris menutup pintu pagar, barulah Alan memanggil. Cowok itu bergegas menghampiri Acha.
"Iya?" Acha sigap berbalik badan.
'Dia pasti akan minta nomor gue kan?' batin Acha. Alan baru saja berhenti di hadapannya.
"Gue lupa. Gue boleh minta nomor lo kan?" tanya Alan.
'Bingo!' Acha tersenyum puas dalam hati.
"Boleh kok!" Acha tentu setuju. Dia segera bertukar nomor dengan Alan.
'Yes! Domba jatuh ke dalam perangkap,' batin Alan. Kini dia yang tersenyum puas. Usai mendapat nomor Acha, Alan segera pergi.
Acha lantas masuk ke rumah. Setibanya di kamar, dia langsung menyandar ke depan pintu. Acha tersenyum lebar. Entah kenapa dia merasa bersemangat dengan rencananya sekarang. Ia merasa seperti melakukan sebuah misi penting.
"Gue harus menyusun strategi!" gumam Acha. Dia mengambil buku gambarnya. Acha menyusun strateginya dengan menggambar dan membuat skema untuk menaklukkan Bimo sekaligus Alan.
"Dua-duanya cowok nakal. Dua-duanya juga harus dapat pelajaran. Gue harus cari sesuatu agar bisa bikin mereka sadar dan kapok!" ucap Acha bertekad. Dia melipat tangan di dada ketika strateginya sudah selesai digambar.
Puas tenggelam dalam rencana briliannya, Acha membersihkan diri. Setelah mandi, dia mendengar kedua orang tuanya pulang.
Satu jam kemudian, Acha membantu ibunya menyiapkan makan malam. Bersamaan dengan itu, Bimo baru saja pulang ke rumah.
Rizal langsung menegur dan mengajak Bimo bicara. Interaksi di antara keduanya tampak begitu serius.
"Bimo! Tadi siang Papah ke bank. Periksa semua transaksi kartu yang kau pakai. Aku menemukan kau memakai uang puluhan juta lebih dalam satu minggu. Apa yang kau lakukan?!" timpal Rizal.
__ADS_1