Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 45 - Sisi Pengecut


__ADS_3

...༻〇༺...


Perlahan Acha memutar tubuhnya ke arah Alan. Akan tetapi Alan langsung menghentikan.


"Nggak usah nengok! Terus aja pergi!" ujar Alan sembari membersihkan wajah dari air mata. Ia berusaha mengangkat motor sportnya yang tergeletak. Namun karena hatinya sedang kesal, Alan jadi tidak fokus dan tak bisa mengangkatnya.


Acha tadinya hentak pergi. Tetapi urung dilakukan karena mendengar keributan yang dibuat Alan. Gadis itu lantas menoleh ke belakang. Alan tampak jatuh ke tanah dalam keadaan kaki yang tertimpa motor.


"Kak Alan!" Acha buru-buru mendekat. Ia tak perlu berpikir lama untuk membuat keputusan menolong Alan.


"Apaan sih! Kan gue udah suruh lo pergi!" Alan menolak mentah-mentah bantuan Acha. Dia mencoba lepas dari kesulitannya sendiri. Alan menendang keras motornya hingga akhirnya dia bisa berdiri.


"Aaargghh!!!" Alan menggeram kesal. Ia menendang motornya berulang kali. Tanpa diduga, motor tersebut malah mengeluarkan asap lebih banyak.


"Kak..." Acha jadi cemas. Gadis sepertinya tak pernah menghadapi cowok yang mengamuk.


Tak lama kemudian suara sirine mobil polisi terdengar. Dari kejauhan Acha dan Alan bisa melihat mobil polisi yang muncul.


"Sial!" maki Alan.


"Ayo, Kak! Kita pergi dari sini!" Acha menarik tangan Alan. Keduanya segera menjauh dari pinggir jalan. Meninggalkan motor Alan yang sedang dalam kondisi memprihatinkan.

__ADS_1


Acha tak mau mengambil resiko. Dia takut dirinya dan Alan akan ditangkap polisi. Mengingat Alan juga merupakan anggota geng motor.


Benar saja, salah satu mobil polisi berhenti di tempat motor Alan berada. Mereka heran dengan motor tanpa tuan yang ditemukan.


"Becky..." gumam Alan. Dia dan Acha bersembunyi. Mengamati polisi dari kejauhan.


"Becky?" Acha yang mendengar menuntut jawaban.


Namun belum sempat mendapat jawaban, salah satu polisi sukses memergoki Acha dan Alan. Hal itu mengharuskan keduanya melarikan diri.


Alan berlari lebih dulu dibanding Acha. Sebagai cowok, tentu larinya lebih laju. Mereka berlari memasuki komplek rumah sepi. Anehnya rumah-rumah di sana tidak ada yang berpenghuni. Seram tetapi tempat yang bagus untuk bersembunyi.


"Tunggu, Kak!" panggil Acha yang sudah kelelahan. Tanpa sengaja dia terjatuh karena tersandung batu.


Suara Acha yang terjatuh dapat didengar oleh Alan dengan jelas. Cowok tersebut sontak menengok.


"Ya ampun! Cepetan berdiri!" suruh Alan tanpa membantu.


Acha bangkit secara perlahan. Wajahnya cemberut karena melihat bagaimana ke tidak pedulian Alan.


"Lama lo!" timpal Alan. Ia memilih meninggalkan Acha seorang diri.

__ADS_1


Acha yang sudah berdiri, kembali berlari. Dia mencoba menemukan Alan. Akan tetapi cowok itu sudah menghilang entah kemana. Acha semakin panik saat polisi kian mendekat. Alhasil dirinya memutuskan untuk bersembunyi ke tempat teraman.


Ada tiga polisi yang mengejar Alan dan Acha. Ketiga polisi itu berpencar untuk melakukan pencarian. Namun mereka pergi karena tidak berhasil menemukan Alan dan Acha.


Kini Alan berada di salah satu rumah kosong. Dia bersembunyi dia bagian dapur. Di sana Alan berjongkok sambil menutup hidungnya. Sungguh, Alan tidak terbiasa dengan sesuatu yang kotor dan bau. Wajar dia begitu, mengingat sejak lahir Alan terlahir hidup enak.


Merasa keadaan aman, Alan berdiri. Dia ingin cepat-cepat pergi dari tempatnya. Mata Alan membulat saat melihat sesuatu hal yang ditakutkannya sedari tadi. Cowok itu reflek melangkah mundur.


Sayangnya sesuatu yang ditakuti Alan itu justru mendekat. Membuat Alan semakin panik.


"Aaarrkkhh!!" Alan berteriak saat tubuhnya menghantam meja rapuh. Dia terduduk di lantai sekarang.


Suara teriakan Alan terdengar sampai ke Acha. Dia awalnya tak ingin peduli pada cowok tersebut. Tetapi karena hati nurani, Acha tidak bisa mengabaikan. Apalagi dirinya dan Alan berada di tempat yang bisa dibilang antah berantah.


Acha lantas berlari ke tempat Alan. Dengan cara menjadikan suara pekikan cowok tersebut sebagai petunjuk.


Setibanya di tempat Alan berada, Acha mengambil sebuah tongkat kayu terlebih dahulu. Lalu perlahan masuk ke rumah lebih dalam. Sampai Acha menemukan Alan yang meringkuk ketakutan di pojokan.


Acha mengerutkan dahi. Sebab dia tidak melihat ada ancaman di sekitar Alan. Cewek itu celingak-celingukan ke segala arah karena saking bingungnya.


"Kak Alan kenapa? Lihat hantu ya?" tebak Acha.

__ADS_1


"I-itu! Jauhin makhluk jelek itu dari gue! Jauhin!" pekik Alan histeris sembari menunjuk sesuatu ke sepatunya.


Setelah dilihat, ada seekor tikus kecil di kaki Alan. Hari itu Acha melihat sisi pengecut Alan dua kali.


__ADS_2