Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 15 - Bersembunyi & Melihat


__ADS_3

...༻〇༺...


Acha sangat kesal mendengar ucapan Bimo. Dia cemberut dan langsung mengambil makanannya dari tangan cowok itu.


"Pergi!" usir Acha. Dia langsung menutup pintu dengan bantingan keras.


Bimo kaget sampai berjengit. Dia malah tergelak melihat bagaimana reaksi Acha. Menurutnya gadis itu lucu dan sangat kekanak-kanakan.


"Bersikaplah baik, Cha. Tugasku sekarang di sini itu menjagamu," ucap Bimo.


"Pergi! Jangan bikin nafsu makanku hilang!" Acha kembali mengusir. Dia memekik dari dalam kamar.


Bimo lantas beranjak dari kamar Acha. Ia duduk di sofa yang letaknya dekat dengan posisi kamar gadis tersebut.


Di dalam kamar, Acha menyantap makanannya dengan raut wajah cemberut. Hatinya sangat kesal sekali pada sang kakak.


Selepas menghabiskan makanan, Acha menyibukkan diri dengan menggambar. Itu memang adalah hobinya sejak kecil. Acha menggambar pemandangan yang terlihat dari jendela. Ia hanya menggambar menggunakan pensil. Mengingat dirinya memang lebih suka membuat sketsa dibanding mewarnai.


Ponsel Acha mendadak berdering. Dia mendapat telepon dari Mira. Ibunya tersebut memberitahu kalau dirinya dan Rizal akan pulang besok pagi.


Acha sama sekali tak masalah. Saat sudah mengantuk, dia segera telentang ke ranjang dan tidur.


Keesokan harinya, Acha bersiap pergi ke sekolah seperti biasa. Di meja sarapan terlihat semua orang sudah berkumpul. Kebetulan Rizal dan Mira pulang pagi sekali.


"Mah, aku mau langsung pergi aja. Kebetulan aku hari ini dapat tugas membersihkan kelas," cetus Acha.


"Jangan begitu. Sarapan dulu, Cha! Nggak apa-apa cuman sedikit yang penting sarapan," sahut Mira seraya berkacak pinggang.


"Tapi, Mah--"


"Ayo, Cha! Mamah memaksa!" potong Mira tegas.


Acha mendengus kasar. Dia terpaksa bergabung ke meja makan.


Sementara Bimo, sejak tadi dia hanya diam dan sibuk menikmati makanannya. Dia sesekali tersenyum tipis karena melihat Acha yang berusaha menghindar darinya.


"Mau aku buatkan roti stroberi?" tawar Bimo ketika melihat Acha sudah duduk.


"Enggak! Aku bisa bikin sendiri!" tolak Acha.


Mira dan Rizal langsung bertukar pandang. Kali ini mereka merasa ada interaksi yang berbeda di antara Bimo dan Acha. Mengingat sebelumnya mereka terlihat sangat akur.

__ADS_1


"Ya udah." Bimo mengangguk-anggukkan kepala.


Acha lantas membuat rotinya sendiri. Dia menghabiskan roti itu dengan beberapa suap saja. Selanjutnya, dia minum setengah gelas susu.


"Sudah! Sekarang aku pergi," pamit Acha sembari berdiri.


"Pas banget. Kita bisa pergi bareng." Bimo ikut berpamitan. Acha langsung mendelik ke arahnya. Namun gadis itu tak bisa marah karena ada orang tuanya sekarang.


"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Mira saat menyalami Bimo.


"Iya. Acha kayaknya cuman lagi tergesa-gesa aja," jawab Bimo santai.


Acha hanya tersenyum kecut. Usai mencium punggung tangan Mira dan Rizal secara bergantian, dia dan Bimo beranjak pergi.


"Aku pergi di antar Pak Norman aja!" imbuh Acha sambil berjalan menuju pintu pagar.


"Yakin? Nanti nyokap sama bokap kita curiga loh," tanggap Bimo.


Acha tak peduli. Dia tetap melangkah menghampiri Pak Norman yang sudah siap.


Bimo memutar bola mata jengah. Dia akan membiarkan Acha berbuat sesuka hati.


...***...


"Cha! Lihat! Lo dapat lagi." Sitha mengeluarkan kertas dengan pita pink dari bawah meja Acha.


"Buang aja!" ujar Acha ketus.


"Hah? Lo yakin?" Sitha terheran. Dahinya berkerut sambil memperhatikan ekspresi cemberut yang ditunjukkan Acha sekarang. "Lo nggak apa-apa kan? Cemberut banget mukanya," tukasnya.


"Gue lagi pusing," sahut Acha.


"Yakin nggak mau baca ini? Biar gue yang bacain gimana?" tanya Sitha.


"Terserah lo deh." Acha menjatuhkan kepalanya ke atas meja.


"Oke. Ekhem!" Sitha segera membacakan surat yang didapatnya dari bawah meja Acha.


"Kau membuatku bersemangat untuk pergi ke sekolah. Meski aku hanya bisa melihatmu dari jauh, aku tetap merasa bahagia. Makasih sudah memberi warna yang indah di hidupku, Natasha. Semoga suatu hari aku bisa mendapatkan keberanian untuk bicara denganmu secara langsung." Begitulah isi surat yang dibacakan oleh Sitha.


"So sweet banget. Kalau jadi lo, gue udah cari tahu orang yang mengirim surat ini," ungkap Sitha.

__ADS_1


Acha hanya diam. Ia tak memberikan reaksi apapun. Dirinya malah tampak seperti sedang menanggung masalah yang begitu berat.


Ketika pulang sekolah, Acha menyaksikan Bimo berinteraksi dengan seorang lelaki bertato. Bimo tampak menerima sesuatu dari lelaki bertato itu. Acha melihat benda yang diterima Bimo terbungkus dengan plastik hitam.


Acha jadi penasaran. Dia jadi teringat dengan malam ketika dirinya dan Bimo ada di garasi. Acha teringat dengan mata merah Bimo. Selain itu, dia juga ingat dengan apa yang pernah dikatakan Rizal mengenai keanehan Bimo.


"Mungkinkah Kak Bimo..." benak Acha bertanya-tanya.


Bertepatan dengan itu Pak Norman datang dengan mobilnya. Acha lantas bergegas masuk dan pulang.


Saat di rumah, Acha menemukan keadaan begitu sepi. Ternyata hanya ada dirinya yang baru datang.


Acha memanfaatkan waktu untuk masuk ke kamar Bimo. Ia ingin mencari jawaban atas semua rasa penasarannya. Jika Acha menemukan bukti, bisa saja dirinya mengadukan segala kenakalan Bimo pada Rizal.


Acha memeriksa semua barang-barang yang ada di kamar Bimo. Saat dia memeriksa laci paling bawah dekat ranjang, dirinya menemukan plastik flip berisi serbuk putih mencurigakan.


Tanpa diduga, terdengar suara langkah kaki yang kian mendekat dari luar. Terdengar juga suara Bimo dan suara gadis yang bicara.


Acha bergegas masuk ke lemari untuk bersembunyi. Tak lama kemudian Bimo masuk. Cowok itu tidak sendiri. Dia datang bersama teman ceweknya Arlin.


"Lo cari sendiri deh bukunya!" ujar Bimo seraya melempar tas ke ranjang.


Arlin tersenyum nakal. Lalu menutup pintu kamar.


"Tujuan gue ke sini sebenarnya bukan buat ngambil buku." Arlin berjalan mendekati Bimo sambil membuka kancing baju seragamnya atasnya.


Bimo memutar bola mata seraya tersenyum. Dia tentu paham dengan gelagat Arlin sekarang.


"Lo gila! Pacar lo mau dikemanain?" tukas Bimo.


"Lo kan tahu awalnya gue maunya lo yang jadi pacar gue!" balas Arlin.


"Ya iyalah. Gue nggak suka sama lo!" Bimo duduk ke tepi ranjang. Ia duduk sambil memperhatikan Arlin yang sudah berdiri di depannya.


"Itulah masalahnya. Tapi kalau enak-enak suka kan?" tanya Arlin. Ia lanjut melepas kancing baju seragamnya sampai terlepas semua. Lalu duduk ke pangkuan Bimo.


"Kalau gue melakukannya, jangan baper!" kata Bimo.


"Gue janji. Ini hanya sekedar hasrat gue. Tapi gue berharap, dengan melakukan ini, lo jatuh cinta sama gue!" sahut Arlin.


Bimo tersenyum miring. Dia segera mendapatkan ciuman bibir dari Arlin.

__ADS_1


Acha yang ada di dalam lemari, bisa melihat dari celah. Ia meremas kuat-kuat roknya karena kesal.


__ADS_2