
...༻〇༺...
"Papah pasti lupa. Kan kemarin aku sudah bilang, aku memakai uang itu untuk memperbaiki motor!" Bimo menanggapi perkataan Rizal dengan santai. Dia juga membuang muka. Seakan malas melakukan sesi pembicaraan tersebut.
"Mau sampai kapan alasanmu itu terus?!" timpal Rizal.
"Ah! Papah udah deh. Aku capek. Mau istirahat," sahut Bimo seraya berjalan menaiki tangga. Ia ingin segera pergi memasuki kamar.
"Bimo! Kalau begini, serahkan semua kartumu padaku!" pekik Rizal. "Papah akan kasih uang tunai saja mulai sekarang!" sambungnya. Dia berjalan ke depan tangga dengan ekspresi marah.
Bimo berhenti melangkah. Dia mengambil dompet ke saku celana sambil mendengus kasar. Dengan tak acuh, Bimo melempar kartu debit beserta kredit ke arah Rizal. Dua kartu tersebut otomatis melayang di udara dan jatuh.
"Tuh! Papah puas kan?" tukas Bimo yang kembali melanjutkan derapnya menuju kamar. Dia benar-benar bersikap tidak sopan pada orang tuanya sendiri.
"Bimo!!! Apa begitu sikapmu pada orang tua, hah?! Kenapa kau--" ucapan Rizal terpotong karena suara bantingan pintu dari Bimo.
Rizal mengusap kasar wajahnya. Ia jelas masih belum selesai bicara pada Bimo. Akan tetapi putranya itu sudah ngeloyor pergi ke kamar.
Mira dan Acha yang melihat, hanya bisa terdiam. Sebagai istri, Mira segera mendatangi Rizal. Wanita itu membawa Rizal duduk dan bicara baik-baik.
'Kak Bimo udah keterlaluan. Dia pasti kena pengaruh obat,' batin Acha menduga.
Setelah hidangan siap di meja, Acha dan kedua orang tuanya makan malam. Mira menjadi orang yang mengajak Bimo untuk bergabung.
Namun berulang kali memanggil, tidak ada sedikit pun jawaban dari Bimo. Pintu kamar cowok itu juga terkunci. Alhasil Mira kembali ke meja makan dengan mimik wajah lesu.
"Bimo kayaknya kacapekan. Dia pasti sudah tidur." Mira berusaha berpikir positif agar Rizal tidak memarahi Bimo.
__ADS_1
"Sudah! Biarkan saja dia mau apa. Anak itu sudah sulit dikendalikan. Aku udah capek!" ungkap Rizal mengomel.
Acha yang mendengar, menikmati makan malamnya dengan kepala tertunduk. Dia sebenarnya penasaran, apa yang sudah membuat Bimo begitu. Padahal saat di sekolah Bimo dikenal sebagai siswa yang berprestasi dan aktif.
Usai makan malam, Acha segera kembali ke kamar. Dia berhenti sebentar ke depan pintu kamar Bimo. Acha berpikir apakah dirinya perlu menemui cowok tersebut. Tetapi setelah dipikir-pikir, sepertinya tidak. Apalagi jika keadaan Bimo sedang dalam kendali obat.
Acha masuk ke kamar. Dia memeriksa ponsel dan menemukan pesan dari Alan. Cowok itu menawarkan diri untuk menjemput Acha ke sekolah.
"Gue sebaiknya minta jemput dia aja pas pulang sekolah," gumam Acha yang segera membalas pesan Alan. Keduanya terus bertukar pesan malam itu. Percakapan pesan yang hanya berisi kepura-puraan dari mereka masing-masing.
...***...
Waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Acha baru keluar dari kamar. Dia sudah berpakaian lengkap untuk pergi sekolah. Bersamaan dengan itu, Bimo juga keluar dari kamarnya.
"Hai, Kak!" sapa Acha dengan senyuman ceria.
"Aku akan melupakan semuanya. Aku akan memahami Kak Bimo. Urusanmu bukan urusanku. Bahkan ketika kita memiliki ikatan persaudaraan. Aku hanya nggak pengen melihat orang tua kita sedih jika melihat kita bertengkar," jelas Acha panjang lebar.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Andai Papahku punya pemikiran sepertimu." Bimo mengusap puncak kepala Acha seperti biasa.
Senyuman Acha seketika memudar. Dia merasa jantungnya masih saja berdegup kencang akibat perlakuan manis Bimo. Acha benci itu!
'Woy jantung! Tolong dikendalikan kerjanya. Kak Bimo itu cowok kurang ajar!' Acha berusaha memperingatkan dirinya sendiri.
"Ayo kita pergi!" ajak Bimo.
"Kak Bimo harus minta maaf sama Papah mengenai yang tadi malam. Dia terlihat sangat sedih setelah melihatmu memperlakukannya begitu," kata Acha seraya berjalan mengiringi Bimo dari belakang.
__ADS_1
"Ya, kemarin aku begitu karena kecapekan," sahut Bimo dengan wajah masam. Dia dan Acha bergabung ke meja makan untuk sarapan.
"Pah, aku minta maaf untuk yang tadi malam. Aku nggak bermaksud begitu," ungkap Bimo.
Rizal mengangguk. "Oke, Papah maafkan. Tapi bisakah kita bicarakan baik-baik tentang uang-uang yang sudah kau pakai?" balasnya.
"Uang-uang itu lagi..." Bimo mendengus kasar sambil mengoles selai ke rotinya. "Oke, aku akan mengaku," ujarnya.
Atensi Acha, Mira, dan Rizal sontak tertuju ke arah Bimo. Mereka semua penasaran.
'Apa Kak Bimo akan mengaku?' ucap Acha dalam hati. Dia sudah siap dengan suasana tegang yang akan terjadi. Rizal pasti marah saat mendengar uang-uangnya dipakai untuk kebutuhan balapan liar dan obat-obatan terlarang.
"Itu semua untuk gaya hidup, Pah. Aku kadang mentraktir teman-temanku makan. Terus beli barang-barang mahal. Ya begitulah..." terang Bimo.
Acha yang mendengar geleng-geleng kepala. Dia sudah menduga Bimo tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Cowok itu pintar, makanya dia juga sangat hebat membuat alasan masuk akal.
Rizal terlihat percaya saja. Lelaki itu hanya menasehati Bimo agar lebih hati-hati dalam menggunakan uang. Rizal bahkan mengembalikan kartu debit dan kredit milik Bimo yang ingin disitanya.
Kini Acha dan Bimo sudah dalam perjalanan menuju sekolah. Acha diboncengi motor seperti biasa.
"Kak, apa aku boleh tahu mengenai alasan Kak Bimo pakai obat-obatan itu?" celetuk Acha.
"Tentu ada alasannya, Cha. Alasan yang sangat pribadi. Aku nggak bisa kasih tahu kamu," sahut Bimo. "Mending kau fokus aja sama dirimu sendiri. Jangan sampai kayak aku. Mulai sekarang aku janji akan menjagamu," tambahnya dengan senyuman tipis. Bersikap seperti saudara lelaki yang baik.
"Makasih, Kak..." Acha tersenyum puas. Rencananya berjalan mulus. Ia hanya perlu melihat semuanya ketika pulang sekolah nanti.
"Oh iya, Kak. Nanti pulang sekolah aku dijemput teman. Jadi nggak bareng Kakak ya," cetus Acha.
__ADS_1
"Ya udah," tanggap Bimo santai. Ia tak tahu sama sekali kalau orang yang menjemput Acha pulang adalah Alan. Orang yang tak lain adalah musuh terbesarnya.