
...༻⊛༺...
"Tapi hanya kau satu-satunya orang yang bisa kupercaya!" ungkap Alan.
"Kau mau aku melakukan apa? Datang ke rumahmu dan mencari tahu semuanya?" balas Acha yang merasa tak habis pikir.
"Aku harap begitu..."
"Kak, aku bisa membantumu. Tapi sulit bagiku melakukannya sendiri."
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu." Dengan mudahnya Alan berucap begitu.
"Tidak mungkin. Kau baru dua hari berada di sini. Terlalu beresiko membawamu keluar!" tanggap Acha. Dia lantas duduk.
Alan memegangi kepalanya. Terlihat sekali kalau di sedang merasa frustasi. "Aku ingin sekali melihat papaku untuk yang terakhir kalinya. Tidak adil sekali jika aku harus menerima semua ini. Aku benar-benar tidak membunuhnya..." lirihnya.
Acha menatap nanar Alan. Dia mengelus pundak lelaki itu. "Bagaimana kalau kau lupa sudah melakukannya?"
Alan langsung melotot. "Segila apapun aku, aku tidak akan pernah membunuh orang tuaku sendiri!" tegasnya. "Apa kau meragukanku juga?"
__ADS_1
"Aku hanya bingung..." sahut Acha.
"Aku akan buktikan padamu kalau perkataanku ini benar! Karena itulah kau harus membantuku!" Alan memegangi tangan Acha. Ia bicara dengan penuh keyakinan.
Acha terdiam cukup lama. Dia mencoba berpikir untuk mencari cara. Dirinya merasa tidak bisa membantu Alan sendiri. Apalagi masalah Alan bisa dibilang adalah sesuatu yang sangat sensitif.
"Bagaimana kalau kita meminta bantuan Kak Ezra!" usul Acha. Dia yakin, Ezra tak sebenci itu pada Alan.
"Kau gila?! Keterlibatannya hanya akan memperburuk masalah!" tolak Alan dengan dahi berkerut.
"Tapi aku yakin dia bisa diajak bekerjasama. Kak Ezra juga lebih tahu mengenai keluargamu dibanding aku!" Acha berusaha meyakinkan Alan. "Aku tak bisa membantumu kalau melakukannya sendiri. Kau harus tahu itu! Kalau kau setuju, aku akan bicara sama Kak Ezra."
"Pikirkanlah dahulu," ujar Acha. Dia hendak beranjak meninggalkan Alan. Tanpa diduga, lelaki tersebut menghentikan pergerakan Acha.
"Bisakah kau menemaniku malam ini? Suasana di sini agak menakutkan saat malam," pinta Alan.
Acha tersenyum miring. "Jangan bilang kau masih takut dengan tikus?" tebaknya. Dia sangat ingat Alan pernah berteriak histeris hanya karena seekor tikus.
"Bisakah kau tidak membahasnya?" balas Alan seraya melipat tangan ke depan dada.
__ADS_1
"Oke. Aku akan di sini. Tapi Kak Alan harus tidur sekarang," kata Acha yang kembali duduk.
"Kau pasti akan meninggalkanku kalau aku tidur," tebak Alan.
"Bukankah itu jelas? Aku tidak bisa tidur di kursi!"
"Kau bisa tidur di sebelahku." Alan menepuk sisi kosong di kasurnya.
Wajah Acha seketika memerah bak tomat matang. "Kau ingin kita tidur seranjang?"
"Memangnya kenapa?" Salah satu alis Alan terangkat. "Apa kau masih tak percaya padaku? Kau takut terbunuh? Begitukah?"
"Tidak begitu. Kita lelaki dan perempuan dewasa. Bisa bahaya kalau ada yang tahu kita tidur berdua. Ya sudah! Aku sebaiknya pergi saja!" Acha segera melangkah ke pintu. Tetapi sekali lagi, Alan menghentikan. Lelaki tersebut bahkan menarik Acha dengan kuat. Alhasil Acha jatuh telentang ke kasur tempat Alan berada.
"Nah! Begini lebih baik," ujar Alan sembari merebahkan diri ke sebelah Acha dengan santainya.
"Kau membuatku takut!" ucap Acha. Melirik takut ke arah Alan.
Alan menarik sudut bibirnya ke atas sambil memutar tubuh menghadap Acha. "Kau tenang saja. Aku akan buktikan padamu kalau aku tidak berbahaya," katanya.
__ADS_1