
...༻〇༺...
Sebelum ciuman berlangsung lama, dengan cepat Acha dorong Bimo. Setelah itu dia balas ciuman cowok tersebut dengan tamparan.
Plak!
Bimo langsung memegangi pipinya. Dia membeku dalam keadaan begitu.
"Kak Bimo itu kapan sadar sih?! Aku bukan cewek gampangan yang bisa dipermainkan! Lagian aku ini adikmu, Kak!" tegas Acha sembari pergi meninggalkan Bimo. Ia tak peduli dengan hujan deras yang menerpa. Dirinya berlari sejauh mungkin sampai menemukan taksi yang kebetulan lewat.
Sementara itu, Bimo masih tetap diam di halte bus. Menatap kepergian Acha yang kian menjauh. Jujur saja, dia tak pernah diperlakukan begitu sebelumnya oleh seorang gadis. Apalagi sampai harus kena tamparan.
Bimo segera pulang setelah hujan mulai cukup reda. Ia menyusuri jalanan dengan berjalan kaki.
Ketika sudah tiba di rumah, Bimo langsung pergi ke kamar. Tak lupa juga dia melirik ke kamar Acha yang letaknya ada di sebelah.
Di sisi lain, Acha sedang berada di kamar mandi. Dia baru selesai membersihkan diri. Gadis itu terpaku menatap ke pantulan cermin.
Acha memegangi bibirnya sendiri. Sebenarnya ciuman Bimo tadi masih membuat jantungnya berdebar.
__ADS_1
"Harusnya gue nggak pernah ngizinin dia buat cium gue," gumam Acha. Menyesali segala ciuman yang pernah terjadi di antara dirinya dan Bimo.
"Tapi..." Acha memegangi jantungnya. Jelas degup kencang itu masih terjadi jika Bimo dekat dengannya. 'Gue nggak boleh jatuh cinta sama Kak Bimo,' batinnya.
Acha buru-buru mengambil ponsel. Dia terpikir untuk pergi ke sekolah bersama Alan mulai besok. Cowok itu tentu sangat setuju. Mengingat tujuan Alan mendekati Acha, hanya karena ingin balas dendam pada Bimo.
...***...
Satu malam berlalu. Acha pergi ke sekolah seperti biasa. Saat sarapan dia sengaja pura-pura akrab dengan Bimo. Bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
Bimo tersenyum senang ketika melihat sikap ceria Acha kembali. Dia berpikir gadis itu tidak mempermasalahkan yang terjadi tadi malam.
Setelah sarapan, Bimo dan Acha berpamitan ke sekolah. Keduanya berjalan beriringan keluar dari rumah.
"Emang! Apa yang aku lakukan di depan orang tua kita itu cuman pura-pura kok!" tanggap Acha sembari melangkah maju dan tidak mengikuti Bimo ke garasi.
"Eh! Mau kemana? Motornya kan di sini?" tegur Bimo terheran.
"Tahu kok. Tapi kayaknya mulai hari ini aku akan pergi ke sekolah bareng Kak Alan," sahut Acha santai.
__ADS_1
"Apa?!" Bimo tentu kaget mendengarnya. Dia bergegas mengejar dan menghentikan pergerakan Acha.
"Jangan coba-coba!" ujar Bimo sambil menggenggam erat lengan Acha. Raut wajahnya kali ini tampak serius sekali.
"Lepasin!" Acha memberontak. Dahinya berkerut dalam.
"Kan aku sudah bilang, jangan dekat-dekat sama Alan!" tukas Bimo.
"Kau nggak punya hak larang-larang aku mau dekat sama siapa!" balas Acha.
"Aku berhak! Aku kakakmu!" Bimo begitu memaksa.
Alan yang sudah menunggu di depan pagar, dapat melihat semuanya. Dia bergegas melangkah menuju ke arah Bimo dan Acha berada. Alan segera membantu Acha lepas dari cengkeraman Bimo.
"Sekarang gue tahu kenapa Acha benci sama lo! Kakak macam apa lo!" timpal Alan.
"Jangan sok peduli sama Acha! Emang lo pikir gue nggak tahu apa rencana lo!" Bimo sigap menarik kerah baju Alan. Dia sudah mengarahkan kepalan tinju ke wajah cowok tersebut.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Up seadanya dulu guys. Author lagi sibuk banget minggu ini 😁