
...༻⊛༺...
Setibanya di lokasi kejadian, Acha melihat pasien gangguan jiwa masih mengamuk. Karena pasien itu memegang pisau, para perawat tidak bisa menyuntikkan obat bius.
"Kenapa dia bisa mengamuk begini?" tanya Ezra kepada perawat bernama Ardy.
"Aku tidak tahu. Dia berhasil keluar dari ruangannya dan berbuat begini saat ketahuan. Kami sudah membujuknya tapi dia malah mencoba menyerang. Untung saja tidak ada yang terluka," jawab Ardy.
"Kita harus bisa membujuknya agar dia bisa tenang. Ngomong-ngomong, apa alasan pasien ini jadi gila?" ujar Acha. Bergabung dalam pembicaraan.
"Dia stress karena masalah ekonomi dan juga karena terpisah ditinggalkan keluarganya," sahut Ardy.
"Pergilah kalian! Jangan halangi aku!" ancam pasien ODGJ bernama Arman itu. Dia menodongkan pisau kepada semua orang di sekitar.
"Pak Arman! Aku mendengar kalau istrimu besok akan datang. Kau harus tenang agar bisa bertemu dengannya," kata Acha mencoba menenangkan.
__ADS_1
Bukannya tenang, Arman justru semakin marah. "Istri kau bilang? Sejak kapan aku punya istri?! Apa kau sengaja menyindirku yang tidak kunjung menikah?!" geramnya. Dia melotot dan mengarahkan pisau ke arah Acha.
"Arkh!" Acha reflek berteriak.
"Menjauh!" Ezra mendorong Acha menjauh. "Kau hanya membuang waktu saja!" timpalnya. Lalu dia dengan cepat mengunci kedua tangan Arman ke balik punggung. Usahanya sukses membuat pisau di tangan Arman lepas.
"Cepat suntik dia!" perintah Ezra yang langsung dituruti oleh perawat.
Dalam sekejap Arman jatuh tak sadarkan diri. Dia dibawa kembali ke ruangannya.
Sementara itu, Acha hanya mematung. Mengingat sekarang adalah pengalaman pertamanya menghadapi orang gila secara langsung. Menurutnya, Ezra sepertinya lebih berpengalaman. Namun lelaki tersebut masih saja bersikap tak peduli kepadanya.
Di pagi hari, Acha membuat sarapan. Dia sengaja membuat dua sandwich karena salah satunya akan diberikan pada Ezra.
Pintu kamar Ezra diketuk oleh Acha. Dengan wajah cemberut, Ezra membuka pintu.
__ADS_1
"Apa kau tak punya kerjaan? Kenapa pagi-pagi sekali sudah mendatangi kamar lelaki?" tukas Ezra.
"Nggak. Bukan begitu, Kak. Kebetulan aku buat sarapan berlebih." Acha menyodorkan sandwich buatannya.
"Maaf. Aku tidak makan makanan begitu. Berhentilah mengajakku bicara! Dan berhentilah memanggilku kakak! Memangnya aku kakakmu apa?!" Ezra menutup pintu begitu saja. Anginnya sontak menghantam wajah cantik Acha.
"Dia lebih parah dibanding dulu," keluh Acha. Menyalang ke pintu kamar Ezra. "Oke kalau itu maumu! Aku tidak akan memanggilmu kakak dan tak akan mengajakmu bicara lagi!" ucapnya. Lalu kembali masuk ke kamar.
Hari itu Acha memiliki jadwal konsultasi dengan pasien yang rutin datang setiap seminggu sekali. Dokter pembimbingnya menyuruh Acha menggantikan sebagai bentuk pengalaman.
Sekarang Acha membaca identitas dan riwayat kesehatan pasien yang akan ditanganinya. Dia mengerutkan dahi karena merasa mengenal nama pasien tersebut.
"Tunggu dulu. Alandra Fatih? Bukan kah itu nama Kak Alan?" gumam Acha sambil memegangi tengkuk. Dia merasa yakin dan juga tidak.
"Berpikirlah positif. Orang seperti Kak Alan nggak mungkin kena gangguan mental. Dia sekarang sedang di luar negeri kan?" imbuh Acha seraya membayangkan sosok Alan. Tak lama kemudian perawat datang dan memberitahukan bahwa pasien bernama Alan akan masuk.
__ADS_1
Acha lantas mempersilahkan masuk. Benar saja, setelah melihat pasien bernama Alan itu, dirinya dibuat terkejut. Sebab pasien tersebut memang adalah Alan yang Acha kenal.
"Acha?" Sama seperti Acha, Alan tentu juga mengenali gadis dari masa lalunya.