Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 54 - Masalah Keluarga


__ADS_3

...༻〇༺...


Acha terkesiap. Dia seolah terhipnotis dengan tatapan Bimo. Hingga dirinya tak mampu mengalihkan pandangan.


"Aku tahu kau juga menyukaiku," kata Bimo.


"Enggak! Kak Bimo--" ucapan Acha terhenti saat Bimo tiba-tiba memberikan ciuman.


Mata Acha membulat. Dia merasakan darah disekujur badannya berdesir hebat. Dirinya mematung sesaat. Membiarkan bibir Bimo memagut bibirnya yang ranum.


Ciuman tak berlangsung lama. Acha buru-buru mendorong Bimo hingga tautan bibir mereka terlepas.


"Ini salah, Kak!" ujar Acha.


"Aku tahu. Tapi semakin aku menahannya, rasanya aku akan menggila," sahut Bimo. "Bayangkan! Aku bisa melihatmu di setiap waktu. Bahkan di rumah yang aku tinggali," sambungnya.


Acha hanya membisu. Dia tidak tahu harus berkata apa. Segalanya begitu rumit baginya.


"Tapi kalau kau memang tidak menyukaiku, aku akan pergi," ungkap Bimo.


"Pergi?" Acha mengerutkan dahi.


"Ya, aku tidak bisa terus tinggal di sini karena ada kau. Perasaanku akan menjadi lebih kuat," tutur Bimo.


"Maaf atas apa yang baru saja kulakukan tadi. Itu tak akan terjadi," sambung Bimo sembari beranjak meninggalkan Acha. Dia terlanjur kecewa.


Acha menggigit bibir bawahnya. Dia mengalami dilema. Karena menyukai Bimo, dirinya tentu merasa sedikit luluh.


"Nggak bisa, Cha! Ini salah." Acha mencoba memperingatkan dirinya sendiri. Dia segera mematikan televisi dan kembali ke kamar.

__ADS_1


Saat tengah malam, terdengar suara keributan dari lantai bawah. Acha yang tidur, jadi terbangun karena itu. Ia lantas keluar dari kamar untuk memeriksa.


Acha melihat Bimo berdiri di dekat tangga. Cowok itu sudah keluar lebih dulu.


Acha segera berdiri ke sebelah Bimo. Dari sana dirinya bisa melihat kalau ibunya dan Rizal bertengkar hebat.


"Kenapa mereka bisa bertengkar begitu?" tanya Acha.


"Entahlah. Aku tidak pernah bisa memahami masalah orang dewasa," jawab Bimo seraya menoleh menatap Acha. "Mau mencoba melerai mereka?" ajaknya.


Acha langsung menggeleng. "Kita pasti akan kena marah," sahutnya.


Bimo tersenyum dan mengangguk. "Aku mau pergi. Aku tidak tahan terus mendengar mereka bertengkar. Apa kau mau ikut?" ajaknya.


"Kemana?" tanya Acha.


"Kemana saja," jawab Bimo seraya beranjak dari hadapan Acha.


Hari demi hari pertengkaran Mira dan Rizal semakin parah. Mereka selalu berdebat di setiap waktu. Keduanya bahkan juga memperdebatkan hal kecil. Sepertinya keharmonisan hubungan mereka hanya terjadi di awal saja.


Faktor pertengkaran mereka tidak lain adalah masalah ekonomi. Serta perbedaan pendapat yang begitu intens. Sebagai wanita karir, Mira terkadang berusaha mendominasi keputusan dibanding Rizal, dan Rizal benci itu. Pernikahan yang dibangun selama empat bulan lebih, harus terancam bubar.


Plak!


Semua semakin berantakan saat Rizal tak bisa menahan diri. Satu tamparan dia layangkan ke wajah Mira di suatu malam. Parahnya Acha dan Bimo sukses memergoki hal tersebut.


"Papah! Apa itu perlu dilakukan?!" timpal Bimo.


"Anak nakal sepertimu tidak perlu ikut campur!" geram Rizal sambil mengacungkan jari telunjuk ke wajah Bimo.

__ADS_1


Sementara Acha, tampak memeriksa keadaan Mira. Memastikan sang ibu tidak kesakitan. Terlebih Mira menangis akibat tamparan Rizal.


"Maafkan Mamah, Cha... Sepertinya kau tidak bisa mendapatkan pengganti Papah," ucap Mira.


"Nggak akan ada yang bisa gantiin Papah," tanggap Acha dengan mata berkaca-kaca. Dia segera berpelukan dengan Mira.


Rizal terlihat bergegas pergi dari rumah. Sedangkan Bimo diam mematung menatap Acha dan Mira. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang dilakukan Rizal.


Usaha Rizal untuk meyakinkan Bimo menyetujui pernikahan begitu bisa dipercaya. Ayahnya tersebut berjanji akan menjaga sikap dan menjadi lebih baik. Namun sepertinya Rizal sudah melanggar janjinya.


Sebenarnya sejak awal Bimo meragukan pernikahan Rizal dan Mira. Sebagai anak, dia tahu bagaimana sikap Rizal. Itulah alasan kenapa dirinya tak pernah akur dengan sang ayah. Apalagi sikap Rizal pada Bimo dahulu lebih parah dibanding sekarang. Tidak jarang Bimo kena pukuli. Mungkin itulah alasan Bimo tumbuh menjadi anak yang bebal.


Masalah keluarga membuat Acha menjadi murung. Padahal ulangan semester telah tiba. Ia bahkan mengabaikan Alan yang beberapa kali ingin bertemu.


Di sisi lain, Bimo dan anak kelas tiga lainnya sedang mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan.


Tak terkecuali Ezra. Dia sudah tak pernah bicara dengan Acha lagi setelah yakin mendapatkan penolakan. Tetapi dia mencemaskan Acha karena menyaksikan gadis itu akhir-akhir ini selalu murung.


Kini Acha sendirian di halte bus. Karena pertengkaaran Rizal dan Mira, hubungannya dengan Bimo juga menjadi renggang. Terlebih Mira memutuskan akan menggugat cerai Rizal.


Acha duduk termenung. Ia memasang tatapan kosong.


Ezra yang sejak tadi memperhatikan, segera duduk ke sebelah Acha. Namun kedatangannya tetap membuat Acha bergeming.


"Jangan melamun. Nanti kesambet setan loh," ujar Ezra. Membuat Acha langsung menoleh.


"Kak Ezra..." lirih Acha dengan wajah pucatnya. Bukan karena sakit, melainkan karena dirinya tidak bersemangat hingga tak memperdulikan penampilan lagi.


"Pucat banget muka lo. Jangan-jangan udah kesambet setan beneran," tukas Ezra.

__ADS_1


Acha hanya mendengus dan menundukkan kepala. "Biarin aja kesambet setan," tanggapnya malas.


__ADS_2