Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 24 - Tiga Cowok Aneh


__ADS_3

...༻〇༺...


Alan tercengang atas perbuatan Ezra. Apalagi saat cowok itu tampak berusaha pergi meninggalkan balkon dengan langkah santai.


"Eh! Ngeloyor aja lo ya!" geram Alan. Dia segera mengejar Ezra. Menarik baju cowok tersebut sampai membuat langkahnya terhenti.


"Lo pikir semuanya selesai dengan kata sorry? Lihat jaket gue sekarang!" timpal Alan. Ia menyeret Ezra ke meja billiard. Mendorong cowok tersebut hingga tersentak.


Ezra menggertakkan gigi kesal. Dia mengepalkan dua tangan. Tatapannya tertuju ke arah Acha. Begitu tajam dan penuh amarah.


Ezra memutar tubuhnya menghadap Alan. Dia nyaris saja mendapat balasan siraman es krim dari Alan. Akan tetapi Ezra dapat menghindarinya dengan baik.


"Sialan!" Alan yang kesal menghempaskan gelas es krim ke lantai. Gelas kaca itu jadi pecah berkeping-keping. Dia mendorong dada Ezra dengan satu kakinya.


Ezra pun jatuh ke lantai. Ia tampak kesakitan akibat hal tersebut.


Acha sontak berdiri dari tempat duduk. Dia satu-satunya orang yang cemas di sana. Sementara semua teman-teman Alan terlihat biasa saja. Beberapa dari mereka bahkan ada yang tersenyum saat menyaksikan Ezra jatuh.


"Kak Alan! Sudahlah!" pekik Acha sembari berlari mendekat. Namun tidak digubris sama sekali oleh Alan.


"Dasar parasit! Lo pikir gue nggak tahu kalau yang lo lakukan tadi itu sengaja, hah?!" timpal Alan seraya mendorong kepala Ezra berulang kali.


Ria terlihat mendekat sambil membawa es krimnya yang masih banyak. Dia memberikan es krim itu pada Alan.


"Gue udah kenyang," ucap Ria seraya menyodorkan es krim pada Alan. Saat itulah keduanya saling berseringai. Alan tentu tahu maksud Ria memberikan es krim kepadanya. Apalagi kalau bukan untuk disiramkan pada Ezra.


Ketika Alan hampir menyiram es krim ke Ezra, Acha langsung berlari untuk menghalangi. Dia berdiri tepat di depan Ezra. Dengan tujuan agar Alan tak bisa menyiram es krim pada cowok itu.


"Stop, Kak! Ini sudah berlebihan!" kata Acha sambil merentangkan tangan. Dia berusaha melindungi Ezra.


"Cha, jangan ikut campur deh. Lo sama sekali nggak tahu bagaimana hubungan Alan dan Ezra!" bukannya Alan, justru Ria yang menimpali Acha.


"Aku tahu setelah melihat yang terjadi!" balas Acha. Dahinya berkerut dalam. "Kalau Kak Alan terus begini, aku nggak bisa terus dekat sama Kakak. Aku kira Kak Alan baik!" tukasnya.


Alan mendengus kasar sambil membuang muka. Ia tak bisa berkata-kata. Sungguh, dirinya sekarang sangat ingin meledakkan kemarahan pada Acha. Tetapi tidak bisa dilakukannya karena teringat dengan tujuannya untuk mendekati Acha.

__ADS_1


Melihat Alan yang terdiam, Acha memanfaatkan kesempatan itu untuk membantu Ezra berdiri. Namun cowok tersebut sudah berdiri sendiri. Tanpa mengucapkan apapun, Ezra pergi begitu saja.


"Lo lihat kan betapa belagunya dia!" tukas Ria. Ketika melihat Ezra yang tak menghargai bantuan dari Acha.


Acha hanya menundukkan kepala. Dia menatap sebal Alan dan segera mengambil tasnya ke sofa. Setelah itu, Acha melangkah cepat meninggalkan balkon.


"Udah, Lan. Lupain aja rencana lo untuk dekatin cewek itu. Bikin repot aja." Ria berbisik sembari memegang lengan Alan. Tepat setelah Acha pergi.


Alan menghempaskan pegangan tangan Ria. Tanpa sepatah kata pun, dia melepas jaketnya yang kotor karena es krim. Lalu beranjak untuk mengejar Acha. Dirinya berlari saat melihat Acha sudah berdiri di pinggir jalan.


"Acha!" panggil Alan.


Acha lantas menoleh. Raut wajahnya tampak datar. Membiarkan Alan datang menghampiri.


"Maafkan aku..." ungkap Alan. "Kau benar! Apa yang kulakukan tadi itu berlebihan," sambungnya. Terpaksa berucap begitu.


'Huh! Ternyata tekadnya untuk balas dendam sama Kak Bimo besar juga,' komentar Acha dalam hati. Dia sebenarnya puas bisa membuat Alan takluk. Meski dirinya tak sepenuhnya percaya kalau cowok itu bersungguh-sungguh.


"Untuk sekarang aku akan maafin. Aku harap nanti nggak akan melihat Kak Alan begitu lagi. Baik sama Kak Ezra atau orang lain," tanggap Acha.


Acha mengangguk. Dia dan Alan segera menaiki motor. Saat hendak pergi meninggalkan parkiran cafe, Acha berhasil memergoki Ezra yang memandangi dari jendela. Cowok itu langsung mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri mengelap meja.


...***...


Di sepanjang jalan, Acha merasa risih dengan rok abu-abunya yang ketat. Dia tak bisa berhenti memegangi rok itu. Jujur saja, saat menyuruh Alan ngebut untuk mennggalkan Bimo sebelumnya, Acha sangat cemas.


'Gue akan lebih sering naik motor. Sepertinya gue harus beli rok baru yang lebih enak dipakai,' batin Acha.


Butuh dua puluh menit lebih untuk tiba di rumah Acha. Alan berhenti dengan pelan saat sudah di depan pagar.


"Makasih ya, Kak!" ujar Acha sembari turun dari motor.


"Iya. Besok kita bisa pergi lagi kan?" sahut Alan.


"Bisa. Nanti chat aja aku." Acha tersenyum lebar. Lalu segera masuk ke rumah.

__ADS_1


Sementara itu, di jendela lantai dua ada Bimo yang mengamati. Dia sangat marah saat melihat Acha dan Alan saling tersenyum. Usai menyaksikan adiknya masuk, Bimo buru-buru ke kamar Acha.


Pintu perlahan terbuka. Acha muncul dalam keadaan masih mengenakan seragam sekolah. Cewek itu kaget saat melihat Bimo ada di kamarnya. Kakak tirinya tersebut terlihat marah.


"Kak Bimo!" seru Acha.


"Kau kenapa mau jalan sama Alan?!" timpal Bimo yang langsung bicara ke intinya.


"Terserah aku dong, Kak. Lagi pula apa peduli Kakak?" sahut Acha seraya menggantung tas ranselnya ke dinding dengan rapi.


"Cha! Dia dekatin kamu karena ingin mempermainkanmu! Dia melakukannya karena aku!" kata Bimo. Berupaya meyakinkan Acha.


"Kepedean banget Kak Bimo. Kak Alan dekatin aku karena beneran suka sama aku!" sahut Acha. Kini dia terlihat sibuk melepas kaos kakinya secara bergantian. "Kak Bimo mending keluar! Aku mau ganti baju!" usirnya yang terkesan seperti tak peduli dengan perkataan Bimo.


Bimo memutar bola mata jengah. Ia menarik tangan Acha. Memutar tubuh gadis itu menghadap ke arahnya.


"Aku melakukan ini karena peduli kepadamu. Aku tak mau kau terlibat dengan dunia geng motor! Jika kau sudah masuk ke dunia itu, kau akan sulit untuk keluar!" pungkas Bimo. Serius sekali.


"Ini hidupku. Akulah yang berhak memilih mau bagaimana!" sahut Acha tertantang. Dia dan Bimo saling terpaku untuk bertukar pandang.


"Mamah kamu akan kecewa, Cha." Bimo mencoba menakut-nakuti Acha.


"Aku nggak masalah. Aku melakukan ini sebenarnya karena terinspirasi dari Kakak. Sepertinya seru bisa membuat orang tua marah bukan?" sarkas Acha.


"Kalau begitu, kau bisa bergabung ke geng motorku saja." Bimo menyarankan.


"Enggak! Nggak seru kalau begitu, Kak!" tolak Acha. Dia menarik tangannya dari genggaman Bimo. Kemudian mendorong cowok itu keluar dari kamar.


"Cha!" Bimo berusaha bicara lagi.


"Aku udah terlanjur dekat sama Kak Alan. Aku rasa sebentar lagi kami akan pacaran!" ungkap Acha yang langsung menutup pintu kamar. Tepat sebelum Bimo sempat bicara.


"Achaa!!" Bimo kini hanya bisa menggeram sambil mengacak-acak rambutnya. Dia tidak tahu kenapa dirinya merasa sangat kesal. Entah karena cemburu atau karena kemenangan Alan yang sudah berhasil mendekati adik tirinya.


Sementara itu di kamar, Acha menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia mengingat tiga cowok dominan yang hari ini sukses membuatnya kesal. Dari mulai, Alan, Bimo, bahkan Ezra.

__ADS_1


"Dasar cowok. Semuanya pada aneh," gumam Acha. Berkeluh kesah.


__ADS_2