
...༻〇༺...
Hubungan Bimo dan Acha kembali membaik. Mereka sesekali bahkan belajar bersama sambil menonton televisi.
Usai sarapan, Acha dan Bimo berangkat ke sekolah. Kali ini Acha akan mulai kembali pergi ke sekolah bersama sang kakak.
"Apa Alan ada menghubungimu?" tanya Bimo sambil sibuk mengemudi motor.
"Nggak ada sama sekali tuh. Minta maaf aja nggak," jawab Acha seraya mendengus kasar.
"Aku akan kasih pelajaran sama dia," sahut Bimo bertekad.
"Jangan, Kak! Biarin aja. Lagian kan nggak ada hal yang terjadi. Aku baik-baik saja," ujar Acha.
Bimo membisu. Dia merasa semakin marah pada Alan saat melihat kebaikan Acha. Bimo bertekad akan memberi pelajaran terhadap cowok itu sampai kapok.
Sesampainya di sekolah, Acha dan Bimo pergi ke kelas masing-masing. Tak lama kemudian bel pertanda masuk terdengar. Kebetulan kala itu Acha dan Sitha mendapat tugas untuk mengambil buku ke perpustakaan.
Dari kejauhan Acha bisa melihat Ezra yang berdiri di depan meja piket guru. Cowok tersebut sepertinya datang terlambat ke sekolah.
__ADS_1
Ada yang menarik perhatian Acha saat itu. Yaitu wajah Ezra yang tampak lebam di beberapa sudut.
"Kak Ezra mukanya sering banget babak belur begitu. Banyak yang mengira dia suka berantem pas di luar sekolah," cetus Sitha memberitahu.
"Benarkah? Tapi kayaknya Kak Ezra bukan cowok yang suka berantem deh," ungkap Acha.
"Dari mana lo tahu. Kenal aja nggak. Kak Ezra kan penyendiri. Dia nggak suka temenan sama orang. Ya udah! Ayo kita ke perpus!" tanggap Sitha yang segera mengajak Acha pergi ke perpustakaan.
Setelah belajar pelajaran bahasa, Acha dan teman sekelasnya melakukan praktik olahraga. Praktik kala itu berjalan lancar.
Saat Acha berjalan menuju kelas, dia melihat Ezra. Cowok itu terlihat keluar dari kelas Acha.
Langkah Ezra sontak terhenti. Matanya tampak terbelalak. Panggilan Acha jelas berhasil membuatnya kaget. Perlahan dia menoleh dan berusaha bersikap normal.
"Iya? Kenapa?" tanya Ezra sambil mengangkat dagu.
"Kak Ezra ngapain ke kelasku?" Acha justru berbalik tanya.
"Ke kelas lo? Nggak! Gue nggak ke sana," bantah Ezra.
__ADS_1
"Idih! Aku baru aja lihat Kakak keluar dari kelasku," timpal Acha tak percaya. "Kakak nggak mencuri kan?" duganya asal.
"Eh! Gue bukan orang sehina itu tahu nggak!" Ezra menampik tegas. Ia menghela nafas panjang sambil memejamkan mata dengan rapat. Seolah Ezra telah membuat keputusan sulit.
"Gue yakin lo bakalan tahu apa alasan gue masuk ke kelas lo!" ucap Ezra. Dia langsung mencoba beranjak. Akan tetapi Acha sigap memegangi tangannya. Hingga Ezra urung pergi.
Jujur saja, sejak tadi Acha mengamati wajah Ezra yang dipenuhi lebam. Dia merasa penasaran sekaligus cemas.
"Muka Kak Ezra kenapa lebam-lebam begitu sih? Kakak nggak berantem kan? Karena menurut rumor yang beredar kau--"
"Iya. Gue berantem! Terus, lo mau apa? Bantuin gue bisa?" potong Ezra. Dia bergerak satu langkah untuk mendekati Acha. Ezra terdiam dalam sepersekian detik.
"A-aku mau bantu kalau bisa..." gagap Acha. Jantungnya berdebar saat posisi Ezra begitu dekat dengannya.
"Lo nggak bakalan bisa," kata Ezra. Dia akhirnya benar-benar pergi dari hadapan Acha.
Acha hanya menghembuskan berat dari mulut. Ia segera masuk ke kelas. Ketika duduk, dirinya menemukan secarik kertas di bawah meja. Setelah sekian lama, Acha akhirnya menerima surat itu lagi. Dia langsung membacanya.
'Selama beberapa hari ini aku kesulitan. Tapi kehadiranmu membuatku bisa bertahan. Senyumanmu itu benar-benar seindah mentari yang menyinari dunia. Maafkan aku karena sempat terpikir ingin menyerah pada perasaan ini...' begitulah isi dari surat yang dibaca Acha.
__ADS_1
"Kak Ezra?" gumam Acha. Dia kini paham mengenai apa yang dibicarakan Ezra tadi. Benarkah cowok itu yang mengirim surat misterius kepadanya?