Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 66 - Season 2 [Tidur Satu Kamar]


__ADS_3

Ketika Yono pergi dari asrama, Acha langsung bergerak. Dia menginjak kaki orang yang membekap mulutnya sekarang.


"Ugh!" Orang itu sontak memekik kesakitan.


Acha buru-buru menjauh dan berbalik badan. Dia kaget saat melihat orang yang tadi membekap mulutnya adalah Ezra.


"Maaf, Kak!" Acha langsung minta maaf. "Kau beruntung aku tidak menendang senjata pribadimu," sambungnya seraya memeriksa keadaan Ezra.


"Bisa-bisanya kau bicara begitu..." ucap Ezra sembari menahan rasa sakit.


"Ayo... Biar aku obati." Acha membawa Ezra untuk duduk. Dia segera memberikan obat agar bisa mengurangi rasa sakit di kaki lelaki tersebut.


"Kau harus menelepon polisi sebelum orang gila itu pergi terlalu jauh," cetus Ezra.


Acha mengangguk mengerti. Dia segera melakukan apa yang dikatakan Ezra. Setelahnya, Acha masuk ke kamar. Ia mendengus kasar tatkala menyaksikan keadaan kamarnya berantakan seperti kapal pecah.


"Apa kau lupa mengunci pintu kamarmu?" tanya Ezra yang masih duduk di bangku.


"Sepertinya begitu." Acha memegangi kepala.


"Dasar ceroboh," cibir Ezra. Mata Acha langsung mendelik ke arahnya. Gadis itu segera masuk ke kamar dan membanting pintu.

__ADS_1


"Aaaarkhhh!!!" Belum sempat satu menit di kamar, Acha berteriak nyaring. Dia berlari keluar dan muntah.


"Kenapa lagi?" tanya Ezra yang masih belum beranjak.


"Ada kotoran di kamarku. Menjijikan sekali! Bisa-bisanya manusia berak sembarangan begitu," jawab Acha yang masih berusaha menenangkan diri.


"Namanya juga orang gila. Kau sendiri adalah psikiater, kau pastinya lebih tahu," tanggap Ezra.


"Tapi ini keterlaluan!" Acha menghentakkan kakinya dengan kesal. Entah sampai kapan dia akan menderita dengan pekerjaannya sendiri.


"Ya sudah. Malam ini kau bisa tidur di kamarku. Aku akan mengurus kotoran itu kalau kakiku sudah mendingan," kata Ezra.


"Hanya tidur. Kau memikirkan apa? Wajahmu tiba-tiba memerah begitu," balas Ezra.


"Merah! Enak saja! Aku begini karena muntah!" tepis Acha gelagapan.


"Kalau kau tidak mau, tidur saja di kamarmu atau di kamar kosong di sebelah," ujar Ezra sembari beranjak kamarnya.


Acha tak menghiraukan. Dia memilih tidur ke kamar kosong sebelah. Namun seberapa keras Acha mencoba tidur, dirinya tidak bisa.


Karena menghadapi pasien aneh tadi siang, Acha jadi ketakutan. Belum lagi dengan pasien gila yang sudah buang air besar di kamarnya.

__ADS_1


"Apa aku ke hotel saja? Tapi aku tetap akan sendirian..." gumam Acha.


Tiba-tiba terdengar suara berisik dari atap. Mendengar hal itu, Acha langsung berlari keluar kamar. Tanpa pikir panjang, dia mengetuk kamar Ezra. Lelaki tersebut lantas membukakan pintu.


"Apa tawaranmu tadi masih berlaku?" tanya Acha.


Ezra menatap malas, lalu membuka lebar pintunya. "Masuklah!" suruhnya.


Acha pun masuk ke kamar Ezra. Dia disuruh tidur di ranjang.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Acha. Mencemaskan Ezra.


"Aku juga akan tidur di sini. Jangan berpikiran kotor! Aku tidak akan menyentuhmu." Ezra menghempaskan dirinya lebih dulu ke ranjang.


Acha merasa ragu. Tetapi dia tidak punya pilihan lain selain tidur di ranjang yang sama dengan Ezra. Mengingat Acha sedang butuh teman. Dan Ezra adalah satu-satunya orang yang bisa menemaninya sekarang.


Saat pagi tiba, Acha perlahan membuka mata. Penglihatannya langsung disambut oleh pemandangan dari Ezra yang bertelanjang dada. Lelaki itu tampak memiliki tato di punggungnya.


Kelopak mata Acha terbuka lebar. Dia memejamkan matanya lagi saat melihat Ezra menoleh.


"Aku sudah tahu kau sudah bangun!" tegur Ezra.

__ADS_1


__ADS_2