Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 62 - Season 2 [Bertemu Rival]


__ADS_3

...༻⊛༺...


Alan tampak terkesima menyaksikan sosok Acha. Jujur saja, dia sangat merindukan gadis itu.


Selama beberapa tahun terakhir, Alan berusaha keras melupakan Acha. Akan tetapi perasaannya pada gadis tersebut malah semakin dalam.


"Duduklah!" pinta Acha seraya menunjuk sofa. Dia segera duduk lebih dulu di sana.


"Apa kau jadi dokter di sini?" tanya Alan yang langsung duduk di hadapan Acha. Dia merasa antusias sekali.


Tak lama kemudian, dua lelaki berbadan kekar masuk. Mereka berdiri di belakang sofa tempat Alan duduk.


Dahi Acha berkerut. Dia tentu bertanya-tanya mengenai siapa dua lelaki berbadan kekar tersebut.


"Mereka pengawalku. Jangan dihiraukan!" ujar Alan. Dia langsung menoleh ke arah dua pengawalnya. "Kali ini kalian tunggu di luar!" titahnya.


"Tapi, Tuan. Kami--"


"Apa kalian berani membantahku?" potong Alan. Kedua pengawalnya lantas keluar dari ruangan.


Acha tercengang menyaksikan pemandangan tersebut. "Wah! Apa-apaan itu?" tukasnya.

__ADS_1


"Mereka hanya berjaga-jaga," kata Alan.


Acha mengangguk. Dia berusaha bersikap normal kembali. "Jadi bagaimana kabar Kakak sekarang?" tanyanya.


"Entahlah. Rumit mungkin. Kau pasti sudah mengetahuinya lewat riwayatku," tanggap Alan.


"Ya, kau menderita bipolar. Apa itu masih terjadi akhir-akhir ini?"


"Iya. Tepatnya empat hari yang lalu. Aku sampai tidak bisa tidur semalaman. Tapi aku rasa sekarang semuanya akan berubah! Aku yakin bisa sembuh kalau kau yang jadi dokternya," imbuh Alan.


"Aku?" Acha menunjuk dadanya sendiri dengan perasaan heran.


Acha tersenyum kecut mendengar perkataan Alan. Menurutnya lelaki itu bersikap aneh. Namun Acha memilih mengabaikan dan fokus dengan konsultasi.


Alan menjawab pertanyaan yang diberikan Acha. Setelah itu, Acha meresepkan obat untuk lelaki tersebut.


"Kau bisa mengambil obatnya di apotek!" kata Acha.


"Baiklah." Alan mengangguk sembari memperhatikan resep obat yang diberikan Acha.


"Aku rasa ada obat yang kurang," cetus Alan.

__ADS_1


"Aku sudah memberikan resep sesuai dengan keluhanmu," jelas Acha yang merasa heran.


"Tapi semua ini masih kurang!" Alan bersikeras. Dia melangkah lebih dekat ke hadapan Acha. Gadis itu lantas membulatkan mata. Acha tentu kaget melihat Alan tiba-tiba berjalan mendekatinya.


"Ka-kak Alan..." Acha mengedipkan matanya dengan cepat.


"Kau tahu apa yang kurang? Nomor teleponmu. Kalau ada hal mendesak, aku akan membutuhkanmu," ujar Alan. Dia menyodorkan kertas resep obat kepada Acha. Menyuruh gadis itu untuk menuliskan nomor telepon.


"Kau tidak perlu bantuanku. Aku sudah meresepkan obat penenang untuk kau minum. Lagi pula aku bukan dokter yang dibayar untuk fokus pada satu pasien saja," sahut Acha.


"Jadi kau menolak memberikan nomormu?" Alan merasa kecewa.


"Maaf, Kak..." Acha tetap menolak.


"Ya sudah. Aku akan mencari cara lain kalau begitu." Alan memasukkan resep obatnya ke saku. Dia melangkah pergi ke luar dari ruangan. Saat itulah Acha mendengus lega.


"Kenapa auranya sangat mengerikan?" gumam Acha sambil memegangi dada.


Di luar, Alan menyuruh satu pengawalnya mengambil obat. Sementara dia dan pengawal yang satunya berjalan lebih dulu menuju mobil.


Ketika melewati lorong rumah sakit, Alan tidak sengaja berpapasan dengan Ezra. Keduanya sontak berhenti melangkah dan sama-sama mematung.

__ADS_1


__ADS_2