Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 67 - Season 2 [Pasien Tetap]


__ADS_3

...༻⊛༺...


Deg!


Acha langsung merubah posisi menjadi duduk. Dia sebenarnya merasa malu bukan kepalang.


Ezra tersenyum melihat Acha yang salah tingkah. "Aku sudah membersihkan kamarmu. Kau bisa kembali ke sana," ucapnya.


"Benarkah? Kapan? Kenapa tidak bilang padaku?" cecar Acha.


"Kau tidur seperti beruang. Jadi aku malas membangunkanmu. Takut kena cakar," sahut Ezra.


"Kau sendiri sudah mirip berandalan! Eh, tidak! Pantas disebut preman!" balas Acha tak mau kalah.


"Bukankah harusnya aku mendapat terima kasih?" Ezra mendekati Acha. Dia membungkuk dan menatap gadis itu dengan serius. Saking dekatnya, Acha bisa mencium aroma sabun yang melekat di badan Ezra.


"Kau bau sabun Lux," komentar Acha sembari tergelak. Mengingat sabun yang disebutkannya adalah sabun khusus wanita.

__ADS_1


Mata Ezra mengerjap cepat. Komentar Acha membuatnya langsung menjauh. "Kau sebaiknya pergi!" timpalnya.


"Oke, Tuan Lux. Aku pergi sekarang. Terima kasih." Acha segera beranjak sambil tersenyum geli. Saat tiba di kamar, dia berdecak kagum melihat keadaan di sana. Ezra ternyata tidak hanya membersihkan kotoran, tetapi merapikan semua barang di kamar Acha.


"Ada beberapa sisi dari dirinya yang tak pernah berubah," imbuh Acha. Dia merasa harus melakukan sesuatu untuk berterima kasih pada Ezra.


Waktu menunjukkan jam 9. Acha berada di rumah sakit untuk bekerja seperti biasa. Kini dia tengah duduk menikmati es teh.


Atensi Acha teralih ketika melihat Ezra keluar dari ruangan. Dia terkejut melihat penampilan lelaki itu.


Ezra tampak mengenakan pakaian badut. Lelaki tersebut tidak sendiri. Ia ditemani oleh perawat yang juga terlihat berpenampilan sama.


"Tertawa saja sepuasmu!" timpal Ezra saat melewati Acha.


"Kenapa mereka berpakaian begitu?" Acha bertanya pada Fitri.


"Sepertinya mereka ingin membujuk pasien bicara. Makanya Dokter Ezra melakukan itu. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia bekerja keras sampai begitu. Tiga hari yang lalu aku melihatnya memakai wig," jelas Fitri.

__ADS_1


Senyuman Acha langsung memudar. Entah kenapa dia merasa dikritik secara tidak langsung oleh Fitri. Acha merasa disindir kalau dirinya tidak bekerja keras seperti Ezra.


"Tapi bukankah itu berlebihan?" cetus Acha.


"Aku juga berpikir begitu. Tapi Dokter Ezra rela begitu demi pasiennya," sahut Fitri.


Acha yang malas meneruskan pembicaraan, memilih pergi ke toilet.


Bertepatan dengan itu, seorang pasien baru datang. Pasien tersebut begitu sulit dibawa masuk oleh petugas. Sehingga para pihak keamanan harus menyeretnya secara paksa.


"Sialan! Aku tidak gila! Bukan aku yang melakukannya! Aku akan buktikan pada kalian!" Pasien itu terus menggerutu. Dia tidak lain adalah Alan. Pakaiannya tampak berlumuran darah.


Karena terus memberontak, perawat menyuntik Alan dengan obat bius. Lelaki itu otomatis tidak sadarkan diri.


Acha baru saja keluar dari toilet. Dia langsung mendapat kabar mengenai pasien baru. Acha merasa takut menghadapi pasien berbahaya. Sebab Alan disebutkan sudah membunuh seseorang. Itulah alasan lelaki tersebut dibawa ke rumah sakit jiwa.


"Apa tidak ada dokter senior? Aku tidak bisa melakukannya!" ujar Acha.

__ADS_1


"Dokter senior sedang tidak ada sekarang! Aku sudah mencari mereka ke ruangan!" sahut Fitri.


Acha menggaruk kepalanya. Dia tidak punya pilihan selain memeriksa Alan. Saat tiba di ruangan Alan berada, Acha reflek mengangakan mulut. Bagaimana dia tidak kaget? Pasien gila yang disebut sudah membunuh orang adalah Alan. Lelaki yang sudah dikenalnya sejak SMA.


__ADS_2