Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 30 - Pengakuan Ezra


__ADS_3

...༻〇༺...


Ezra menyunggingkan senyuman saat melihat bagaimana Bimo memperlakukannya dengan kasar.


"Kak Bimo!" sementara Acha lekas berseru. Dia tentu tak mau Ezra kena pukul Bimo.


"Sebelum lo nonjok muka gue, mending lo dengar penjelasan dari adik lo dulu," ujar Ezra. Dia tampak tenang sekali menghadapi Bimo yang sedang menunjukkan kegarangan.


Perlahan Bimo melepas kerah baju Ezra. Saat itulah Ezra tersenyum lebar sambil merangkul Acha.


"Ayo bilang sama kakakmu kalau kita pacaran!" cetus Ezra. Membuat Acha seketika membulatkan mata. Hal serupa tentu juga dilakukan Bimo.


Acha meliarkan bola matanya ke segala arah seraya menggigit bibir bawah. Sekarang dia harus menanggung akibat dari kebohongan yang dibuatnya.


"Cha, apa itu benar?" tanya Bimo tak percaya.


Acha memejamkan mata sambil menghela nafas. Dia segera menjawab, "Kak Ezra benar. Kami pacaran!"


"Apa?" Bimo tentu kaget mendengar pengakuan Acha.


"Tuh! Dengarkan." Ezra melepas rangkulannya dari Acha. "Ya udah. Sampai ketemu pulang sekolah nanti," pamitnya sembari menepuk pelan pundak Acha. Ezra segera beranjak pergi. Kini hanya tinggal Acha dan Bimo berduaan.


"Aku juga pergi kalau begitu." Acha mencoba pergi. Namun Bimo sigap menghentikan.


"Pengakuanmu tadi bohong kan? Baru kali ini aku melihatmu dekat dengan Ezra. Tidak mungkin kalian tiba-tiba berpacaran. Apalagi akhir-akhir ini kau lebih sering menghabiskan waktu dengan Alan," tukas Bimo yang heran.


Acha memutar tubuhnya menghadap Bimo. Ia berucap, "Kan aku sudah bilang. Aku terinspirasi Kak Bimo. Cewek bisa punya banyak pacar juga kan?"


Acha sebenarnya tak berniat mengaku berpacaran dengan Ezra kepada Bimo. Tetapi dia terpaksa melakukan itu karena tak mau Ezra terkena masalah dengan Bimo. Mengingat tadi Ezra hampir saja dipukul oleh kakak tirinya tersebut. Lagi pula Acha juga tak mau mempermalukan Ezra.


"A-apa?! Jadi itu alasannya? Kau ingin jadi cewek kurang ajar? Apa kau melakukannya karenaku?" timpal Bimo.

__ADS_1


"Aku cuman penasaran." Acha menjawab asal.


Bimo menarik sudut bibirnya ke atas. "Sesuka itu kau pada kakak tirimu ini?" tukasnya seraya memangkas jarak di antara dirinya dan Acha. Mengaitkan helai rambut cewek itu ke daun telinga.


Mata Acha mengedip cepat. Salivanya tertelan satu kali. Debaran jantung itu kembali lagi saat Bimo begitu dekat.


Sebelum Bimo berbuat lebih, Acha dorong cowok itu. "Ish! Jangan kepedean! Aku nggak suka lagi sama Kak Bimo!" tegasnya. Lalu beranjak cepat dari hadapan Bimo. Ia berusaha bersikap senormal mungkin.


"Ah... Acha gemesin banget," gumam Bimo yang terpaku memandangi kepergian Acha. Dia merasa semakin tertarik kepada adik tirinya sendiri. Hingga sesuatu terlintas dalam benak Bimo. Ia terpikir ingin memanfaatkan alasan Acha tadi untuk mendekati cewek tersebut.


"Oke kalau itu mau dia. Bisa dikondisikan." Bimo kembali bergumam. Kini dia merasa percaya diri dengan rencananya.


...***...


Saat pulang sekolah, Acha tak lupa mengirim pesan pada Alan. Ia terpaksa pulang lebih lambat dari biasanya karena harus dihukum membersihkan toilet.


Setibanya di toilet, Acha melihat Ezra sudah ada di sana. Cowok itu sudah sibuk membersihkan toilet khusus cowok.


Dengan langkah pelan Acha menengok Ezra ke dalam toilet. Kebetulan memang pintu toilet sedang dibuka lebar oleh Ezra.


Acha mematung di tempat. Ia kagum dengan melihat keadaan toilet yang sudah harum dan bersih. Ezra terlihat sibuk mengelap kaca di wastafel.


"Kenapa, Sayang? Merindukanku?" sapa Ezra saat menyadari kedatangan Acha.


Pipi Acha sontak bersemu merah. Sayang? Apa-apaan itu?


"Kak Ezra! Apaan sih!" protes Acha seraya menghentakkan salah satu kakinya.


Ezra tersenyum geli. Dia hanya terus fokus membersihkan kaca. Cowok itu tampak bermandikan keringat. Ezra bahkan membuka kancing baju seragamnya. Meskipun begitu, dia masih mengenakan kaos putih dari balik seragamnya.


"Terus ngapain ke sini kalau bukan karena rindu sama pacarnya?" tanya Ezra. Dia sengaja terus menggoda agar Acha kapok dengan kebohongannya.

__ADS_1


"Aku mau minta pengharum. Ada sama kamu kan?" tanggap Acha.


"Tuh!" Ezra menunjuk pengharum lantai yang tergeletak tak jauh darinya.


Acha lantas mengambil pengharum itu dan kembali bersih-bersih di toilet sebelah. Hampir satu jam dia membersihkan toilet. Sedangkan Ezra terlihat baru saja keluar dari toilet cowok. Pertanda cowok itu sudah menyelesaikan tugasnya.


Ezra awalnya ingin pulang lebih dulu. Namun tidak jadi karena tidak tega meninggalkan Acha. Terlebih keadaan sekolah sudah sangat sepi.


Ezra pun mendatangi Acha. Dia langsung menemukan cewek itu sibuk membersihkan closet. Acha terlihat enggan melakukannya. Gadis tersebut meringiskan wajah karena merasa jijik dengan bau yang ada.


Tanpa sepatah kata pun, Ezra menghampiri Acha. Menarik paksa cewek itu keluar dari bilik toilet. Lalu mengambil alih tugas Acha.


"Nggak usah, Kak! Aku bisa--"


"Pegangin!" potong Ezra yang sudah melepas seragam sekolahnya. Kemudian memberikan seragam tersebut pada Acha.


Tanpa rasa jijik, Ezra membersihkan closet dengan cepat dan bersih. Dia seperti orang yang sangat berpengalaman.


Setelah selesai, Ezra membersihkan closet di bilik sebelah. Acha yang melihat jadi merasa tidak enak.


"Udah, Kak. Biar aku aja. Sekarang aku sudah tahu caranya pas melihat kau bersihin tadi," ucap Acha.


Ezra hanya diam. Ia lanjut membersihkan closet kedua. Acha yang bersikeras, mendekat dan berusaha membantu Ezra.


"Nggak usah! Pergi lap cermin aja sana!" hardik Ezra. Tetapi Acha tak menurut.


Byur!


Akibat kecerobohan, Acha tak sengaja mencipratkan air dari closet. Air itu mengenainya dan juga Ezra.


"Kan gue sudah bilang nggak usah!" pekik Ezra sambil mengusap wajahnya yang kena cipratan air closet.

__ADS_1


__ADS_2