
...༻〇༺...
Deg!
Jantung Acha berdebar saat mendengar pernyataan Bimo. Dia sampai mengira apa yang dirinya dengar adalah kesalahan.
"Apa, Kak? Kau bilang apa?" Acha lantas bertanya untuk memastikan.
"Nggak apa-apa. Lupain aja," tanggap Bimo. Tak mau mengulang dua kali pernyataannya. "Gimana? Mau makan siang dulu nggak?" tanyanya. Entah sengaja atau tidak, dia merubah topik pembicaraan.
"Enggak dulu deh, Kak. Aku mau langsung pulang aja." Acha menolak karena pikirannya sekarang risih memikirkan masalah Ezra dan Alan.
Bimo hanya menganggukkan kepala. Mencoba memahami keputusan Acha. Keduanya segera pulang ke rumah. Saat sudah sampai, Acha langsung masuk ke kamarnya.
"Anak itu pasti mikirin Alan sama Ezra," gumam Bimo menduga.
Hari itu Acha hanya berdiam di rumah seharian. Dia menjelajah internet untuk mengetahui perkembangan berita mengenai video viral Alan dan Ezra.
Fakta bahwa Alan adalah putra seorang gubernur, tentu sangat menghebohkan. Alan mendapatkan hujatan dimana-mana. Sementara Ezra menerima banyak dukungan.
Melihat penindasan Alan kepada Ezra, tentu Acha juga geram. Terlebih dia pernah melihatnya dengan mata dan kepala sendiri. Akan tetapi Acha merasa ada sesuatu yang janggal dengan hubungan Alan dan Ezra. Hal paling aneh adalah, Ezra seolah selalu pasrah jika mendapat bulian dari Alan.
"Kenapa Kak Ezra nggak melawan pas dipukuli Kak Alan? Setahu gue dia bukan cowok selemah itu," gumam Acha seraya memiringkan kepala. Mencoba menemukan jawaban di kepalanya.
"Cha? Kamu tidur?" terdengar suara Bimo dari luar.
__ADS_1
Acha yang sejak tadi rebahan, segera merubah posisi menjadi duduk. "Enggak! Kenapa, Kak?" sahutnya.
Bimo perlahan membuka pintu. Dia terlihat bergaya dengan jaket kulit serta celana jeans. Sepertinya cowok itu akan pergi.
"Mau ikut nggak? Aku mau jalan keluar," ajak Bimo penuh harap.
"Enggak dulu deh. Aku mau di rumah aja," kata Acha.
"Kau itu kenapa sih? Khawatir banget ya sama Alan dan Ezra?" tukas Bimo sembari berjalan mendekat. Dia duduk ke sebelah Acha.
"Aku cuman merasa ada yang aneh, Kak. Kenapa Kak Ezra nggak melawan ya sama Kak Alan? Setahuku dia bukan cowok yang lemah. Aku yakin kau pasti juga tahu," jelas Acha.
"Itu benar sih. Tapi mengenai masalah Alan dan Ezra, itu adalah masalah pribadi mereka. Lagian kau juga lihat kan kalau Alan membuli Ezra nggak sendirian. Ya iyalah Ezra susah untuk melawan. Mending kau belajar dari pada berlarut-larut mikirin masalah orang," balas Bimo. Memberikan saran.
"Maunya gitu sih. Tapi kepikiran terus. Apalagi semua orang juga lagi bicarain itu terus di internet." Acha mendengus kasar.
"Kak Bimo mau kemana? Mau balapan motor ya?" tanya Acha penuh curiga.
Bimo tersenyum. "Kalau mau tahu, ikut dulu lah!" tanggapnya sambil menaikan salah satu alis.
Sekali lagi Acha menghela nafas panjang. Dia berpikir sejenak hingga akhirnya bangkit dan bersiap untuk ikut Bimo pergi. Keputusan Acha membuat senyuman simpul mengembang di wajah Bimo.
...***...
Di sebuah rumah mewah, terdengar suara perdebatan sengit dari dalam kamar. Orang yang bertengkar tidak lain adalah ayah dan ibunya Alan. Hubungan mereka akhir-akhir ini memang renggang. Hubungan itu semakin memanas setelah masalah tentang video Alan dan Ezra viral.
__ADS_1
Ibunya Alan yang bernama Erlin berusaha membela putranya sendiri. Sementara Afirza ayahnya Alan ingin memberikan hukuman pada sang putra.
"Arrrghh!!" Alan menggeram kesal karena sudah tidak tahan mendengar pertengkaran orang tuanya. Meski itu bukan pertama kalinya, tetapi dia yakin pertengkaran tersebut adalah yang paling parah.
Akibatnya Alan jadi kesal pada Ezra. Dia berpikir kalau cowok itulah yang sudah menyebarkan video.
Dengan langkah cepat, Alan mendatangi area kamar pembantu di rumahnya. Dia menemukan Ezra dan ibunya duduk di teras belakang.
"Mending lo jujur! Pasti lo kan yang nyebarin videonya!" timpal Alan dengan wajah kesal.
"Gue bersumpah! Gue nggak tahu apa-apa tentang video itu!" bantah Ezra.
"Tuan muda, saya mohon jangan ganggu Ezra lagi..." ucap Widya. Wanita yang tidak lain adalah ibunya Ezra.
Mendengar permohonan Widya, Alan memutar bola mata jengah dan tersenyum remeh. Dia menatap tajam ke arah Ezra. Alan menarik kerah baju Ezra.
"Kenapa, Ez? Nyokap lo masih belum tahu alasan gue memperlakukan lo begitu?" timpal Alan.
"Lan!" Ezra membulatkan mata.
"Tuan muda! Sudah cukup! Kalau anda begini terus, saya akan melaporkannya pada Tuan Afirza!" Widya yang cemas melihat kerah baju Ezra ditarik Alan, berusaha menghentikan.
Alan mendelik ke arah Widya. Perlahan dia melepas kerah baju Ezra. Alan menatap Ezra dan Widya secara bergantian. Dia berkata, "Kalian pasti senang sekarang. Kalau begitu nikmatilah!"
Alan meredam amarahnya. Dia segera beranjak pergi dari hadapan Ezra dan Widya. Cowok itu pergi dari rumah dengan motornya.
__ADS_1
Kecepatan motor yang dikendarai Alan begitu laju. Siapa yang menyangka? Dari balik helm, air mata cowok tersebut bercucuran. Alan memang tipe orang yang suka memendam masalah sendiri. Jadi dia merasakan sakitnya seorang diri pula.
Hari itu Alan berniat melarikan diri untuk sementara. Dia ingin menghilang dari kehidupannya yang terasa begitu menyiksa.