
...༻⊛༺...
Saat keluar dari kamar, Acha berpapasan dengan Ezra. Dia melihat lelaki itu tampak berpenampilan rapi.
Acha sudah mengangakan mulut karena ingin menyapa. Namun tidak jadi dilakukan karena tak mau diabaikan seperti sebelum-sebelumnya.
"Mau kemana malam-malam begini?" tidak disangka, justru Ezra yang menyapa Acha lebih dulu
"Ada urusan!" jawab Acha seraya beranjak pergi.
"Mau sekalian aku antar?" tawar Ezra. Membuat langkah kaki Acha sontak terhenti.
"Apa? Aku tidak salah dengarkan?" tanggap Acha tak percaya. Mengingat Ezra selalu bersikap dingin kepadanya.
"Ayo!" Ezra tidak memperdulikan reaksi Acha. Dia hanya melangkah melewati gadis itu. Menganggap kalau Acha menyetujui tawarannya.
Acha menerima tawaran Ezra. Dia sekarang masuk ke mobil dan duduk di sebelah lelaki itu.
"Wah! Mobilmu bagus sekali. Ini pasti mahal," komentar Acha.
"Sebaiknya kau duduk dan diam saja," balas Ezra. Dia sebenarnya tidak bangga memiliki mobil pribadi. Sebab mobil itu adalah pemberian dari Febri.
__ADS_1
Acha mengerutkan dahi dan menatap heran. Dia memberitahukan alamat yang ditujunya dan diam.
Ponsel Ezra berdering. Tertera nama Febri dengan emot hati di layar ponsel. Acha yang kebetulan duduk di sebelah, bisa melihatnya.
Karena ada Acha, Ezra memilih mematikan panggilan Febri. Dia menghembuskan nafas dari mulut. Berharap Acha tidak mengetahuinya.
Acha menatap Ezra dengan sudut matanya. Dia melihat lelaki tersebut tampak gelisah.
'Apa dia punya pacar? Aku sangat jelas melihat nama dengan emot hati di ponselnya tadi,' batin Acha.
"Kenapa teleponnya nggak dijawab?" cetus Acha.
"Kau selalu saja begitu," keluh Acha. Tak lama kemudian dia dan Ezra tiba di tempat tujuan. Acha segera keluar sambil tak lupa mengucapkan terima kasih.
Ezra tidak langsung pergi. Dia memperhatikan Acha terlebih dahulu. Gadis itu terlihat mengetuk sebuah rumah.
"Dia mendatangi rumah siapa?" gumam Ezra penasaran. Ponselnya berdering lagi. Febri kembali menelepon. Kali ini Ezra mengangkatnya.
"Aku sudah dijalan. Sebentar lagi sampai!" ujar Ezra.
"Kau ini. Kenapa tidak menjawab teleponku tadi?" tanggap Febri.
__ADS_1
"Tadi aku sedang fokus mengemudi. Ya sudah, sampai jumpa." Dengan berat hati, Ezra meninggalkan Acha. Dia harus menepati janjinya pada Febri untuk makan malam.
Acha sendiri sedang menemui mantan sekretaris pribadi Alan. Dia tidak jadi melakukannya besok karena merasa memiliki waktu luang sekarang.
Sayangnya, rumah Eko tampak sepi. Acha yakin kalau tidak ada orang di rumah. Alhasil Acha mencoba bertanya pada orang dekat sana.
Setelah bertanya, ternyata Eko sudah lama pergi. Katanya dia pulang kampung secara tergesa-gesa. Acha lantas tak punya pilihan selain pulang. Ia memilih menaiki taksi.
Saat dalam perjalanan pulang, Acha jadi terpikirkan tentang masalah Alan. Dia mulai mempercayai lelaki tersebut. Apalagi usai mendengar Eko pergi dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana kalau Kak Alan yang benar?" gumam Acha. Dia buru-buru mencari berita tentang kasus Alan. Acha menemukan sesuatu yang mencurigakan. Yaitu tentang keterlibatan pamannya Alan.
Acha pergi ke rumah sakit sebelum pulang ke asrama. Dia memberitahukan kepergian Eko kepada Alan. Keduanya sekarang sedang bicara.
"Pasti ada seseorang yang menyuruhnya pergi," imbuh Alan menduga.
Acha menatap Alan dengan mata menyipit. Sungguh, dia tidak tahu harus percaya pada siapa. Kepada publik, atau pada Alan?
"Aku ingin sekali menyelidiki semuanya. Tapi bagaimana?!" gumam Alan sambil meraup wajahnya. Sampai dia akhirnya terpikirkan sesuatu. Alan langsung menatap Acha.
Mata Acha membulat. "Jangan bilang kau ingin minta bantuanku lagi?" tebaknya.
__ADS_1