
...༻〇༺...
Sesampainya di sekolah, Acha lagi-lagi menemukan surat misterius berpita pink di bawah mejanya. Pengirim surat itu benar-benar rutin melakukannya setiap hari.
Acha mendengus kasar. Dengan malas, dia buka surat yang didapatnya.
'Aku memang tak bisa selalu memperhatikanmu. Tapi aku berusaha mencuri kesempatan untuk memperhatikanmu. Oh iya, kemarin aku melihatmu datang ke tempat billiard. Kau bersama seseorang. Apa dia pacarmu?' Begitulah isi surat misterius hari itu.
"Gimana mau jawab, kalau mau tahu temui dan ngomong langsung ke gue! Tapi dari mana dia tahu gue datang ke tempat billiard? Dia nggak menguntit kan?" duga Acha. Berbicara pada kertas.
"Lo kenapa, Cha? Kertas kok di ajak ngomong," tegur Arie. Teman sekelas Acha yang sibuk menyapu. Dia juga diketahui merupakan ketua kelas. Arie siswa yang populer karena kerajinannya.
"Bukan urusan lo!" balas Acha cemberut.
"Dih! Ditegur begitu aja marah. Lagi PMS ya?
"Mending lo fokus aja deh nyapu." Acha beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri di ambang pintu. Dari sana dirinya memandangi kelas Bimo yang ada di seberang lapangan.
"Ngomong-ngomong gue tadi lihat kertas dengan pita berwarna pink di bawah meja lo," tukas Arie memberitahu.
"Terus?" Acha menoleh ke arah Arie. Dia memicing penuh selidik. "Jangan-jangan itu surat lo yang bikin lagi? Kan lo selalu datang pagi?" timpalnya.
Pupil mata Arie membesar. Dia segera membantah, "Enak aja! Ngapain gue begitu. Gue kalau suka sama cewek, pasti langsung gue samperin!"
"Tunggu dulu. Lo kenapa tahu kalau itu surat cinta? Kan gue nggak kasih tahu." Acha semakin curiga.
Mata Arie membulat sempurna. "Gu-gue... Em... Sorry, tadi gue sempat baca sebelum lo datang," ujarnya tergagap. Tak berani menatap Acha.
"Pantesan. Jangan bilang siapa-siapa ya. Soalnya bikin malu kalau banyak orang yang tahu," ucap Acha.
"Iya. Tenang aja. Tapi apa dulu nih imbalannya? Traktir ke kantin ya hari ini," sahut Arie.
Acha mendelik. "Oke," tanggapnya tanpa berpikir lama. Arie lantas berseru senang.
Acha kembali menatap ke arah kelas Bimo. Sekarang dia melihat kakak tirinya itu bermain gitar di depan kelas bersama teman-temannya.
"Halo, Cha!" seorang cowok tiba-tiba menyapa. Dia tidak lain adalah Farrel. Cowok culun yang akhir-akhir ini berusaha mendekati Acha.
"Hai..." Acha menyapa dengan canggung.
Farrel tampak mematung di tempat sambil mencuri pandang pada Acha dengan malu-malu. Dia tidak mengatakan apapun seperti biasa. Keberadaannya memang selalu membuat canggung.
"Ya udah, gue pergi..." Farrel pamit begitu saja tanpa melakukan percakapan.
__ADS_1
Acha memandanginya dari belakang. Ia jadi berpikir, kemungkinan besar surat misterius yang didapatnya setiap hari itu bisa saja dari Farrel.
"Ciee... Lo pacaran sama Farrel?" tegur Arie. Ia masih menyapu. Mengarahkan debu ke arah pintu keluar. Tepat dimana Acha sekarang berdiri.
"Ya enggaklah! Uhuh! Uhuk! Arie... Kenapa debunya diarahin ke gue sih?!" protes Acha.
"Lagian kan dari tadi lo lihat gue nyapu. Masih aja berdiri di depan pintu. Ya resikonya begitulah!" balas Arie.
Acha akhirnya memilih keluar kelas dan duduk di bangku panjang. Dia melihat Sitha yang baru saja datang.
Saat jam pelajaran pertama, Acha dan teman-teman kelasnya melakukan praktek olahraga. Kala itu olahraga yang harus mereka lakukan adalah lomba lari mengelilingi lapangan.
Kejadian nahas harus menimpa Sitha yang berlari dengan ceroboh. Cewek itu terjatuh dan terluka. Sitha juga mengalami pusing dan mual akibat tidak sarapan.
Sebagai teman dekat, Acha menemani Sitha beristirahat ke UKS. Dia disuruh guru untuk membeli obat ke apotek yang letaknya tak jauh dari sekolah.
Acha tak masalah pergi sendiri. Dia juga ingin melihat Sitha bisa cepat sembuh.
Ketika tiba di apotek, Acha berpapasan dengan kakak kelasnya yang bernama Ezra. Cowok itu juga kelas tiga seperti Bimo. Ezra juga merupakan cowok populer karena ketampanan dan prestasinya. Bisa dibilang dia adalah saingan berat Bimo di sekolah. Namun kekurangan Ezra hanya satu, dia merupakan anak yang kurang mampu. Bersekolah karena mendapat beasiswa.
Ezra juga tipe penyendiri. Dia sangat irit bicara. Hanya akan bicara di saat penting saja. Ezra bisa dibilang cowok yang sangat arogan. Mungkin karena itulah banyak cewek yang menyerah mendekatinya. Jika Bimo badboy sekolah, maka Ezra adalah cool boy-nya sekolah.
Acha menatap Ezra. Sebab tampilan Ezra sangat menarik perhatian. Wajahnya tampak babak belur. Acha juga melihat ada luka goresan di lengan Ezra. Seragam cowok tersebut juga agak kotor.
"Apa liat-liat? Suka?" timpal Ezra.
Wajah Acha seketika memerah. Ia merasa malu karena ada banyak pegawai apotek yang melihat dan mendengar. Acha langsung menggeleng.
"Enggak, Kak! Aku hanya--"
"Sorry! Gue nggak tertarik pacaran!" potong Ezra tak acuh. Cowok itu langsung pergi setelah mendapatkan benda yang ingin dibelinya.
Acha terperangah. Percaya diri sekali cowok itu. Acha hanya bisa mengepalkan tinju sambil melotot ke punggung Ezra. Cowok tersebut tidak langsung pergi. Dia duduk ke bangku yang ada di apotek dan mengobati lukanya.
"Gue sekarang tahu kenapa wajahnya babak belur," gumam Acha. Lalu segera membeli obat untuk Sitha.
"Maaf, Dek. Tapi kebetulan obatnya sudah habis dibeli sama dia," ujar Apoteker yang berjaga. Dia menunjuk ke arah Ezra.
"Benarkah? Obat lain aja deh, Mbak. Ada kan?" tanya Acha.
"Ada. Tapi mahal. Nggak apa-apa kan?"
"Iya. Nggak masalah." Acha mengangguk.
__ADS_1
Apoteker itu lantas beranjak sebentar untuk mengambilkan obat. Sementara Acha hanya menunggu.
"Nih! Ambil aja." sebuah tangan tiba-tiba memberikan obat yang tadi hendak dibelinya.
Acha mengambil kepingan obat itu sembari menatap sosok yang memberikan obat. Dia ternyata Ezra.
"Makasi--" Saat Acha ingin berterima kasih, Ezra pergi melengos begitu saja keluar dari apotek. Acha benar-benar bingung menghadapi orang seperti itu.
Acha akhirnya tidak jadi membeli obat mahal yang diopsikan apoteker. Sebab obat pemberian Ezra sudah cukup.
...***...
Bel pulang sekolah berbunyi. Acha tidak terburu-buru seperti murid lain. Dia memeriksa ponselnya terlebih dahulu.
Acha menanti kabar dari Alan. Mengingat cowok itu belum memberikan kabar apapun sejak tadi pagi.
"Cha! Ayo pulang!" ajak Sitha.
"Lo duluan aja. Gue nunggu jemputan," sahut Acha.
"Ya udah. Gue duluan," kata Sitha. "Makasih ya buat hari ini. Lo bestie terbaik gue," ungkapnya sambil merangkul Acha. Lalu beranjak meninggalkan kelas.
Ponsel Acha mendadak berdering. Dia mendapat panggilan dari Alan.
"Halo?" Acha menjawab.
"Gue udah di depan!" ujar Alan dari seberang telepon.
"Oke. Gue ke sana!" Acha buru-buru menemui Alan.
Ketika sudah tiba di depan gerbang sekolah, Acha bisa melihat Alan yang melambaikan tangan. Cewek itu segera menghampiri.
Bersamaan dengan itu, Bimo dan teman-temannya baru keluar dari gerbang sekolah.
"Eh, Bim! Itu bukannya adik lo? Dia jalan sama Alan!" seru Reyhan sambil menepuk bahu Bimo.
Bimo langsung menoleh ke arah Acha dan Alan berada. Dia terbelalak tak percaya menyaksikan apa yang dilihatnya.
...____...
Catatan Author :
Guys, Acha ini tipe cewek yang disukai banyak cowok. Mengenai Acha akan berakhir sama siapa, itu juga rahasia. Kemungkinan cowok selain Bimo dan Alan juga bisa ya wkwk. Coba tebak siapa yang kirim dia surat misterius di antara semua cowok-cowok itu?
__ADS_1