
...༻〇༺...
Rizal memeriksa keadaan garasi. Takut kalau ada maling yang masuk. Setelah memastikan, dia beranjak pergi. Rizal juga tak lupa mematikan lampu.
Acha terkejut saat keadaan jadi gelap gulita. Namun ketakutannya berubah jadi gelak tawa saat melihat Bimo berusaha menakutinya.
"Hai, Acha..." ujar Bimo dengan nada suara seperti hantu. Dia juga menyalakan flashlight ponsel dan meletakkannya ke bawah dagu. Hingga cahaya dari flashlight tersebut menyinari seluruh wajahnya.
Acha tergelak sambil menepuk pelan pundak Bimo. "Nggak seram. Kak Bimo terlalu ganteng sih," tukasnya menggoda.
"Dih! Malah gombal. Ya udah, sini cium dulu." Bimo merangkul Acha. Lalu menghamburkan ciuman ke leher gadis itu. Hal tersebut lagi-lagi membuat Acha geli dan kembali tertawa.
Puas bercanda, Bimo dan Acha keluar dari tempat persembunyian. Bimo memegang tangan Acha. Lalu menuntun berjalan keluar dari garasi. Mereka pergi ke kamar.
Saat tiba di depan kamar Acha, Bimo berhenti. Dia berbalik menghadap Acha.
"Mau tidur bareng?" ajak Bimo.
Kelopak mata Acha melebar. Ia tentu kaget mendengar ajakan Bimo tersebut.
Sementara Bimo, dia tampak tergelak saat melihat ekspresi Acha. Cowok itu lagi-lagi mengusap puncak kepala Acha.
"Cuman tidur, Cha. Cuman tidur. Pikiranmu kemana emang?" timpal Bimo dengan senyuman meledek.
"Enggak kemana-mana kok." Acha langsung menggeleng. Wajahnya memerah padam.
Bimo terkekeh. "Terus gimana? Mau nggak?" tanyanya yang sepertinya masih berusaha mengajak Acha tidur bersama.
"Em... Ya udah deh, Kak. Boleh. Cuman tidur doang kan?" tanggap Acha.
__ADS_1
Bimo hanya memberikan reaksi dengan senyuman. Lalu masuk ke kamar Acha lebih dulu.
Acha lantas mengikuti. Jujur saja, dia sangat gugup sekarang.
"Umurmu berapa, Cha?" tanya Bimo sembari melepas jaketnya.
"Enam belas tahun, Kak. Aku kira Kak Bimo sudah tahu," sahut Acha.
"Tahu sih. Tapi cuman mastiin aja." Bimo terlihat sudah telentang ke ranjang.
"Emang kenapa, Kak?" tanya Acha. Dia merasa aneh kenapa Bimo mendadak menanyakan tentang usianya.
"Bukan apa-apa. Kau masih anak di bawah umur," terang Bimo. Ia menepuk sisi kosong di sebelahnya dan berucap, "Ayo kita tidur!"
Dengan perasaan ragu Acha naik ke ranjang. Lalu telentang ke sebelah Bimo. Cowok itu segera memeluknya dari samping.
"Emang kenapa kalau di bawah umur?" Acha penasaran.
"Kalau Kak Bimo? Apa termasuk anak di bawah umur juga?" Acha lanjut bertanya.
"Menurutmu? Aku sudah kelas tiga SMA, Cha. Jelas aku sudah bukan anak di bawah umur. Aku bahkan baru saja membuat KTP-ku sendiri," tanggap Bimo. "Udah ah! Ayo kita tidur!" sambungnya sambil mengencangkan pelukan dan memejamkan mata.
Acha menenggak salivanya sendiri. Karena pelukan Bimo, dia jadi melupakan pembicaraan aneh tentang umur yang dirinya lakukan tadi.
Bimo terkesan biasa saja. Dia sama sekali tidak gugup layaknya Acha. Bahkan saat satu menit berlalu, Bimo sudah tertidur.
Berbeda dengan Acha yang membeku. Jantungnya terus berdetak kencang. Sungguh, tidur satu ranjang dengan cowok yang disuka membuat hatinya tak karuan.
Perlahan Acha menatap Bimo. Dia otomatis terpaku. Senyuman tipis mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Ganteng banget," komentar Acha mengagumi.
Karena merasa hatinya antusias, Acha jadi tak bisa tidur semalaman. Dia kaget saat melihat keluar jendela. Langit terlihat sudah terang.
'Gimana gue bisa tidur. Di sebelah ada malaikat yang jatuh ke ranjang gue,' batin Acha. Dia kembali memandangi wajah Bimo.
Tanpa diduga, Bimo tiba-tiba membuka mata. Acha yang malu, segera memejamkan mata. Gadis itu berpura-pura tidur.
"Jangan bilang semalaman tadi kau memandangiku begitu," tukas Bimo. Ternyata dia berhasil memergoki Acha.
Acha yang tertangkap basah, sontak membuka mata. "Enggak kok!" bantahnya seraya merubah posisi jadi duduk.
"Kak Bimo mending pergi sekarang. Nanti Mamah keburu datang," saran Acha.
Bimo hanya diam. Ia malah memandangi Acha lamat-lamat. Bimo melakukannya sambil menopang kepala dengan satu tangan.
"Kak Bimo." Acha mencoba menegur. Namun Bimo masih bergeming di tempatnya. Tatapan dalam cowok itu membuatnya salah tingkah. Wajah Acha memerah bak kepiting rebus.
"Kak Bimo! Udah deh!" Acha yang sudah tak sanggup, menghalangi pandangan Bimo dengan bantal.
Bimo tergelak puas. Dia jelas sengaja menggoda Acha dengan tatapannya tadi. Cowok itu segera duduk. Lalu memeluk Acha dari belakang. Ia memposisikan gadis tersebut duduk di depannya.
"Kau itu benar-benar seperti arum manis. Baunya pun seperti arum manis," kata Bimo seraya mengendus leher Acha.
"Geli, Kak!" protes Acha sambil tertawa.
Bimo tergelak bersama Acha sejenak. Selanjutnya, dia melepas pelukan dan beranjak dari ranjang.
Ketika hendak membuka pintu, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari luar. Mata Bimo dan Acha sontak membulat bersamaan.
__ADS_1
Saat gagang pintu bergerak, Bimo bergegas bersembunyi ke balik pintu. Dia tak terpikir tempat lain lagi karena merasa terdesak.
"Acha..." panggil Mira. Dia orang yang datang ke kamar Acha sekarang. Wanita itu melangkah masuk ke kamar. Ia menghampiri Acha.