Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 25 - Membeli Rok Baru


__ADS_3

...༻〇༺...


Saat waktu menunjukkan jam tujuh malam, Acha bersiap untuk pergi. Kali ini dia tidak akan pergi bersama cowok mana pun. Melainkan pergi dengan Sitha.


"Mah, aku mau ke mall bareng Sitha." Acha meminta izin saat makan malam. Bimo yang ada di sana langsung menatapnya.


"Ke mall? Kalian pakai apa ke sana?" tanggap Mira.


"Naik taksi, Mah. Nanti Sitha jemput ke sini. Aku nggak akan lama kok. Nanti sebelum jam sepuluh aku pasti pulang. Lagian aku perginya ke mall dekat sini aja," ujar Acha.


"Mau aku antar, Cha?" tawar Bimo.


"Nggak usah, Kak. Nanti momen pertemanan kami terganggu. Aku ingin menikmati waktu sekali-kali bareng sahabat." Acha menolak baik-baik.


Bimo lantas hanya bisa tersenyum. Padahal dalam hati dia sangat ingin memaksa Acha untuk menerima tawarannya.


"Kenapa begitu? Kan bagus kalau Bimo mengantarkanmu ke mall. Nggak perlu bayar ongkos taksi juga kan?" tukas Mira.


"Nah, benar tuh!" Bimo menyahut.


"Udahlah, Mir. Lagian Acha kan jarang-jarang pergi keluar rumah. Nggak kayak Bimo. Biarkan dia menikmati waktu sama temannya," cetus Rizal yang berada di sisi Acha.


"Makasih, Pah!" ungkap Acha sembari tersenyum. Panggilannya terhadap Rizal sukses membuat semua orang kaget. Termasuk Bimo sendiri.


Bel pintu terdengar berbunyi. Orang yang datang tidak lain adalah Sitha. Dia dan Acha segera pergi setelah berpamitan.


Melihat Acha pergi, Bimo berniat ingin mengikuti. Akan tetapi dia tak kunjung menemukan kunci motornya. Alhasil dia tidak bisa mengikuti Acha tepat waktu.


Sementara itu, Acha dan Sitha tiba di mall setelah menempuh waktu sekitar lima belas menit dalam perjalanan. Keduanya berlari kecil sambil berpegangan tangan.


"Lo mau beli apa, Cha? Katanya barang penting kan?" tanya Sitha.

__ADS_1


"Rok sekolah. Pokoknya rok yang enak buat ngangkang," jawab Acha.


Pupil mata Sitha sontak membesar. Dia jadi berpikiran aneh karena Acha menyebutkan kata ngangkang. "Mau ngapain? Emang kaki lo ngangkang buat apa? Jangan aneh-aneh deh, Cha. Kita tuh sebagai cewek harus bisa jaga diri," tukasnya.


"Idih! Lo mikirin apaan sih. Gue mau beli rok begitu karena bakalan sering naik motor. Di bonceng lah sama cowok yang sekarang dekat sama gue," ungkap Acha.


"Cowok? Siapa?" Sitha lantas berpikir. Setahunya cowok bermotor yang dekat dengan Acha hanyalah Bimo. "Jangan bilang cowok itu Kak Bimo!" tebaknya.


Pipi Acha bersemu merah. Dia berusaha menutupinya dengan membuang muka. Acha tentu tidak akan mengaku kalau dirinya menyukai Bimo. Justru sekarang dia berusaha berhenti untuk jatuh cinta pada cowok bajingan itu.


"Astaga. Enggaklah! Masa gue ngincar kakak gue sendiri," bantah Acha. "Udah ah! Mending kita cari dulu roknya. Nanti keburu malam," sambungnya seraya menyeret Sitha ikut bersamanya memasuki toko pakaian.


Acha mulai memilih-milih rok yang ada di toko. Sedangkan Sitha tampak terbuai memeriksa dress cantik yang ada di sana. Alhasil Acha terpaksa mencari rok yang ingin dibelinya seorang diri.


"Apa ada yang bisa dibantu?" tegur seorang karyawan toko yang mendekat.


Acha segera menoleh ke arah karyawan tersebut. Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok yang dilihatnya adalah Ezra.


"Lo lagi!" Ezra seketika cemberut. Dia memutar bola mata kesal. "Ngapain lo di sini? Apa lo bareng siAlan itu lagi?" timpalnya.


"Enggak. Aku ke sini mau beli rok," sahut Acha. Dia melangkah lebih dekat ke hadapan Ezra. Memperhatikan penampilan Ezra yang terlihat mengenakan seragam karyawan toko. "Kak Ezra juga kerja di sini?" tanyanya.


"Bukannya udah jelas? Ya udah. Kasih tahu gue lo mau beli apa," kata Ezra. Ekspresinya sejak tadi menunjukkan seolah tidak suka dengan Acha.


"Mukanya sinis banget, Kak. Kalau begitu sama pelanggan, nanti pelanggannya nggak jadi beli loh," ucap Acha.


"Kalau nggak mau beli, silahkan pindah ke toko lain," tanggap Ezra dengan senyuman terpaksa dan singkat.


Acha mendengus kasar. "Aku mau cari rok abu-abu. Pokoknya rok yang nggak ketat gitu. Biar mudah ngangkang pas naik motor. Apa ya nama roknya," jelasnya seraya melihat-lihat ke sekeliling.


Ezra beranjak sebentar. Tak lama kemudian, dia kembali membawakan beberapa rok yang di inginkan Acha. "Begini kan?" tanyanya memastikan. Ezra membawakan rok abu-abu model plisket untuk Acha.

__ADS_1


"Wah! Benar, Kak!" Acha mengambil salah satu rok yang dibawakan Ezra. Salah satu rok yang paling menarik perhatiannya.


"Aku coba dulu deh. Kayaknya kebesaran. Ada ukuran lebih kecil kan?" imbuh Acha.


"Nggak perlu. Itu pasti pas buat lo! Langsung bayar aja ke kasir. Malas gue lama-lama lihat lo!" pungkas Ezra ketus. Lalu beranjak dari hadapan Acha begitu saja.


"Apa-apaan itu! Sok tahu banget." Acha hanya bisa tercengang melihat sikap Ezra. Padahal dia merasa cowok itu sudah berhutang ucapan terima kasih kepadanya.


Acha hanya bisa memaklumi. Dia segera mencoba rok yang ingin dibelinya di ruang ganti. Benar apa yang dikatakan Ezra, rok itu memang sangat pas di badan Acha.


"Kok dia bisa tahu ya?" benak Acha bertanya-tanya. "Ah! Mungkin cuman kebetulan. Kak Ezra cuman malas aja nanggepin gue. Dia pasti benci sama gue gara-gara gue dekat sama Kak Alan," gumamnya seraya berganti pakaian.


Acha dan Sitha segera meninggalkan toko setelah melakukan pembayaran di kasir. Sebelum itu, Acha menghampiri Ezra terlebih dahulu.


"Makasih ya, Kak! Aku juga minta maaf dengan apa yang dilakukan Kak Alan pas di jalanan tadi siang. Aku sama sekali nggak terlibat kok," ucap Acha dengan pembawaan cerianya.


Ezra tersenyum singkat namun tidak terlihat tulus sama sekali. "Terima kasih sudah berkunjung ke toko kami," ujarnya. Ezra sama sekali tak menanggapi perkataan Acha.


"Kak Ezra mau sampai kapan begitu terus?" timpal Acha.


"Udah, Cha. Ayo kita pergi! Kita dilihatin orang loh," ucap Sitha seraya mengajak Acha pergi keluar toko tempat dimana Ezra bekerja.


Saat keluar dari toko, Acha merasa ada orang yang terus mengamati. Ketika ditilik, dia menyadari ada cowok berjaket hoodie hitam mencurigakan. Acha merasa mengenal cowok itu dari perawakannya. Ia merasa kalau cowok tersebut adalah Bimo.


"Kenapa, Cha?" tanya Sitha. Ia terheran dengan Acha yang tiba-tiba berhenti berjalan.


"Nggak apa-apa. Ayo kita jalan lagi," ajak Acha. Dia sengaja berpura-pura tidak tahu. Itu dilakukannya sampai menikmati camilan dan minuman bersama Sitha.


Setelah terus berjalan, cowok berhoodie hitam itu tetap mengikuti. Membuat Acha semakin yakin bahwa cowok tersebut adalah Bimo.


'Kak Bimo pasti mengira gue akan ketemuan sama Kak Alan,' batin Acha menduga. Dia tersenyum miring. Dari sana dirinya bisa meyakini kalau misinya berjalan lancar.

__ADS_1


__ADS_2