Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 22 - Dibonceng Alan


__ADS_3

...༻〇༺...


"Ayo, Cha!" ujar Alan yang sudah siap membonceng Acha.


"Iya." Acha bergegas mendekati motor Alan. Sebelum naik, dia menyempatkan diri untuk mengedarkan pandangan. Acha memastikan Bimo melihat atau tidak.


Setelah diperiksa, Bimo terlihat memperhatikannya dari jauh. Acha tersenyum miring. Kemudian bergegas naik ke motor Alan.


"Gue boleh pegangan sama lo nggak?" tanya Acha. Dia memang sengaja ingin memanas-manasi Bimo. Meski cowok itu tidak menyukainya, Acha yakin Bimo tetap merasa cemburu. Mengingat Acha adalah adik tiri serta diketahui juga menyukai Bimo.


"Yakin lo? Nanti ada yang marah gimana?" tanggap Alan.


"Siapa yang marah? Gue nggak punya pacar kok." Acha sengaja memberi kode.


Kini Alan yang tersenyum puas. Dia merasa kesempatannya semakin besar untuk membuat Acha jatuh dalam permainannya.


"Bagus deh," ungkap Alan. Ia segera menjalankan motornya.


"Kenapa bagus?" tanya Acha sembari melingkarkan tangan ke pinggang Alan. Meskipun begitu, dia berusaha menjauhkan dadanya dari punggung Alan.


"Ya bagus aja," sahut Alan sok misterius.


'Dih! Dia pikir gue nggak tahu rencananya. Dasar siAlan!' rutuk Acha dalam hati.


Sekian menit berada di perjalanan, Acha melonggarkan pelukannya. Saat itulah Alan tiba-tiba memelankan motor. Dia sengaja mengganggu siswa bersepeda di pinggir jalan. Akibat gangguan Alan, siswa tersebut jatuh bersama sepedanya. Parahnya setelah melakukan itu Alan malah tergelak.


"Alan! Lo kenapa melakukan itu!" protes Acha. Dia segera menoleh ke arah cowok yang kena gangguan Alan. Pupil mata Acha membesar saat mengetahui cowok itu adalah Ezra. Mulut Acha hanya bisa menganga menyaksikan Ezra yang menatap ke arahnya dan Alan dengan tatapan kesal.


Acha menggigit bibir bawahnya. "Cowok itu pasti marah! Dia kakak kelas gue!" ucapnya yang masih melakukan protes pada Alan.


"Sudah santai aja. Kalau dia gangguin lo, bilang ke gue. Dia nggak akan berani sama gue!" sahut Alan santai. Sepertinya dia dan Ezra saling kenal. "Oh iya, dia beneran kakak kelas lo? Berarti gue juga dong. Harusnya lo panggil gue kakak!" lanjutnya.

__ADS_1


"Emang iya?" Acha mengerutkan dahi. Sejak awal dia memang tak begitu tertarik pada Alan. Sampai kelas cowok itu saja Acha tak tahu. Dirinya hanya memanfaatkan Alan untuk rencananya.


"Iya. Gue satu angkatan sama Bimo!" ungkap Alan.


"Astaga yang benar? Maaf deh kalau begitu. Mulai sekarang aku panggil Kak Alan deh." Karena bersandiwara, Acha langsung tunduk.


"Oke, kalau begitu mulai sekarang kita bicara mode sopan." Alan terdengar terkekeh. Sepertinya dia sangat puas melihat Acha begitu mudah ditundukkan.


Acha yang masih merasa tidak enak pada Ezra, terus menoleh ke belakang. Padahal posisi cowok itu sudah tak terlihat karena ditelan jarak.


"Oh iya, Kak Alan kenal sama cowok yang bersepeda tadi?" tanya Acha.


"Udah. Itu nggak penting. Yang penting sekarang, kau mau nggak makan siang bareng aku?" Alan justru berbalik tanya.


Acha mendengus kasar. Dia akan meminta maaf pada Ezra besok di sekolah. Mengingat cowok tersebut sudah baik kepadanya hari ini. Acha tentu merasa bersalah membalas kebaikan Ezra dengan apa yang dilakukan Alan tadi.


"Boleh, Kak. Dimana?" Acha berusaha menanggapi sebaik mungkin. Padahal dia ingin sekali menjitak kepala Alan.


"Ikut aja. Aku yakin kau pasti suka. Ini tempat favoritku dan anggota geng motor Ababil," sahut Ezra yang segera menjalankan motor lebih laju.


"Sialan! Dia kayaknya sengaja ngincar Acha karena mau balas dendam sama gue!" gerutu Bimo yang buru-buru ke parkiran untuk menaiki motornya. Dia ingin cepat-cepat menyusul Acha. Bimo tentu penasaran tentang hubungan Acha dan Alan.


"Lo mau ngikutin mereka?" tanya Reyhan. Dia, Bimo, dan Arvan segera menaiki motor masing-masing.


Bertepatan dengan itu, Arlin datang. Dia ingin ikut dengan Bimo dan kawan-kawan.


"Eh! Kalian mau kemana? Buru-buru amat!" tegur Arlin.


Bimo sama sekali tak menanggapi. Dia menjalankan motornya begitu saja.


"Bimo!" pekik Arlin saat Bimo sudah melaju dengan motor. Cewek itu lantas mengincar motor Arvan untuk dinaiki. Namun cowok tersebut mendorongnya menjauh. Arvan juga pergi tanpa sepatah kata pun seperti Bimo.

__ADS_1


Arlin akhirnya mengincar Reyhan. Cowok itu juga tak mau membonceng Arlin.


"Kalian cowok-cowok pada kenapa sih!" kritik Arlin.


"Lo mending hari ini naik bus aja," saran Reyhan. Dia segera menyusul Bimo dan Arvan. Arlin lantas hanya bisa tercengang dengan sikap kawan-kawannya.


...***...


Bimo melajukan motornya dalam kecepatan penuh. Dia sudah seperti pembalap profesional. Bimo bahkan menyalip mobil hingga truk besar dengan gesit. Di belakangnya, tentu ada Arvan dan Reyhan yang mengikuti.


Karena melaju dengan cepat, Bimo akhirnya bisa menyusul Alan dan Acha. Dia bisa mengetahui posisi mereka dari kejauhan. Sebab Bimo sangat mengenal perawakan Acha serta model motor Alan.


Bimo lantas mengencangkan kelajuan motornya lagi. Sampai akhirnya dia berhasil mengimbangi posisi Alan.


"Acha!!!" seru Bimo seraya membuka kaca helmnya.


"Kak Bimo!" Acha balas berseru. Dia juga segera membuka kaca helmnya.


"Lo ngikutin gue?!" Alan ikut angkat suara.


"Sialan lo! Lebih baik lo berhenti dan turunin adik gue sekarang!" timpal Bimo dengan mata melotot.


"Emang kenapa? Ada ya peraturan nggak boleh bonceng adik lo? Lagian Acha kok yang mau gue boncengin!" balas Alan. Dia menoleh ke sekeliling saat Reyhan dan Arvan datang seperti berusaha mengepungnya.


"Acha! Lo nggak bisa dekat sama cowok kayak Alan! Dia bukan cowok baik! Lo sebaiknya turun dan ikut gue pulang!" pinta Bimo yang kini bicara pada Acha.


"Kenapa, Kak? Kak Alan baik kok sama aku! Ini hak aku mau jalan sama siapa! Kak Bimo aja yang pulang sana!" sahut Acha. Dia segera menutup kaca helmnya dan membuang muka dari Bimo.


Acha menghela nafas panjang dan memejamkan mata. Bersiap memulai aksi yang mungkin bisa memberikan dampak berbahaya baginya. Namun Acha merasa harus melakukan itu agar Bimo bisa ditaklukkannya.


"Ayo, Kak Alan! Kita kayaknya harus ngebut!" usul Acha pada Alan. Dia segera berpegangan erat ke pinggang cowok itu. Alan lantas tersenyum puas dan segera melajukan motornya.

__ADS_1


"Aarghhhh!!!" Bimo hanya bisa menggeram kesal. Akibatnya, dia nyaris ditabrak oleh sebuah mobil. Reyhan dan Arvan segera mengajak Bimo menenangkan diri dengan berhenti ke tepi jalan.


"Udah. Tenang dulu, Bim. Lo kan satu atap sama Acha. Lo bisa bicara sama dia pas di rumah nanti. Kondisi di rumah kan lebih mendukung dibanding jalanan begini," saran Arvan sambil menepuk pundak Bimo. Cowok itu hanya bisa meraup wajahnya dengan kesal beberapa kali. Bimo tak akan membiarkan Alan dekat dengan Acha. Terlihat dari ekspresi bertekad serta kepalan tinju yang erat di salah satu tangannya.


__ADS_2