Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 64 - Season 2 [Goresan Di Tangan Alan]


__ADS_3

...༻⊛༺...


Ezra hanya diam seperti biasa. Tidak menghiraukan sedikit pun teguran Acha.


Acha geleng-geleng kepala. Dia memilih menjauh dari Ezra. Akan tetapi baru bergerak satu langkah, lelaki itu angkat bicara.


"Apa kau yang menghadapi Alan tadi?" tanya Ezra.


Acha berhenti melangkah. Meksipun begitu, dia tidak menoleh ke arah Ezra. Senyuman miring mengembang di wajahnya.


'Mungkin saatnya sekarang aku balas dendam. Biar dia tahu rasanya dikacangin!' batin Acha sembari lanjut melangkah. Dia mengabaikan pertanyaan Ezra. Lelaki tersebut malah tergelak. Namun tawa Ezra tak berlangsung lama. Dia buru-buru merubah ekspresinya menjadi datar.


Acha berjalan keluar dari area asrama. Dia memutuskan pergi ke mini market terdekat. Tanpa diduga, Ezra mengikuti. Lelaki itu tiba-tiba saja ada di mini market bersamanya.


Mata Acha melirik Ezra. Dia melihat lelaki tersebut melihat barang-barang sambil mengenakan jaket hodie.


'Percuma ngajak dia bicara. Mulai sekarang, aku nggak akan bicara sama dia lagi,' batin Acha bertekad. Dia buru-buru pergi dari mini market setelah memilih barang yang ingin dibeli.


Sambil berjalan, sesekali Acha menoleh ke belakang. Memastikan apakah Ezra mengikuti atau tidak. Bukannya Ezra, sebuah mobil mewah mendadak berhenti di hadapannya.

__ADS_1


Perlahan kaca jendela mobil itu dibuka. Orang yang ada di mobil ternyata adalah Alan.


"Sepertinya kita berjodoh. Kebetulan sekali aku lewat jalan ini," ujar Alan.


"Begitu kah?" Acha memasang tatapan menyelidik. "Kau tidak mengikutiku kan?" tukasnya.


"Memangnya kenapa kalau mengikuti. Aku hanya ingin menjagamu dari lelaki yang membuatku gelisah," tanggap Alan.


"Lelaki?" Acha mengerutkan dahi. Dia lantas terpikirkan perihal Ezra. "Maksudnya Ezra?" tanyanya.


"Wah... Kau tidak memanggilnya Ezra sekarang," komentar Alan.


"Aku akan mengantarmu!" Alan keluar dari mobil. Dia menghampiri Acha.


"Nggak usah, Kak. Asramaku nggak jauh kok," tolak Acha.


"Aku tidak peduli kau menolak atau tidak. Aku akan mengikuti." Alan bersikeras.


Acha mendengus sambil memutar bola mata jengah. Dia tak bisa melakukan apapun untuk mengusir Alan. Kini mereka berjalan bersama secara berdampingan.

__ADS_1


Dari belakang, ada Ezra yang sejak tadi memperhatikan. Dia ikut melangkah mengikuti Acha dan Alan di jarak yang cukup jauh.


...***...


Keheningan menyelimuti suasana. Sampai Acha tak sengaja melihat pergelangan tangan Alan. Empatinya perlahan muncul.


"Kak Alan?" panggil Acha.


"Hmm?" Alan menoleh untuk menanggapi.


"Apa yang terjadi pada Kak Alan selama beberapa tahun? Seingatku dulu kau baik-baik saja," tanya Acha.


"Semuanya rumit kalau dijelaskan secara detail. Aku mungkin akan terkena serangan panik jika harus menceritakannya. Menjadi dewasa itu ternyata lebih sulit dari dugaanku," ungkap Alan panjang lebar.


"Tapi sekarang aku lihat Kak Alan tampak ceria. Kau sama sekali tidak terlihat seperti orang yang menderita gangguan mental." Acha mengungkapkan pendapatnya.


"Aku rasa itu karena kau," kata Alan.


"Aku?" Acha menunjuk dadanya sendiri. Dia mengerutkan dahi karena bingung.

__ADS_1


"Sebenarnya kau salah satu orang yang membuatku kuat. Aku sempat mencarimu dua tahun yang lalu. Tapi tidak jadi karena aku sadar dengan banyaknya kekurangan yang kumiliki. Aku hanya berkata pada diri sendiri kalau kita ditakdirkan bertemu tanpa sengaja, maka aku tidak akan membuang kesempatan. Jadi inilah yang sekarang kulakukan." Alan bercerita panjang lebar.


__ADS_2