
...༻〇༺...
Acha termangu sejenak. Ia masuk ke toilet dan membaca surat yang diberikan Ezra.
Jantung Acha langsung berdegup kencang saat surat yang dibacanya adalah pernyataan cinta. Selain itu Ezra juga mengakui kalau selama ini dirinyalah pengirim surat misterius untuk Acha.
"Ini nggak mungkin..." gumam Acha sembari menatap dirinya ke cermin. Bersamaan dengan itu, dia juga teringat akan pernyataan cinta Bimo.
Acha memegangi dadanya. Hati dia sebenarnya masih berpihak pada Bimo. Akan tetapi jika dirinya menjalin hubungan dengan cowok itu, semuanya terasa salah. Mengingat mereka memiliki hubungan kakak adik
Sementara itu, Acha hanya sekedar kagum kepada Ezra. Meski terkadang cowok tersebut juga membuatnya beberapa kali berdebar. Namun Acha tahu debaran terkuatnya hanya terjadi saat bersama Bimo.
"Nggak ada yang benar." Acha menelengkan kepalanya. Dia memutuskan tidak akan menerima siapapun. Lagi pula Acha sebentar lagi kelas tiga, dirinya ingin fokus dengan sekolah.
Ketika pulang sekolah, Acha tak sengaja berpapasan dengan Ezra. Dia yang bingung harus bagaimana, memilih berjalan sambil menundukkan wajah.
Berbeda dengan Ezra yang justru menatap Acha. Dia tentu berharap gadis tersebut memberikan reaksi terhadap suratnya. Namun sepertinya semuanya tidak terjadi sesuai dengan harapan Ezra. Cowok itu lantas hanya diam. Ia paham bahwa cintanya ditolak.
Setelah berjalan agak jauh dari Ezra, Acha berlari. Lalu bersembunyi ke balik dinding. Dia tak menyangka suasana di antaranya dan Ezra akan berubah begitu canggung.
Acha menghembuskan nafas dari mulut sambil mengusap dadanya berulang kali.
"Kenapa? Kayak dikejar setan?" tegur Bimo yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
Acha kaget sampai berjengit. Satu tangannya reflek memukul pundak Bimo.
"Bikin kaget aja, Kak Bimo!" imbuh Acha.
"Lagian kau kayak ketakutan gitu," komentar Bimo terheran.
"Aku nggak ketakutan! Ya udah, aku pergi!" ujar Acha seraya beranjak pergi.
Namun Bimo dengan cepat meraih lengan Acha. "Mau kemana? Kau nggak ikut pulang bareng aku?" tanyanya.
"Aku ada janji sama Sitha. Kak Bimo duluan aja ya, dah!" Acha melepas genggaman Bimo. Kemudian beranjak meninggalkan cowok tersebut.
Acha sengaja mengulur waktu agar bisa pulang terlambat ke rumah. Dia menghabiskan banyak waktu di sebuah toko buku.
"Jalan bareng Sitha ya?" singgung Bimo sambil melipat tangan di depan dada. Dia jelas memergoki Acha membohonginya.
Acha tersenyum kecut sembari memegangi tengkuk. "Sitha-nya nggak jadi ikut," kilahnya.
"Ya udah! Cepat naik!" titah Bimo.
Kini Acha tak punya pilihan selain ikut dengan Bimo. Dia dibonceng lagi oleh kakak tirinya itu.
Sesampainya di rumah, Acha dan Bimo langsung masuk ke kamar masing-masing. Kebetulan rumah sedang sepi. Kedua orang tua mereka belum pulang ke rumah.
__ADS_1
Suara ketukan mendadak terdengar. Acha yang rebahan di kasur, segera membuka pintu.
"Mau nonton bareng nggak? Mumpung rumah lagi sepi," tawar Bimo. "Aku sudah siapin popcorn sama cola loh," tambahnya.
"Em..." Acha bingung ingin menjawab apa.
"Kalau nggak mau, aku panggil teman-temanku aja deh. Kau--"
"Jangan! Ya sudah. Ayo kita nonton!" potong Acha. Dia tentu tak mau melihat Bimo dimarahi lagi gara-gara membawa teman berandalan ke rumah.
Acha dan Bimo akhirnya duduk di depan televisi. Bimo memilih memainkan film horor untuk ditonton bersama.
"Ini film horor ya, Kak?" tanya Acha.
"Iya. Kenapa? Takut?" tanggap Bimo.
"Enggak!" Acha merasa percaya diri. Padahal sebenarnya dia memang takut. Perasaan itu dia sembunyikan karena merasa gengsi.
Film terus terputar sampai menampilkan adegan menyeramkan. Hal itu membuat Acha kaget dan reflek memeluk Bimo.
"Idih! Katanya tadi nggak takut," komentar Bimo.
Acha buru-buru melepas pelukannya. "Aku cuman--" perkataannya harus terhenti karena Bimo tak membiarkannya melepas pelukan.
__ADS_1
"Begini aja, Cha..." ucap Bimo sambil menatap lekat Acha.