Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 26 - Detak Jantung Bimo


__ADS_3

...༻〇༺...


Puas bersenang-senang, Acha dan Sitha akhirnya pulang. Keduanya harus menaiki taksi yang berbeda karena arah tempat tinggal berlawanan.


"Sampai ketemu besok, Cha!" Sitha melambaikan tangannya saat taksi sudah berjalan.


"Sampai ketemu besok!" Acha membalas lambaian tangan Sitha. Temannya itu akhirnya pergi.


Sementara Acha sendiri, dia sengaja pergi belakangan dibanding Sitha. Gadis itu ingin mengurus cowok yang sejak tadi mengikuti.


Acha menoleh ke arah dimana cowok berhoodie hitam berada. Cowok tersebut terlihat bersembunyi dibalik tiang bagian teras mall.


Melihat itu, Acha buru-buru bersembunyi. Ia ingin melihat cowok berhoodie hitam tersebut kebingungan.


Dugaan Acha sejak awal benar seratus persen. Orang yang mengikutinya tidak lain adalah Bimo. Dirinya sampai harus naik taksi untuk mengekori Acha ke mall. Mengingat sejak awal Bimo tidak berhasil menemukan kunci motor.


Bimo celingak-celingukan ketika menyadari Acha sudah menghilang. Dia mengerutkan dahi sambil keluar dari tempat persembunyian.


"Apa dia sudah pergi?" gumam Bimo. Dia berlari ke pinggir jalan. Saat itulah Acha keluar dari tempat persembunyian. Gadis tersebut sengaja muncul dari belakang Bimo.


"Ternyata benar Kak Bimo!" imbuh Acha. Membuat Bimo sontak menoleh.


"Acha!" Bimo melebarkan kelopak matanya karena kaget.


"Kak Bimo sejak tadi ngikutin aku?" timpal Acha.


"Aku cuman mau memastikan kau baik-baik saja," jawab Bimo beralasan.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja kok. Lagian aku bukan anak kecil yang harus di jaga sana-sini." Acha berucap begitu seraya melangkah melawati Bimo. Dia berjalan lebih dulu menyusuri jalanan trotoar.


"Tapi bagiku kau adik arum manis yang harus dijaga." Bimo mengusap puncak kepala Acha dengan lembut seperti biasa.


"Ck!" Acha berdecak sambil menjauhkan tangan Bimo dari kepala.


"Sekarang adikku ini jutek banget," komentar Bimo. Kini dia merangkul pundak Acha.


"Ya iyalah. Kak Bimo mukanya dua!" cibir Acha. Sekali lagi dia menjauhkan tangan Bimo dari pundaknya.


Bimo terkekeh geli. Menurutnya Acha semakin menggemaskan saat marah. Tanpa diduga, dia justru melayangkan ciuman ke pipi Acha.


"Kak Bimo!" Acha kaget. Wajahnya memerah. Dia reflek memegangi pipi bekas ciuman Bimo.


"Menjauhlah!" Acha bergegas pergi. Dia berhenti melangkah. Lalu menengok ke kiri dan kanan. Acha ingin menaiki taksi secepatnya agar bisa meninggalkan Bimo.


Acha tak menanggapi sama sekali. Dia masih fokus mencari taksi.


"Ayo, Cha! Harinya mendung loh. Nanti keburu hujan." Bimo mendesak.


"Kan pulang pakai taksi lebih cepat! Lagian tumben Kak Bimo nggak bawa motor kebanggaannya?" tukas Acha dengan nada sinis.


"Aku nggak bisa menemukan kunci motorku tadi. Kayaknya ada yang menyembunyikan. Dugaanku papah sih," ungkap Bimo sambil menghembuskan nafas dari mulut.


Acha tergelak kecil. "Makanya, jangan keluyuran terus. Begitu kan akibatnya," balasnya.


Bertepatan dengan itu, hujan tiba-tiba turun cukup deras. Acha hanya reflek menutupi kepala dengan dua tangan.

__ADS_1


"Cha!" Bimo menarik salah satu tangan Acha. Dia lalu menyeret Acha ikut bersamanya untuk berteduh di tempat terdekat. Untung saja ada halte bus di sekitar sana.


Kini Acha dan Bimo sudah berada di tempat teduh. Mereka hanya berduaan di sana. Acha terlihat terus memeluk dirinya sendiri karena kedinginan.


"Dingin ya?" tanya Bimo.


"Ya iyalah. Masa panas!" sahut Acha ketus.


Bimo terkekeh. Dia segera menarik Acha untuk mendekat. Membawa gadis itu masuk ke dalam pelukan.


"Kak Bimo! Aku nggak mau!" Acha menolak mentah-mentah pelukan Bimo. Dia berusaha memberontak dengan keras. Akan tetapi Bimo juga tak membiarkan. Cowok itu memaksa Acha untuk terus berada dalam pelukannya.


"Kak Bimo lepasin! Kalau nggak aku teriak nih!" ancam Acha yang belum berhenti memberontak.


"Teriak aja. Suasananya berisik sama hujan. Lagian di sini cuman ada kita berdua. Paling yang dengar cuman setan," tanggap Bimo santai. "Udah nggak apa-apa. Kita kan kakak adik. Wajar pelukan begini," sambungnya seraya semakin mengeratkan pelukan.


Acha yang tidak bisa melawan paksaan Bimo, akhirnya melemah. Dia memilih pasrah dan membiarkan cowok tersebut memeluknya.


Setelah dipikir-pikir, pelukan Bimo membuat Acha nyaman. Setidaknya membuat dia merasa lebih hangat.


Bimo termangu. Dia sebenarnya sedang meresapi momen yang terjadi sekarang. Bimo merasa aneh dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Acha bahkan bisa sampai merasakannya.


Perlahan Acha mendongak. Ia menatap Bimo yang memiliki tinggi badan lebih tinggi darinya. Merasa Acha menatapnya, cowok itu lantas balas menatap.


"Jantung Kak Bimo kenapa begitu?" tanya Acha dengan ekspresi lugunya.


"Aku nggak tahu." Bimo malah terpaku dengan wajah Acha yang begitu dekat. Ia perlahan merapikan anak-anak rambut di wajah Acha. Selanjutnya, dia mendaratkan ciuman bibir mendadak yang seketika membuat mata Acha terbelalak.

__ADS_1


__ADS_2