Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 16 - Pengakuan Bimo


__ADS_3

...༻〇༺...


Bibir Bimo dan Arlin terlihat saling berpagutan. Arlin tampak begitu agresif. Cewek itu perlahan mendorong Bimo sampai telentang.


Kini posisi Arlin berada di atas badan Bimo. Cewek itu terlihat seperti sangat berpengalaman.


Bimo melepas tautan bibirnya sejenak. Lalu mendorong Arlin. Sekarang cewek tersebut yang mengambil posisi di bawah.


Dengan cepat, tangan Arlin melepas kancing seragam Bimo. Ia juga menghamburkan kecupan ke leher cowok itu.


Acha yang sejak tadi berada di lemari, bingung harus bagaimana. Jika tetap diam, maka matanya akan terus ternodai. Akan tetapi bila keluar, otomatis Bimo dan Arlin memergokinya.


'Ini gila! Benar-benar gila! Kak Bimo gila!' rutuk Acha dalam hati sambil mengatupkan bibir rapat-rapat. 'Sumpah gue nggak tahu harus bagaimana sekarang...' batinnnya lagi.


Acha memejamkan mata rapat-rapat. Meskipun begitu, telinganya tetap saja ternodai dengan desisan kotor dari Bimo dan Arlin.


Tanpa diduga, Acha merasakan ada sesuatu yang bergerak di kakinya. Dia sontak membuka mata. Setelah melihat ke kaki, dirinya menemukan ada seekor kecoak.


"Aaaarkhh!!!" Acha berteriak dan reflek keluar dari lemari. Dia yang panik, tak sengaja terjatuh. Sekarang gadis itu jatuh terjerembab di lantai. Plastik flip yang tadi diambilnya dari laci Bimo terlepas.


Mendengar keributan yang dibuat Acha, Bimo dan Arlin tentu menghentikan kegiatan intim mereka. Atensi keduanya langsung tertuju ke arah Acha.


"Acha!" seru Bimo seraya bergegas memasang seragam. Tatapannya tertuju ke arah plastik flip kecil yang tergeletak di lantai. Bimo sangat yakin itu adalah miliknya.

__ADS_1


Acha membulatkan mata sambil menatap ke arah Bimo. Tanpa pikir panjang dan melakukan pembelaan, dia ambil plastik flip kecil. Lalu cepat-cepat melarikan diri.


"Acha!" Bimo segera mengejar Acha. Namun Arlin sigap memegang tangannya.


"Bimo! Udah biarin aja!" perintah Arlin.


"Sialan! Mana mungkin gue biarin dia bawa benda itu!" sahut Bimo sembari melepaskan pegangan Arlin secara paksa. Selanjutnya, dia buru-buru pergi mengejar Acha.


"Benda apaan." Arlin mengerutkan dahi. Ia sama sekali tak mengerti. Sambil berdecak kesal, di mengenakan seragamnya.


Sementara itu, Acha baru saja masuk ke kamarnya. Ketika dia hendak menutup pintu, Bimo datang. Keduanya sontak saling adu kekuatan.


Karena tenaga Bimo lebih kuat, dia tentu bisa mengalahkan Acha. Cowok itu bahkan membuat Acha terhuyung dan nyaris terjatuh.


Acha berusaha mempertahankan. Kini dia dan Bimo lagi-lagi berseteru. Acha tak akan menyerahkan plastik flip kecil berisi serbuk mencurigakan pada Bimo tanpa mendengar penjelasan.


Karena Bimo terus menyerang, Acha gigit tangan cowok tersebut.


"Aaaarghh!!!" Bimo mengerang kesakitan. Saat itulah Acha menyembunyikan benda yang di inginkan Bimo ke dalam bra.


"Kau pikir aku tidak akan berani mengambilnya?" timpal Bimo.


"Aku butuh penjelasan!" imbuh Acha. Dia menjaga jarak dari Bimo. Berjaga-jaga dari serangan mendadak cowok tersebut.

__ADS_1


"Nggak ada yang perlu dijelasin. Serahkan benda itu!" Bimo mendekat. Dia terlihat garang sekali. Sangat berbeda dibanding Bimo biasanya.


"Benda apa ini, Kak! Jelasin ke aku!" pinta Acha lantang. Dia yang terus melangkah mundur, akhirnya tersudut ke depan nakas.


Bimo tak menjawab. Dia hanya berjalan cepat ke hadapan Acha dan berusaha mengambil benda yang disembunyikan Acha di dalam bra.


Acha cepat-cepat menutupi dadanya dengan dua tangan. Tatapan matanya menajam.


"Kalau Kak Bimo berani, jangan harap Kak Bimo bisa dapat maaf dariku!" ancam Acha.


"Kenapa kau melakukan ini, hah? Apa ini karena cinta kau tidak terbalas olehku? Begitu?" tukas Bimo.


"Tentu tidak!? Aku melakukan ini karena mau membantu papah kita. Papah yang selalu curiga dengan tingkah mencurigakan putranya sendiri," terang Acha. Dia tak pernah menyangka hubungannya dan Bimo akan berubah menjadi menegangkan begini.


"Itu bukan urusanmu!" balas Bimo.


"Urusanku! Kau sekarang kakakku! Kita keluarga, aku nggak mau melihat salah satu anggota keluargaku melakukan sesuatu hal buruk! Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Papahmu?" Acha berhenti bicara sejenak. Dia mengeluarkan plastik flip berisi serbuk putih dari branya. "Dan ini! Kumohon bilang padaku kalau benda ini bukanlah sesuatu yang kupikirkan. Ini bukan narkoba kan?" timpalnya.


Bimo langsung merebut plastik flip dari tangan Acha. Ia memasang raut wajah serius. "Inilah jati diriku! Kalau kau berani mengatakan semuanya pada Papah, silahkan! Aku malah senang di usir dari keluarga ini!" ungkapnya. Kemudian beranjak dengan langkah laju dari hadapan Acha.


Acha menutup mulutnya dengan dua tangan. Dia merasa tak percaya terhadap apa yang ditemukannya. Seburuk itukah Bimo? Cowok itu benar-benar sudah jatuh ke lubang keburukan.


Tanpa sadar, air mata membasahi wajah Acha. Ia tidak hanya merasa sakit hati, tetapi juga kasihan pada Bimo. Dirinya yakin, pasti ada penyebab yang membuat Bimo nekat berbuat begitu.

__ADS_1


Acha termangu. Dia merasa harus melakukan sesuatu.


__ADS_2