Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 59 - Season 2 [Sambutan Di Hari Pertama]


__ADS_3

5 tahun kemudian...


...༻⊛༺...


"Kau akan ditugaskan di RSJ Gempita. Kau sudah bisa mulai menjalankan tugasmu di sana minggu depan!" ujar Tora. Dosen pembimbing Acha.


"Apa? RSJ, Pak?" mata Acha membulat. Menurutnya bekerja di rumah sakit jiwa lebih berat dibanding puskesmas atau klinik.


"Iya. Kau keberatan?" Tora menatap serius.


"Enggak bukan begitu, Pak! Tapi masalahnya rumah sakit itu jauh dari rumahku sekarang. Aku tidak bisa--"


"Apa itu pantas disebut sebagai alasan? Kau bisa cari kost atau rumah kontrakan dekat sana. Kebetulan juga ada dorm di sana," potong Tora tegas.


"Baiklah, Pak..." Acha tak bisa membantah lagi. Dia terpaksa menerima penugasannya di RSJ Gempita.


Dengan wajah cemberut, Acha pergi dari ruang dosen. Dia melangkah berat keluar dari kampus.


"Aku sepertinya salah pilih jurusan. Bakatku sebenarnya di bidang seni! Bisa-bisanya aku mengambil jurusan Psikologi hanya karena lulus di bidang ini," gerutu Acha.


Meski dilakukan dengan terpaksa, hari Acha mendatangi RSJ Gempita akhirnya tiba. Ternyata dia bukanlah satu-satunya dokter koas yang ditugaskan di sana. Hal itu setidaknya membuat Acha lega.

__ADS_1


"Itu Dok! Dokter koas selain kau!" seru perawat yang sedang menemani Acha. Dia menunjukkan tangan ke arah lelaki dengan jas putih.


Saat melihat dokter itu, pupil mata Acha membesar. Bagaimana tidak? Sebab dia yakin dirinya mengenal orang tersebut.


"Bukankah dia Kak Ezra?" gumam Acha yang merasa tak percaya. Ezra sendiri adalah kakak kelasnya saat SMA. Mereka sempat dekat dalam beberapa waktu. Ezra bahkan pernah bilang pada Acha kalau dirinya ingin menjadi dokter ketika lulus SMA.


"Dokter mengenalnya?" tanggap sang perawat.


"Iya. Dia satu SMA denganku!" Acha bergegas mendekati Ezra. Mengingat dia sudah lama sekali tidak bertemu lelaki itu.


"Kak Ezra!" panggil Acha. Membuat Ezra sontak menoleh ke arahnya.


Namun sayangnya, ekspresi Ezra sangat datar. "Apa aku mengenalmu?" sahutnya tak acuh. Lalu melangkah menyusuri koridor meninggalkan Acha.


"A-apa?" Acha keheranan. Dia bingung harus bagaimana sekarang. Dirinya tentu tidak menyangka Ezra akan bersikap dingin begitu.


Karena penasaran, Acha bergerak mengikuti Ezra. Dia menyamakan langkahnya dengan lelaki itu.


"Kau benar-benar tidak mengenalku? Kau pasti berpura-pura kan?" selidik Acha.


Ezra hanya diam dan terus berderap maju. Sampai langkahnya dan Acha harus terhenti karena bertemu seorang pasien secara tiba-tiba.

__ADS_1


Mata Ezra dan Acha membulat sempurna. Mereka tentu panik. Mengingat kebanyakan pasien RSJ harus dikurung. Terutama pasien dengan gangguan jiwa parah.


Baik Ezra maupun Acha, keduanya hanya memasang posisi waspada. Siap bertindak kalau pasien sakit jiwa di hadapan mereka melakukan sesuatu hal gila.


"Apa kau tahu dia kena gangguan jiwa apa?" tanya Acha dengan wajah panik.


"Kau pikir aku mengetahui semuanya di hari pertama?" balas Ezra.


Pasien lelaki di hadapan mereka tersenyum. Dia berjalan mendekati Acha sambil memegangi celananya.


Tanpa diduga, pasien tersebut membuka celana hingga lontong panjangnya terpampang nyata. Dia melakukan hal tersebut sambil cengengesan seolah senang.


"Eksibisionis!" ujar Ezra. Dia sekarang bisa menyimpulkan gangguan jiwa yang diderita pasien setelah melihat aksi tak senonoh itu.


Acha membeku. Bisa-bisanya di hari pertama dia bertugas dirinya disambut oleh pemandangan begitu. Acha kini yakin tugasnya sebagai dokter di RSJ tidak akan mudah. Penderita eksibisionis tentu bukanlah satu-satunya pasien yang harus dia tangani.


..._____...


Catatan Kaki :


Eksibisionis : gangguan kesehatan berupa dorongan, fantasi, atau tindakan mengekspose alat kelamin kepada orang yang tidak menginginkannya, terutama orang asing.

__ADS_1


__ADS_2