Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 48 - Kebenaran Tentang Ezra


__ADS_3

...༻〇༺...


Alan memilih duduk ke sofa lusuh yang ada di ruang tamu. Dia duduk tidak jauh dari Acha. Tak lama kemudian Ezra muncul dari balik tirai.


"Nih minum obatnya. Sorry, gue cuman punya air putih. Kalau mau air hangat, tunggu sekitar sepuluh menit," ujar Ezra sembari meletakkan obat dan dua gelas air putih untuk Alan dan Acha.


"Gue nggak mau! Gue nggak percaya sama lo," ungkap Alan ketus.


"Terserah lo deh! Yang jelas kalau sakit lo tambah parah, gue seret lo ke rumah sakit!" balas Ezra. Dia beralih menatap Acha. "Cha! Lo juga harus minum obat!" sarannya.


"Tapi aku nggak sakit," sahut Acha.


"Tuh! Acha aja malas minum obat lo," cetus Alan sambil menarik sudut bibirnya ke atas.


Ezra terdiam sejenak. Dia memang tidak bisa berbuat apa-apa mengenai keadaan ekonominya yang tidak meyakinkan. Orang sekelas Alan dan Acha tentu akan enggan mengkonsumsi apa yang dimilikinya.


Acha merasa tidak enak saat melihat raut wajah Ezra. Dia segera mengambil gelas berisi air putih. "Ya udah. Aku akan minum obatnya. Aku memang agak sedikit pusing," ucapnya yang segera meminum obat dari Ezra. Cowok itu lantas tersenyum tipis.


Tetapi tidak untuk Alan. Ia memutar bola mata jengah dengan sinis. Seperti pemain antagonis yang menyebalkan. Namun Alan yang tidak enak badan, merasa mulai tergoda karena melihat Acha meminum obat.

__ADS_1


"Kalian istirahat aja dulu. Kalau mau rebahan, ada kasur di kamar," kata Ezra seraya beranjak ke dapur.


Bertepatan dengan itu, ponsel Acha bergetar. Ia mendapatkan pesan dari Sitha. Tanpa pikir panjang, dirinya periksa pesan berupa video tersebut. Apalagi saat Sitha menyebut nama Ezra dan Bimo dalam pesan.


Deg!


Jantung Acha berdegup kencang saat melihat video kiriman dari Sitha. Dari sana dia menemukan Ezra asyik memandanginya dari kejauhan. Hal serupa juga dilakukan Bimo.


'Apa artinya ini?' Acha mengirim pesan pada Sitha.


'Astaga... Lo nggak peka banget. Lihat tatapan mereka ke elo, Cha! Itu tatapan orang yang jatuh cinta!' Dengan yakinnya Sitha membalas pesan Acha begitu.


'Dari sini gue yakin kalau Kak Ezra adalah pengagum rahasia lo.' Pesan dari Sitha kembali masuk. Membuat Acha otomatis jadi berpikir begitu.


"Gimana? Lo nggak sakit perut kan?" celetuk Alan. Menyebabkan atensi Acha sontak teralih.


"Maksudnya?" Acha tak mengerti.


"Maksudnya, lo nggak keracunan kan sama obat yang lo minum?" tanya Alan.

__ADS_1


"Enggak." Acha menggeleng tegas. "Oh jadi karena itu kau tidak mau minum obatnya. Kak Ezra nggak bakalan sejahat itu kali, Kak!" tambahnya.


"Nggak usah bacot. Lo nggak tahu apa-apa masalah di antara gue dan Ezra!" balas Alan. Akhirnya dia meminum obat yang disediakan Ezra. Karena tidak enak badan, dia telentang di sofa. Sepertinya Alan tak bisa memaksakan diri lagi untuk berlagak sehat.


Acha kini terdiam sendiri. Dia mengedarkan pandangan untuk melihat keadaan rumah Ezra. Perlahan dirinya berdiri dan melangkah masuk lebih dalam.


Perhatian Acha tertuju ke arah sebuah pintu kamar yang terbuka. Dari luar Acha bisa melihat ada banyak kertas berhamburan. Terdengar juga suara Ezra yang sepertinya ada di dalam.


Perlahan Acha mendekat ke depan pintu kamar. Ia menatap selembar kertas yang terbuka. Acha melihat kalimat romantis di sana. Kalimat romantis yang tidak asing. Akan tetapi penuh dengan coretan.


Dahi Acha berkerut. Dia akhirnya berjalan melewati pintu dan mengambil selembar kertas yang ditemukannya. Lalu membaca pesan dalam kertas tersebut.


'Selama beberapa hari ini aku kesulitan. Tapi kehadiranmu membuatku bisa bertahan. Senyumanmu itu benar-benar seindah mentari yang menyinari dunia. Kau adalah obat bagiku, Natasha. Andai aku bisa selalu melihatmu di setiap...'


Acha yakin pesan yang dibacanya mirip dengan surat misterius yang dia terima terakhir kali.


Ezra yang sejak tadi sibuk memungut kertas-kertas, baru sadar dengan kehadiran Acha. Matanya membulat sempura. Buru-buru dia mengambil kertas yang dipegang Acha.


"Sejak kapan lo masuk?!" timpal Ezra.

__ADS_1


__ADS_2