
Ezra mendengus kasar. Wajahnya cemberut sekali. Entah kenapa dia kesal sekali melihat interaksi Alan dan Acha yang tampak begitu dekat.
Ponsel Arga berdering. Dia mendapat telepon dari ibunya. Arga langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Arga! Apa kau sudah melihat berita? Afirza meninggal karena dibunuh anaknya sendiri!" ungkap Widya dari seberang telepon.
"Aku sudah mendengarnya, Bu. Alan bahkan sedang berada di rumah sakit tempatku bekerja," sahut Ezra.
"Benarkah? Kau harus berhati-hati, Nak. Dulu dia juga sering memukulimu." Widya terdengar cemas.
"Ibu tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Ezra. Namun dia berkata dalam hati, 'Aku justru mengkhawatirkan seseorang.'
"Jagalah dirimu baik-baik. Kalau ada apa-apa kabari Ibu ya," kata Widya yang langsung di iyakan oleh Ezra. Pembicaraan mereka lantas berakhir.
Sementara di dalam ruangan, Alan sudah mulai tenang. Acha memperlakukannya dengan baik. Gadis itu bahkan tidak memaksa Alan untuk menceritakan semuanya sekarang.
"Kalau kau masih mau istirahat, silahkan. Aku akan pergi--"
"Tidak! Jangan pergi!" potong Alan sembari meraih pergelangan tangan Acha. Gadis itu pun terhenti. "Aku ingin kau menemaniku di sini," pintanya.
__ADS_1
Acha tersenyum tipis. Dia menganggukkan kepala, lalu kembali duduk ke samping Alan.
Hening menyelimuti suasana dalam sesaat. Sampai akhirnya Alan angkat bicara.
"Semua orang sekarang mengira aku pembunuh," ungkap Alan. "Itu lebih buruk dibanding kejadian pembulian dahulu," sambungnya.
"Apa kau benar-benar sudah membunuh ayahmu?" tanya Acha.
"Apa kau percaya aku melakukan itu?" tanggap Alan yang justru berbalik tanya.
"Entahlah. Rasanya sulit untuk percaya. Aku--"
"Dijebak? Apa maksudmu?" Acha jadi penasaran.
"Itulah yang membuatku bingung sekarang. Saat aku terbangun, aku sudah berada di kamar papahku. Hal yang aku ingat terakhir kali, aku tidur di kamarku sendiri," jelas Alan. Dia memegangi kepalanya. Alan merasa tertekan saat memikirkannya.
"Sudahlah. Kau sebaiknya tenangkan dirimu dulu. Masalahnya baru saja terjadi. Kita bisa bicarakan semuanya sampai kau siap," saran Acha seraya menggenggam tangan Alan.
"Kalau begitu aku butuh bantuanmu," imbuh Alan. Menatap penuh harap.
__ADS_1
"Bantuan?" Acha mengerutkan dahi.
"Aku ingin kau mencari lelaki bernama Eko. Dia adalah salah satu sekretaris pribadi yang dipecat satu bulan lalu," ujar Alan.
"Kak! Aku bekerja sebagai dokter di sini. Bukannya detektif," sahut Acha.
"Tapi pekerjaan dokter adalah membantu pasiennya kan?" Alan berusaha membujuk Acha. "Aku benar-benar tidak tahu harus apa sekarang. Aku tidak bisa hanya duduk diam dan pasrah dengan anggapan buruk orang terhadapku," tambahnya.
Acha yang melihat cara Alan bicara, merasa kalau lelaki itu bersungguh-sungguh. Dia lantas setuju untuk mencari mantan sekretaris Alan yang bernama Eko.
Alan sangat senang dengan keputusan Acha. Dia tak lupa memberitahu nama lengkap Eko dan alamatnya.
"Terima kasih, Cha. Aku janji akan membalas semua bantuanmu ini," ungkap Alan.
"Tapi kalau aku tahu kau berbohong dan hanya memanfaatkanku, maka jangan harap aku mau memaafkanmu!" tegas Acha sembari mengacungkan jari telunjuk ke wajah Alan. Setelah itu, dia keluar dari ruangan. Menyuruh koki rumah sakit untuk memberikan makanan untuk Alan.
Melihat Acha keluar, Ezra bergegas menghampiri. "Kau tidak apa-apa? Dia tidak menyerangmu kan?" tanyanya.
"Apa aku tampak terluka?" balas Acha sarkastik. Kemudian berlalu pergi.
__ADS_1