Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 28 - Tidak Ada Surat


__ADS_3

...༻〇༺...


"Kak Bimo, udah!" pekik Acha. Dia sudah geram akan sikap Bimo.


Acha mendorong Bimo menjauh. Hingga cowok itu berhenti menarik kerah baju Alan.


"Ayo kita pergi, Kak! Nanti telat!" ajak Acha seraya menggenggam tangan Alan. Meninggalkan Bimo sendirian yang tampak kehabisan kata-kata. Cowok tersebut tidak bisa lagi membuat Acha menjauh dari Alan.


"Sial! Sial!" Bimo hanya bisa mengumpat kesal tatkala Alan dan Acha sudah beranjak pergi. Sungguh, dia benar-benar heran kenapa Acha mau dekat dengan Alan.


Sementara Acha yang sudah dijalan, mendengus lega bisa mengatasi sikap Bimo dengan baik. "Maafin Kak Bimo ya, Kak. Dia tadi hampir nonjok Kakak," ungkapnya seraya berpegang ke pinggul Alan. Meskipun begitu, pegangannya tidak begitu erat. Acha hanya berpegangan secukupnya.


"Santai aja, Cha. Aku tahu gimana Bimo kok. Aku malah senang," tanggap Alan. Ia sangat puas bisa membuat Bimo marah tadi. Rencananya sukses besar.


"Kenapa senang?" tanya Acha yang tak mengerti.


"Senang karena dapat perhatianmu," jawab Alan. Jelas rayuannya hanya kebohongan belaka.


'Huek! Gue mau muntah dengarnya,' batin Acha dalam hati. Namun dia terpaksa menanggapi rayuan Alan dengan positif.


"Kak Alan bisa aja. Kakak bakalan bisa dapetin terus perhatianku kok," ucap Acha. Dia sendiri bahkan merasa jijik dengan ucapannya sendiri.


Tanpa sepengetahuan Acha, Alan langsung meringis jijik. Ekspresi itu tentu tak bisa dilihat Acha. Mengingat wajahnya sedang tertutupi dengan helm. Ternyata bukan hanya Acha yang merasa jijik dengan segala ucapan manis.


'Sial! Gue udah nggak tahan. Mending gue mode gerak cepat aja!' ucap Alan dalam hati. Dia berniat ingin menjadikan Acha pacarnya dalam waktu dekat.


"Ya udah kalau begitu, habis pulang sekolah nanti mau jalan sama aku nggak?" tawar Alan.

__ADS_1


"Boleh. Apa kita akan ke cafe lagi?" tanya Acha.


"Kali ini nggak. Teman-temanku nggak akan ikut. Kita akan pergi berdua aja," sahut Alan.


"Oke." Acha hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia sebenarnya agak gugup. Takut Alan berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Acha harap dirinya akan baik-baik saja.


Tak lama kemudian, Alan tiba di sekolah Acha. Mereka harus berpisah. Keduanya tidak lupa saling berpamitan dan tersenyum satu sama lain.


Saat Alan pergi, Acha segera berlari memasuki lingkungan sekolah. Tetapi langkahnya harus terhenti karena tangannya ditarik oleh Sitha.


"Sitha!" seru Acha.


"Gila! Cowok yang sama lo tadi siapa? Apa karena dia lo beli rok baru yang enak buat ngangkang?" tukas Sitha dengan nada pelan.


"Ish! Kepo aja lo. Dia bukan siapa-siapa. Nggak penting!" sahut Acha. Sebenarnya dia berbicara jujur. Sebab tujuannya mendekati Alan bukan karena rasa suka.


Acha memutar bola mata jengah. Dia terpaksa memberitahukan perihal Alan. Untuk sekarang Acha mengakui hubungannya dengan cowok itu hanya sekedar teman.


"Teman? Gue yakin sebentar lagi pasti bakalan berubah status," ujar Sitha dengan tatapan menyelidik.


"Udah deh. Gue malas bicarain ini terus!" Acha merubah topik pembicaraan dengan cara menyeret Sitha masuk ke kelas.


Setibanya di kelas, Acha memeriksa bawah meja seperti biasa. Itu dilakukannya karena merasa sudah terbiasa mendapat surat misterius setiap hari. Anehnya hari ini dia tidak mendapatkan surat seperti biasa.


Dahi Acha berkerut. Ia sampai berulang kali memeriksa laci bawah mejanya.


"Kenapa? Apa hari ini lo nggak dapat surat?" tebak Sitha.

__ADS_1


"Iya," sahut Acha. Dia tidak tahu kenapa dirinya merasa agak kecewa.


"Bagus dong! Kan itu yang lo mau." Sitha menilik raut wajah yang dipasang oleh Acha. "Tapi kayaknya lo nggak terlihat senang," komentarnya.


"Siapa bilang! Lagian surat itu nggak penting banget." Acha lekas membantah.


"Mungkin hari ini penggemar misterius lo itu lagi sibuk. Jadi nggak sempat deh bikin kalimat manis buat lo." Sitha berucap sambil menopang dagu dengan satu tangan.


"Ish! Lebay. Lagian gue nggak berharap!" Acha lagi-lagi menampik. Padahal dari hati kecilnya dia merasa kecewa.


'Kenapa dia nggak nulis surat hari ini? Dia baik-baik aja kan? Apa dia sudah nggak suka sama gue lagi?' pertanyaan itu terus menghantui Acha berulang kali. Tidak seperti biasa yang terkesan seperti tak peduli, sekarang sepertinya Acha mulai peduli. Ia bahkan mulai penasaran dengan sosok yang sudah mengirim surat cinta ke bawah mejanya setiap hari.


Bel pertanda masuk terdengar. Guru yang mengajar segera masuk ke kelas. Saat itulah rombongan kakak kelas yang tergabung dalam anggota PMI berdatangan. Mereka semua meminta sumbangan pada para murid lain atas meninggalnya orang tua Farrel hari itu. Farrel memang juga dikenal sebagai murid yang tidak mampu. Cowok itu bisa bersekolah karena adanya beasiswa.


Karena musibah yang menimpa Farrel, Acha jadi berpikir kalau cowok yang selama ini mengirim surat padanya adalah Farrel.


Kala jam pelajaran sudah usai, Sitha minta ditemani Acha ke toilet. Acha lantas setuju saja karena temannya itu sangat memaksa.


"Lo mau pipis juga?" tanya Sitha sebelum masuk ke toilet.


"Enggak. Gue nunggu di luar aja. Sumpek!" sahut Acha sambil menggeleng tegas. Sitha yang tak tahan buru-buru masuk ke toilet.


Acha menunggu di depan toilet. Dia iseng berjalan sampai ke belakang sekolah. Dirinya berniat ingin melihat-lihat saja.


Tanpa diduga, Acha memergoki seorang cowok merokok. Cowok itu sendirian dan Acha merasa tidak asing dengan perawakannya.


"Kak Ezra?" gumam Acha menduga.

__ADS_1


Ezra tampak begitu muram. Dia berjongkok sambil sesekali menyesap rokok. Acha juga melihat seragam cowok itu masih agak kotor. Bahkan ada sobekan kecil di beberapa sudut.


__ADS_2