Acha Dan Tiga Cogan

Acha Dan Tiga Cogan
Bab 40 - Telepon Dari Alan


__ADS_3

...༻〇༺...


"Bim! Lo boleh ngajak Acha ikut klub olahraga. Tapi nggak perlu nyindir klub pramuka juga kali!" tukas Ezra serius.


"Sensitif amat lo. Apa yang gue katakan itu kan fakta," sahut Bimo sambil menggelengkan kepala. Dia segera mengalihkan atensinya pada Acha. Merangkul pundak gadis tersebut.


"Ayo, Cha! Ikut aku ke stand klub olahraga," ajak Bimo.


Ezra tampak menatap ke arah Acha juga. Dia sepertinya menunggu reaksi cewek itu.


"Apa?! Ke sana?" Mata Acha terbelalak sambil menunjuk ke stand klub olahraga. Dia sebenarnya ingin ikut Bimo. Akan tetapi Acha mengira dirinya akan kesulitan bergaul dengan teman-teman Bimo.


"Nggak bisa, Kak!" Acha melepas rangkulan Bimo. Dia melepas tasnya dan berdiri ke balik stand meja klub pramuka. Dahi Ezra dibuat berkerut akibat tindakannya.


"Aku sudah terlanjur daftar klub pramuka. Aku langsung dapat tugas dari Kak Ezra. Iyakan, Kak?" Acha menyenggol Ezra dengan siku.


"Hah?" Ezra sontak kebingungan.


Acha lantas berbisik ke telinganya. "Bantu aku, Kak. Aku nggak mau ikut Kak Bimo..." ujarnya.


Ezra mendengus kasar terlebih dahulu. Dia segera berkata, "Iya. Acha dapat tugas nemenin gue di sini! Kecuali kalau dia mau berubah pikiran buat pindah klub."


"Enggak! Aku udah fix mau ikut klub pramuka!" ucap Acha yang tak mau berbasa-basi.


Bimo menatap Acha dan Ezra secara bergantian. Entah kenapa dia tidak suka melihat Acha dekat dengan Ezra.


"Ya udah kalau begitu. Kasih tahu aku kalau mau pulang," kata Bimo yang berusaha menoleransi keputusan Acha. Dia segera beranjak pergi. Meskipun itu berat dirinya lakukan.

__ADS_1


Kini Acha mendengus lega. Dia menghempaskan diri duduk ke kursi.


"Lo mending pergi sekarang!" tukas Ezra sambil menatap tajam Acha.


"Kak Ezra nggak mau di temanin? Sendirian mulu," balas Acha.


"Emang masalah buat lo? Cepat pergi sana!" Sekali lagi Ezra mencoba mengusir Acha.


Acha memasang tatapan malas. "Pantas Kakak nggak punya satu pun teman. Lambenya pedas banget kayak cabai. Biarin aku di sini dulu lah. Aku--" Perkataan Acha terpotong saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dia mendapat telepon dari Alan.


"Kak Alan!" gumam Acha.


Mendengar nama Alan disebut, Ezra jadi cemas. Dia yang sangat mengenal Alan, tidak mau Acha terus dekat-dekat dengan cowok tersebut.


"Halo?" Acha menjawab panggilan Alan.


"Cha, bisakah kita bertemu? Aku sudah ada di depan gerbang sekolahmu," ucap Alan dari seberang telepon.


Di sisi lain, Acha juga penasaran dengan niat kedatangan Alan. Mengingat dia tidak ada mendapat kabar dari cowok tersebut setelah insiden di pesta amal.


Acha mengambil tasnya. Dia memutuskan untuk menemui Alan. Tetapi seseorang sigap memegangi lengannya. Orang itu tidak lain adalah Ezra.


"Jangan pergi!" ucap Ezra.


Acha menoleh. Keningnya mengernyit samar. Senyuman geli terukir di wajah cewek itu. "Bukannya tadi Kak Ezra mengusirku?" timpalnya.


"Gue berubah pikiran karena mau ke toilet. Lo jaga stand ini untuk sementara," ujar Ezra beralasan. Dia melepaskan dasi pramuka bercorak merah putih dari lehernya.

__ADS_1


"Pakai ini biar keanggotaan lo meyakinkan," kata Ezra seraya memasangkan dasi pramuka yang sering disebut kacu tersebut.


Acha terkesiap. Dia tak tahu kenapa, namun dirinya terpesona pada Ezra untuk sesaat. Acha buru-buru membuang muka karena merasa malu sendiri.


Bersamaan dengan itu, ponsel Acha kembali berdering. Dia terpaksa memeriksa ponselnya. Alan terlihat menghubunginya lagi. Nampaknya cowok itu benar-benar menunggu di depan gerbang sekolah.


Selintas Ezra melihat nama Alan di layar ponsel Acha. Ia bertekad tidak akan membiarkan Acha menemui Alan.


"Tetap di sini! Awas saja kalau pergi!" perintah Ezra. Kemudian beranjak dari hadapan Acha.


"Tapi--" Acha ingin protes. Akan tetapi Ezra terlanjur pergi. Dia segera mengangkat panggilan dari Alan.


"Maaf, Kak. Aku nggak bisa menemui Kakak. Aku harus jaga stand sekarang," ujar Acha.


"Stand? Kau masih di sekolah kan?" Alan memastikan.


"Iya," sahut Acha. Setelah itu panggilan dimatikan oleh Alan. Acha lantas hanya mengangkat kedua bahunya dan duduk.


Di waktu yang sama, Sitha baru saja selesai menjalani tes keanggotaan di klub sastra. Dia berniat ingin mencari Acha.


Sitha mengedarkan pandangan ke segala arah. Atensinya justru tertuju ke arah Ezra yang terlihat berdiri di balik dinding sambil memegangi buku. Cowok tersebut seperti sedang bersembunyi.


Mata Sitha memicing agar bisa melihat lebih jelas. Dia menyaksikan Ezra terlihat tersenyum tipis sembari melihat ke satu arah. Cowok itu memasang tatapan penuh arti yang sulit dijelaskan.


"Wah, baru kali ini gue lihat Kak Ezra senyum," guma Sitha. Dia iseng menengok ke arah yang sama dengan Ezra. Dari situlah Sitha kaget. Itu karena Ezra memandang ke arah Acha yang sedang duduk sendirian di stand pramuka.


"Gue nggak salah lihat kan? Berarti dugaan Acha benar dong. Pengagum rahasianya Kak Ezra!" Sitha terkejut seraya mengangakan mulut. Buru-buru dia mengambil ponsel dan merekam bukti. Ya, Sitha merekam aksi Ezra yang tampak diam-diam memandangi Acha dari kejauhan.

__ADS_1


Saat merekam, perhatian Sitha tak sengaja tertuju ke arah Bimo. Pupil matanya membesar ketika melihat Bimo juga memandangi Acha dengan cara yang sama seperti Ezra.


"Apa-apaan ini?" Sitha tentu bingung. Mengingat dia dan semua orang tahu Bimo adalah kaka tirinya Acha. Cara Bimo menatap Acha tidak seperti seorang kakak yang menatap adiknya.


__ADS_2