
...༻〇༺...
Setelah Mira benar-benar masuk ke kamar, Bimo segera bergerak. Cowok itu bisa menyelinap keluar dengan mulus. Ia bahkan sempat-sempatnya melambaikan tangan pada Acha.
Acha tak bisa menahan tawa. Ia lantas tersenyum. Hal itu sontak membuat Mira curiga. Mira langsung menoleh ke belakang. Tepat ke arah mana Acha sedang melihat sekarang. Untung saja Bimo sudah pergi, jadi cowok itu tidak ketahuan.
"Kau senyum sama siapa, Cha?" tanya Mira.
"Bukan apa-apa, Mah. Ada apa? Mau ngajakin sarapan?" tanggap Acha.
"Iya. Sarapan sudah siap di meja," kata Mira.
Acha mengangguk. "Aku mandi dulu ya," ujarnya sembari beranjak ke kamar mandi. Mira lantas beranjak dari kamarnya.
Ketika sudah selesai mandi, Acha mengenakan seragam. Ia juga tak lupa membawa tas ransel. Agar nanti setelah sarapan, Acha bisa langsung pergi ke sekolah bersama Bimo.
Di meja makan, semua orang berkumpul. Acha dan keluarganya sibuk menikmati sandwich buatan Mira.
"Ngomong-ngomong malam ini kami berdua ada janji makan malam. Jadi kemungkinan akan pulang larut atau bisa juga pulang besok," cetus Rizal.
"Mas!" Mira menyenggol Rizal dengan siku. Dia terlihat malu.
"Ada apa ini? Kalian akan melakukan bulan madu satu malam?" tukas Bimo.
"Mungkin begitu," jawab Rizal.
"Enggak. Kami cuman makan malam. Papah kalian hanya bercanda," ralat Mira.
"Jadi, Bim! Kau harus di rumah. Jagain Acha!" titah Rizal dengan raut wajah serius.
"Iya, Pah." Bimo mengangguk. Lalu melirik Acha. Gadis itu balas menatap dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Selepas sarapan, Bimo dan Acha pergi ke sekolah. Sekarang keduanya baru hendak menaiki motor.
"Cha, hari ini kau pulang dijemput sopir lagi ya. Kebetulan aku harus mengurus sesuatu. Aku janji akan pulang secepat mungkin," kata Bimo.
"Oke. Tapi jangan pulang larut malam lagi ya," sahut Acha sembari naik ke atas motor. Ia dan Bimo segera beranjak pergi. Kala itu Acha hanya berpegangan ke seragam Bimo.
"Kalau sayang, dipeluk dong," tegur Bimo. Memberi kode.
"Apaan sih, Kak. Kalau ada yang lihat gimana? Masa kakak adik mesra kayak orang pacaran?" sahut Acha.
"Biarin. Kita tinggal kasih alasan kalau kau cuman pegangan doang. Ngapain takut." Bimo terkesan sangat santai. Dia terkekeh geli. Lalu iseng meraih salah satu tangan Acha. Dia membimbing tangan itu untuk memeluknya.
"Ish! Kak Bimo..." Acha tersipu malu. Perasaannya sekarang terasa melambung tinggi. Tindakan Bimo sukses memancingnya untuk bertindak lebih berani.
"Ya udah deh kalau dipaksa," ucap Acha. Kini dia sepenuhnya memeluk Bimo. Menempel dari belakang ke punggung cowok tersebut.
"Dari tadi kek," komentar Bimo seraya memegang tangan Acha yang memeluk pinggulnya. Dia sengaja memelankan motornya agar bisa berlama-lama menikmati momen.
"Astaga, Kak. Kita kayaknya telat," ujar Acha yang merasa panik.
"Udah. Tenang aja. Ayo naik ke motor! Aku tahu jalan masuk lain," ajak Bimo.
"Yang benar, Kak? Terus motor Kak Bimo?" tanya Acha sambil kembali naik ke motor.
"Gampang itu!" Bimo melambaikan tangan ke depan wajah. Dia dan Acha pergi ke bengkel yang terletak berdekatan dengan sekolah. Bimo menitipkan motornya ke sana.
Bimo menggenggam tangan Acha. Dia mendatangi sisi belakang pagar sekolah. Di sana Bimo mengetahui jalan masuk kecil yang bolong di tembok sekolah.
Dengan hati-hati, Acha dan Bimo masuk melewat lubang di tembok itu. Usaha keduanya berhasil. Hingga sekarang mereka bisa masuk ke lingkungan sekolah.
"Kak Bimo tahu dari mana sih tentang jalan itu? Sering telat ya?" selidik Acha.
__ADS_1
"Aku sudah tiga tahun sekolah di sini. Ya tahulah!" sahut Bimo. Dia berbalik arah karena melihat ada guru BK dari kejauhan.
"Kenapa, Kak?" Acha panik.
"Ada Pak Adit. Kau sembunyi ya. Biar aku yang urus Pak Adit. Aku akan bicara dengannya agar kau bisa pergi ke kelas," imbuh Bimo.
"Tapi Kak Bimo gimana?" Acha mencemaskan Bimo.
"Udah. Nggak usah cemaskan aku." Bimo memaksa. Dia meninggalkan Acha dan menghampiri Pak Adit.
Sebelum pergi, Acha memastikan keadaan Bimo terlebih dahulu. Cowok itu terlihat berusaha meyakinkan Pak Adit. Bimo sepertinya berhasil. Sebab dia dan Pak Adit tampak bicara sambil berjalan menjauh.
'Gue meleyot lagi dibuatnya.' Acha membatin sambil menghembuskan nafas dari mulut. Dia lagi-lagi terpesona akan sosok Bimo. Acha bahkan tak berhenti senyum-senyum sendiri. Ia segera pergi ke kelas setelah keadaan aman.
Saat sudah di kelas, Acha merasa lega karena guru yang mengajar kebetulan belum masuk. Dia lantas duduk ke tempatnya. Acha masih saja berjalan riang gembira.
"Lo kenapa, Cha? Bahagia banget," komentar Sitha. Merasa aneh dengan gelagat Acha yang tidak biasa.
"Emang lagi bahagia. Gue bahagiaaa banget!" ujar Acha sembari memegangi pundak Sitha. Lalu duduk menghempas ke kursinya.
Sebelum meletakkan tas, Acha memeriksa ke bawah meja. Saat itulah dia menemukan secarik kertas dengan ikatan pita berwarna pink.
"Apaan nih?" ujar Acha seraya memperhatikan kertas dengan pita berwarna pink.
"Wah, gila... Kayaknya surat cinta tuh. Zaman sekarang masih ada ya gunain cara primitif. Coba baca deh, Cha!" tanggap Sitha penasaran.
Acha segera membuka kertas berpita pink itu. Lalu membaca isinya.
'Sejak kau menginjakkan kaki ke sekolah ini, kau sudah menarik perhatianku. Senyumanmu, tawamu, dan tatapanmu. Aku menyukai segala hal tentangmu, Natasha. Dengan membaca ini, kau tahu bahwa kau sedang dicintai...' Begitulah isi surat yang didapat Acha. Gadis itu malah mengerutkan dahi heran.
"Ini surat cinta, Cha. Lo punya pengagum rahasia!" seru Sitha menyimpulkan. Dia terlihat lebih bersemangat dibanding Acha. Sitha bahkan merebut suratnya dari Acha dan membaca sekali lagi. "Wah so sweetnya..."
__ADS_1