
...༻⊛༺...
Acha tersenyum kecut mendengar pernyataan Alan. Dia tidak terlalu menganggapnya serius. Tidak lama kemudian, mereka tiba di asrama. Acha segera menyarankan Alan untuk pergi.
"Tempat ini mengerikan. Kau tidak tinggal sendirian kan?" tanya Alan.
"Tidak. Ada dokter lain yang juga tinggal di sini. Kak Alan sebaiknya pulang. Sudah larut malam," ujar Acha.
Alan mengangguk. Dia segera pergi dari kediaman Acha.
Keesokan harinya, Acha bekerja seperti biasa. Begitu pun Ezra. Keduanya memeriksa beberapa pasien yang ada di rumah sakit.
Hari itu kebetulan ada dua pasien baru yang datang. Acha dan Ezra mendapat tugas untuk menangani pasien tersebut masing-masing.
Acha sekarang melakukan wawancara psikiatri dengan pasien barunya. Kebetulan pasien itu adalah seorang gadis muda bernama Rani. Keluarganya sendirilah yang membawa gadis tersebut ke rumah sakit jiwa. Katanya Rani sering mengalami halusinasi parah dan sesekali mengamuk tidak jelas.
Rani tampak menatap kosong ke arah jendela. Dia memperhatikan keadaan cuaca di luar yang tampak gelap.
__ADS_1
Sebelum bertanya, Acha menenggak salivanya sendiri. Setelah keberaniannya terkumpul, barulah dia angkat bicara.
"Permisi, Mbak Rani? Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Acha.
Rani hanya diam sambil terus menatap kosong keluar jendela. Dia tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun.
"Mbak? Kau bisa memberitahuku apa yang sedang kau rasakan. Mungkin aku bisa membantu," ujar Acha. Bertutur kata lembut.
Rani masih saja membisu. Dia membuat Acha kesulitan. Gadis itu tampak menggaruk kepala beberapa kali.
Secara tiba-tiba, Rani beralih menatap ke arah Acha. Dia menajamkan tatapannya. "Kau harus berhati-hati. Dia akan mendatangimu!" ujarnya.
"Berhati-hatilah..." ucap Rani dengan wajah serius.
Acha yang merasa takut, segera meminta bantuan perawat untuk membawa Rani pergi ke ruang perawatan. Dia juga meresepkan obat penenang untuk gadis itu.
Baru keluar dari ruangan, seorang perawat bernama Yogi datang. Dia memberitahu Acha dan dokter lainnya kalau ada pasien yang hilang.
__ADS_1
Menghadapi pasien yang melarikan diri bukanlah hal biasa bagi pemula seperti Acha. Namun berbeda dengan para pekerja yang sudah lama bekerja di rumah sakit jiwa. Biasanya mereka meminta bantuan dari polisi untuk melakukan pencarian. Apalagi kalau pasien yang hilang berbahaya.
Di saat-saat seperti sekaranglah Acha menyesal sudah memilih karier sebagai psikiater. Ternyata sangat melelahkan dan bikin pusing.
Ketika jam tujuh malam, Acha pulang ke asrama. Dia kaget tatkala melihat keadaan pintu kamarnya sedikit terbuka.
"Astaga!" Acha sontak panik. Matanya terbelalak lebar. Dia lantas memberanikan diri membuka pintu secara perlahan.
Deg!
Jantung Acha rasanya mau copot ketika menyaksikan ada pasien gila yang hilang hari ini menerobos masuk kamarnya. Pasien itu terlihat mengobrak-abrik lemari Acha.
Acha takut bukan kepalang. Dia melangkah mundur dan tak sengaja mengeluarkan bunyi dengan sepatunya.
Acha semakin panik saat sebuah tangan membekap mulutnya. Pemilik tangan itu menyeret Acha menjauh dari kamar dan berlindung ke tempat tertutup.
Bersamaan dengan itu, pasien gila yang ada di kamar Acha keluar. Jelas dia mencari sumber suara yang tadi dikeluarkan Acha. Pasien lelaki bernama Yono itu menoleh ke kanan dan kiri. Memeriksa keadaan di sekitar.
__ADS_1
Sementara Acha, dia hanya bisa mematung dalam bekapan seseorang.