
...༻⊛༺...
Acha duduk di sebelah Alan. Dia menunggu lelaki itu tersadar.
Jujur saja, Acha merasa sulit percaya kalau Alan sudah membunuh seseorang. Meski dia mengetahui Alan pernah berbuat kasar, tetapi dirinya merasa kalau lelaki tersebut tak akan berbuat sampai ke tahap membunuh.
Saat sibuk perihal Alan, pintu tiba-tiba terbuka. Ezra muncul dari sana. Dia terlihat memasang raut wajah cemas. Namun lelaki itu mendengus lega ketika menyaksikan Acha yang baik-baik saja.
"Kak Ezra! Kau pasti tak akan percaya kalau--"
"Pergilah! Biar aku yang mengurus Alan!" potong Ezra sembari menarik tangan Acha. Ia memaksa gadis itu pergi.
"Tapi--"
"Menurut saja! Kau masih belum berpengalaman mengurus ini!" tegas Ezra. Dia mendorong Acha keluar dari ruangan. Setelah gadis tersebut keluar, Ezra langsung menutup pintu. Acha hanya terperangah melihat sikap Ezra.
Di ruangan, Ezra segera menggantikan Acha untuk menghadapi Alan. Dia sebenarnya khawatir Acha akan kenapa-napa karena Alan. Jadi Ezra memilih untuk menggantikan gadis itu.
Dengan wajah cemberut, Ezra menunggu Alan sadar. Setelah satu jam menunggu, lelaki tersebut akhirnya membuka mata.
__ADS_1
Alan langsung melotot saat menyaksikan Ezra. "Sialan! Mau apa kau!" timpalnya. Menatap penuh kebencian.
"Setelah kuliah di luar negeri, bukannya menjadi lebih baik, kau justru semakin mengerikan," komentar Ezra.
Alan memutar bola mata kesal. "Apa itu sesuatu hal yang harus diucapkan seorang dokter untuk pasienya?" balasnya.
"Siapa yang kau bunuh?" tanya Ezra.
"Aku tidak membunuh siapapun! Seseorang menjebakku!" jawab Alan.
"Sebelum berucap begitu kau harusnya lihat keadaanmu." Ezra memperhatikan pakaian Alan yang memiliki noda darah di beberapa titik.
Semua orang di luar ruangan sontak mendengar. Termasuk Acha sendiri.
Setelah terdengar teriakan Alan, suara keributan yang dibuatnya muncul. Acha dan perawat segera masuk ke ruangan untuk memeriksa. Mereka melihat Alan berusaha melepaskan diri. Sementara Ezra tampak menghentikannya sekuat tenaga.
"Pasien ini mengamuk! Suntik kan obat penenenang!" perintah Ezra.
"Jangan, Kak! Dia baru saja disuntik obat. Tidak baik terus menyuntiknya!" seru Acha.
__ADS_1
"Apa kau ingin membiarkannya mengamuk begini?!" timpal Ezra.
"Acha..." Alan berhenti mengamuk ketika melihat Acha. Mata terlihat berkaca-kaca. Dia seolah menemukan harapan saat melihat kehadiran Acha. Dalam sekejap, suasana menjadi tenang. Perawat yang sudah siap dengan suntikannya bahkan berhenti melangkah.
"Tolong aku..." lirih Alan. Mata yang tadinya berkaca-kaca, berubah menjadi tetesan cairan.
Ezra terdiam tatkala menyaksikan Alan menangis. Hening menyelimuti keadaan saat itu.
Acha tersenyum. "Kalian bisa pergi. Aku akan bicara dengannya," katanya.
"Tapi--"
"Kak Alan mempercayaiku. Begitu pun sebaliknya." Kali ini Acha yang memotong ucapan Ezra. Lelaki itu kini tak bisa membantah lagi. Dia dan perawat segera meninggalkan Acha berduaan bersama Alan.
Melihat semua orang telah pergi, Alan segera menghapus air matanya. "Ini memalukan," ungkapnya.
"Kau tahu kalau ini bukan kali pertamaku melihatmu menangis," tutur Acha sembari duduk di sebelah Alan. "Menangislah sepuasnya. Itu akan membuatmu merasa lebih baik," sarannya.
Acha menggenggam lembut tangan Alan. Saat itulah Alan menghamburkan tangisannya, lalu jatuh dalam pelukan Acha.
__ADS_1