
...༻〇༺...
Saat sibuk memikirkan tentang keterkaitan Ezra dengan surat misterius, Sitha datang. Cewek itu langsung menghampiri Acha.
"Wah! Lo dapat surat cinta lagi?" tebak Sitha penasaran.
"Iya. Kayaknya gue sekarang bisa menduga siapa pengirimnya," sahut Acha.
"Siapa?" Sitha menuntut jawaban.
Acha menyuruh Sitha duduk. Setelah itu, barulah dia menceritakan semuanya tentang Ezra.
"Apa? Nggak mungkin! Kak Ezra itu cowok paling dingin yang pernah gue tahu. Mustahil dia orangnya." Sitha tidak percaya. Mengingat reputasi Ezra sebagai cowok paling dingin di sekolah sudah melekat sekali.
"Gue juga merasa nggak yakin sih sebenarnya. Tapi tadi gue benar-benar lihat dia keluar dari kelas kita! Terus pas gue tanya, Kak Ezra nggak kasih jawaban sama sekali," ungkap Acha.
"Berarti sekarang lo penasaran kan sama orang yang ngirim surat cinta itu?" ujar Sitha menerka sambil mengangkat dua alisnya bersamaan.
"Sedikit. Gue--"
"Oke! Bagaimana kalau besok kita datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Kalau perlu subuh aja datangnya," potong Sitha mengusulkan.
"Hah? Gila pas subuh. Cepat banget." Kelopak mata Acha melebar.
"Terus mau gimana lagi dong? Lo kan penasaran juga," ucap Sitha.
Bertepatan dengan itu, terdengar pengumuman. Seorang guru memberitahu para siswa mengenai kewajiban mengikuti klub sekolah. Khususnya untuk para murid baru.
"Mulai hari ini stand klubnya dibuka, Cha! Gue udah nggak sabar pengen gabung ke klub sastra," cetus Sitha antusias. Dia segera menatap Acha. "Kalau lo? Pengen ikut klub apa? Pasti klub seni ya?" tanyanya.
"Nggak tahu gue. Mau lihat-lihat dulu deh," tanggap Acha. Dia memang berbakat di bidang seni. Namun Acha merasa belum percaya diri untuk menunjukkan bakatnya pada orang banyak.
Saat selesai belajar, semua murid diperbolehkan keluar kelas. Kebanyakan dari mereka mendatangi lapangan untuk melihat-lihat stand klub sekolah.
__ADS_1
Kini Acha dan Sitha melangkah bersama. Sitha terlihat bersemangat sekali dibanding biasanya.
"Lihat, Cha! Itu klub sastra!" seru Sitha lantang.
"Ya udah, pergi sana! Gue mau keliling," tanggap Acha.
"Lo nggak ikut? Kali aja tertarik juga." Sitha sepertinya mencoba membujuk Acha.
"Ish! Lo kan tahu betapa bencinya gue kalau disuruh mengarang cerita. Lo aja gih!" tolak Acha seraya mendorong Sitha ke arah stand klub sastra.
"Ya udah kalau gitu. Oh iya! Gue lihat Kak Bimo ada di stand klub olahraga tuh," ujar Sitha sebelum benar-benar beranjak.
Mendengar nama Bimo, Acha langsung mencari stand klub olahraga. Benar saja, kakak tirinya itu tampak duduk bersama teman-temannya di sana. Bimo terlihat mempesona seperti biasa dalam keadaan di kelilingi murid populer lainnya. Belum lagi banyaknya siswi yang bergerombol karena ingin bergabung ke klubnya.
Acha menghembuskan nafas berat dari mulut. Dia tidak akan bisa menjadi orang seperti Bimo. Kepopuleran Bimo membuat Acha merasa pesimis.
Karena sudah pernah dekat dengan beberapa orang populer, Acha merasa dunia itu terlalu berat. Gadis tersebut mungkin tidak suka menjadi terlalu menonjol seperti Bimo.
Acha awalnya ingin mendatangi stand klub seni. Akan tetapi stand itu ramai sekali.
"Klub paling sepi kayaknya lebih menarik," gumam Acha.
Setelah melangkah beberapa saat, Acha akhirnya berhenti. Terutama saat atensinya tertuju ke stand klub pramuka. Di sana ada Ezra yang duduk sendirian sambil membaca buku. Cowok itu tampak keren dengan baju pramuka.
Sepi... Stand klub yang dijaga oleh Ezra tidak seperti stand klub sekolah lain. Mungkin itu karena semua orang tahu bagaimana Ezra.
Acha tersenyum geli. Dia memutuskan mendatangi stand klub pramuka. Tidak seperti kebanyakan murid yang berusaha menghindari Ezra, Acha justru tertarik mendekati cowok tersebut.
"Kak Ezra bukan satu-satunya anggota di klub ini kan?" tukas Acha yang sudah tiba di stand klub pramuka.
Ezra menurunkan bukunya. Menatap Acha dengan serius. Wajah tampan yang dihiasi lebam di beberapa sudut itu berhasil mengagetkan Acha lagi. Gadis tersebut hampir lupa mengenai penampilan Ezra saat pagi tadi.
"Klub pramuka memiliki anggota paling sedikit di sekolah ini. Maklum, sering dianggap tidak keren," ungkap Ezra sembari menyilangkan tangan ke depan dada.
__ADS_1
"Baru kali ini aku dengar Kak Ezra bicara dengan kalimat panjang," komentar Acha.
"Pergilah kalau nggak berminat!" usir Ezra. Dia langsung kembali membaca bukunya.
Sikap Ezra yang dingin, membuat Acha ragu terhadap dugaannya. Tidak mungkin pengagum misteriusnya akan bersikap seperti Ezra bukan?
Meskipun begitu, entah kenapa Acha menjadi tertarik untuk ikut klub pramuka. Dia yakin klub itu tidak akan merepotkan karena memiliki anggota sedikit.
"Aku pengen ikut kalau begitu. Ikut klub yang populer kayaknya agak berat," imbuh Acha. Menebar senyum ceria seperti biasa. "Oh iya. Gimana cara daftarnya, Kak?" tanyanya.
Ezra berhenti membaca. Dia berdiri sambil meletakkan bukunya ke meja. Lalu mengeluarkan buku daftar nama dari laci.
"Tulis nama lo di sana!" titah Ezra.
Acha mengangguk dan segera menulis namanya ke buku.
"Nih kartu anggota lo!" Ezra memberikan kartu berbentuk persegi panjang kecil pada Acha. "Bawa pas sabtu sore nanti!" sambungnya, dan kembali duduk ke kursi.
"Begitu doang?" Acha mengerutkan dahi. Sebab dia melihat semua klub sekolah lain mengadakan tes untuk anggota baru.
Ezra tergelak mendengar pertanyaan Acha. "Ketahuan banget kalau lo pemula. Nggak pernah sama sekali ikut pramuka?" timpalnya remeh.
"Nggak. Paling pernah latihan baris-berbaris kalau dapat giliran jadi petugas upacara," sahut Acha.
"Tes kami diadakan pas sabtu sore nanti. Nggak sekarang! Jadi siap-siap aja!" ucap Ezra. Membuat Acha garuk kepala karena bingung.
Dari kejauhan, Bimo baru menyaksikan kehadiran Acha. Dia segera meninggalkan stand klubnya dan mendatangi cewek itu.
"Cha! Kau ikut klub pramuka?" tanya Bimo dengan dahi berkerut. Mengingat klub pramuka diketahui adalah klub yang paling tidak diminati kebanyakan murid.
"Iya, Kak! Kayaknya seru," sahut Acha.
"Seru? Emangnya kau pernah ikut pramuka sebelumnya? Capek loh. Bahkan lebih capek dari pada ikut klub olahraga," ujar Bimo. Membuat mata Ezra langsung mendelik ke arahnya.
__ADS_1