
...༻〇༺...
Dahi Acha berkerut. Dia tentu heran menyaksikan dua cowok yang bersikap acuh kepadanya tampak peduli.
"Kenapa? Lagian aku sudah terlanjur pesan ojol," ucap Acha.
"Gimana sama gue? Lo mau tinggalin gue berduaan sama dia!" sahut Alan yang berakhir mengarahkan telunjuk ke arah Ezra.
"Ini sudah larut sekali. Cewek nggak boleh keluyuran di jam begini," kata Ezra. Tanpa sadar, dia dan Alan bekerjasama untuk membujuk Acha.
Acha membisu. Pertanda dia sedang mempertimbangkan untuk membatalkan kepergiannya. Gadis itu masih berdiri di ambang pintu. Terlintas juga dalam benaknya tentang keadaan Bimo sekarang.
Ponsel Acha mendadak berdering. Dia mendapatkan telepon dari ibunya. Acha langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Acha! Kau dimana? Kenapa belum pulang?" tanya Mira dari seberang telepon. Suaranya terdengar bergetar. Seolah wanita itu tengah menahan tangis.
"A-aku sedang--"
"Cepat pulang, Cha! Keadaan di rumah sekarang sedang genting. Rizal memarahi Bimo habis-habisan. Apalagi setelah mengetahui kalau kau belum pulang," potong Mira.
"Mamah tenang saja. Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang!" Acha tak perlu berpikir lama lagi untuk mengambil keputusan. Di dunia ini, tentu keluarga adalah hal paling utama.
Setelah panggilan berakhir, Acha memasukkan ponsel ke dalam tas. "Aku harus pergi! Ada masalah yang harus ku urus!" ucapnya.
"Apa?! Tapi--"
"Sudahlah, Lan! Kita tidak bisa memaksa Acha!" tegas Ezra. Memangkas perkataan Alan. Dia berjalan menghampiri Acha dan berkata, "Ayo! Aku akan menemanimu menunggu ojolnya!"
"Eh! Gue ditinggalin sendiri!" Alan dengan cepat melakukan protes.
"Udah! Lo diam aja kalau nggak mau ngerepotin orang!" balas Ezra. Dia dan Acha segera beranjak ke tepi jalan. Kala itu Ezra juga tak lupa membawa payung. Ia melindungi Acha dari tetesan air hujan. Sementara dirinya, tampak setengah basah karena lebih memperdulikan gadis tersebut.
"Kak Ezra kenapa payunginnya ke aku aja." Acha segera menggerakkan payung ke arah Ezra. Dia juga bergeser lebih dekat pada cowok itu. Kondisi tersebut harus dilakukan agar keduanya bisa kebagian payung.
Bahu Acha dan Ezra sontak saling menempel. Dengan cepat, Ezra langsung menjaga jarak. "Gue udah biasa kehujanan! Lagian hujannya nggak begitu deras," ujar cowok itu. Wajahnya sedikit memerah.
Acha mendesah berat. Karena sudah sering melihat kepedulian Ezra yang berbalut perkataan kasar, dia mencoba memaklumi.
"Terserah Kakak deh." Acha kembali terpikirkan dengan keadaan Bimo. Suara Mira diteleponnya tadi terus menghantui. Acha tak pernah mendengar ibunya seperti itu sebelumnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, ojol datang. Kebetulan Acha memesan ojek mobil. Mengingat cuaca sedang tidak mendukung. Acha segera menghilang dari penglihatan Ezra. Cowok tersebut beranjak dari tepi jalan, sampai mobil yang membawa Acha hilang.
...***...
Ketika sudah tiba di rumah, Acha langsung menemui Mira. Namun langkah kakinya harus terhenti saat pintu kamar sang ibu tertutup.
Acha menempelkan telinga ke depan pintu. Berharap bisa mendengarkan sesuatu. Tetapi hanya keheningan yang menyambut.
"Mungkin Mamah sama Papah sudah tidur," gumam Acha pelan. Dia lantas melangkah menuju kamar.
Acha urung masuk ke kamar ketika atensinya tak sengaja menatap kamar Bimo. Ia pun mendatangi kamar tersebut.
"Kak Bimo?" panggil Acha.
"Pergilah!" ujar Bimo dari dalam kamar. Pengusiran yang dilakukannya itu justru membuat Acha khawatir.
"Kak! Kau baik-baik saja kan?" tanya Acha.
Kali ini Bimo hanya diam. Sementara itu, Acha semakin penasaran. Perlahan cewek tersebut membuka pintu.
Pupil mata Acha membesar saat melihat keadaan Bimo. Beberapa titik tubuh cowok itu tampak dihiasi dengan memar dan luka. Terutama di bagian wajah dan lengan. Bimo terlihat duduk di lantai sambil menyandar ke ranjang. Selain dihiasi luka dan lebam, wajah Bimo juga tampak sembab.
"Kak Bimo!" Acha buru-buru menghampiri. Memastikan keadaan Bimo.
"Udah! Aku nggak apa-apa. Kau sebaiknya tidur sana," hardik Bimo seraya membuang muka. Dia sepertinya malu pada Acha yang sudah memergoki wajah sembabnya. Bimo tentu adalah tipe cowok yang malu jika ketahuan menangis.
"Lukanya sudah diobati? Biar aku obati ya," tawar Acha. Dia khawatir sekali.
Bimo terdiam dalam sesaat. Hingga akhirnya dia menganggukkan kepala.
Acha langsung mengambil perlengkapan obat dan membenahi luka di badan Bimo. Keduanya kini duduk di tepi ranjang.
"Kak Bimo kenapa bisa begini sih?" tanya Acha.
"Beginilah hidup kalau nggak ada tujuan," jawab Bimo tanpa menatap Acha.
"Maksudnya?" Acha tak mengerti.
"Hidupku hancur setelah ibuku meninggal. Segalanya terasa lebih rumit saat papah menikah dengan ibumu," ungkap Bimo.
__ADS_1
Kening Acha mengernyit. "Kenapa? Bukankah Kak Bimo setuju sama pernikahan mereka?" tanyanya.
"Aku bisa apa? Kita sebagai anak bisa apa? Seberapa keras aku menolak, papah nggak akan peduli. Aku merasa semakin kesepian setelah papah menikah dengan ibumu." Bimo mendengus kasar.
Acha tak bisa berkata-kata. Memang setelah menikah, dia juga jarang menghabiskan waktu bersama sang ibu. Selain sibuk dengan pekerjaan, Mira dan Rizal juga lebih sering menikmati waktu berdua. Mengingat keduanya masih dalam masa-masa bulan madu.
"Mereka pasti sibuk, Kak!" ucap Acha. Mencoba berpikir positif.
Bimo menarik sudut bibirnya sinis. "Kau sebaiknya kembali ke kamarmu!" usirnya. Bimo nampaknya kesal dengan reaksi Acha.
Acha lantas tak punya pilihan. Dia perlahan berjalan menuju pintu. Tetapi dia menoleh saat mendengar Bimo membuka laci. Cowok tersebut mengambil sesuatu dari sana.
Mata Acha membulat. Dia tahu betul benda apa yang ada di laci. Yaitu serbuk terlarang yang pernah dirinya temukan.
"Jangan, Kak!" Acha tidak jadi pergi. Dia memeluk Bimo dari belakang. Membuat cowok itu sontak membeku.
"Aku mohon jangan sentuh benda itu lagi..." kata Acha.
Bimo mematung sepersekian detik. Perlahan dia lepas pelukan Acha. Lalu berbalik menghadap gadis tersebut.
"Terus kau mau apa? Aku hanya bisa tenang dengan benda ini," ungkap Bimo. Dia dan Acha saling bertukar pandang.
"Bagaimana kalau aku yang tenangin Kak Bimo?" cetus Acha.
"Kau? Gimana cara--" ucapan Bimo terputus saat Acha memeluknya dengan erat.
"Dengan begini..." lirih Acha.
Bimo terkesiap. Akan tetapi dia tidak bisa membantah bahwa dekapan Acha membuatnya merasa lebih baik.
Jantung Bimo berdegup kencang sekali. Ia membalas pelukan Acha.
"Satu hal lagi yang membuatku merasa semakin rumit, Cha..." kata Bimo.
"Apa?" Acha lantas bertanya.
"Perasaanku padamu," sahut Bimo.
Acha perlahan melepas pelukannya. Menatap Bimo dengan tatapan kaget.
__ADS_1
Acha ingin mundur. Namun Bimo lebih dulu memegangi wajahnya. Memancarkan tatapan lekat yang membuat hati Acha tak karuan.