
...༻〇༺...
Setelah menghabiskan waktu bersama Ezra, Acha pergi menemui Bimo. Keduanya bertemu di cafe. Mereka duduk saling berhadapan. Suasana yang terasa begitu sepi.
"Aku nggak menyangka bisa menjadi kakakmu dalam beberapa bulan saja," celetuk Bimo.
Acha tersenyun kecut. "Kakak? Aku merasa kalau kau tidak seperti kakak tiri. Tapi lebih seperti kakak yang suka menggoda," tukasnya.
"Maaf kalau hubungan kita di awali dengan cara yang tidak kau suka. Aku menyesal sudah memiliki niat ingin mempermainkanmu. Semuanya terjadi karena keegoisanku," ungkap Bimo.
"Itu memang sangat keterlaluan," komentar Acha sambil melipat tangan ke depan dada. "Tapi... Aku akan memaafkan Kak Bimo..." lirihnya.
"Makasih ya, Arum manisku." Bimo mengusap puncak kepala Acha dengan lembut.
Acha tersenyum hingga matanya memicing. Ia sebenarnya sekarang merasa agak sedih. Takut kalau dirinya tak akan bertemu Bimo lagi.
"Aku memang benci Kak Bimo. Tapi anehnya aku merasa sedih saat memikirkan kita akan berpisah," ucap Acha.
"Aku akan menemuimu setelah sudah jadi tentara nanti," imbuh Bimo percaya diri.
Acha memancarkan tatapan penuh selidik. "Memangnya Kak Bimo bisa lulus setelah terbiasa mengkonsumsi barang itu?" timpalnya.
"Aku sudah berhenti beberapa bulan lalu, Cha. Aku rasa itu bisa di atasi," sahut Bimo.
__ADS_1
"Maksudnya Kak Bimo mengambil jalan curang?" tebak Acha.
"Udah! Jangan kepo! Pokoknya kalau aku jadi tentara, aku akan berusaha bekerja sebaik mungkin dan jujur," balas Bimo.
Acha terdiam. Dia menunduk sendu karena memikirkan segalanya akan berbeda. Apalagi ketika semua murid kelas tiga sudah lulus nanti.
"Kak Bimo akan pindah kemana?" tanya Acha.
"Masih belum tahu. Yang jelas keluar kota," jawab Bimo.
Acha mengangguk mengerti. Tanpa disangka, air matanya mulai berjatuhan. Sebenarnya sejak tadi dia berusaha keras menahan tangis.
Bimo bangkit dari tempat duduk. Dia segera memeluk Acha.
"Aku janji akan mencarimu setelah selesai pelatihan," kata Bimo.
...***...
Satu bulan berlalu. Hari kelulusan kelas tiga telah tiba. Semua murid senior merayakan kelulusan mereka dengan perasaan gembira di lapangan. Apalagi saat mendengar pengumuman dari guru bahwa seluruh murid kelas tiga lulus.
Acha dan murid junior lainnya hanya bisa menonton dari pinggir lapangan.
"Cowok-cowok idolamu bakalan pergi semua nih," keluh Sitha seraya merangkul pundak Acha.
__ADS_1
"Cowok idolaku apaan." Acha menggelengkan kepala.
"Itu Kak Bimo sama Kak Ezra. Mereka kan dekat sama lo," tukas Sitha.
"Dekat doang kali!" balas Acha.
"Emang mereka nggak ada nembak lo, Cha?" selidik Sitha.
"Enggak!" Acha terlalu malas menjawab jujur pertanyaan Sitha. Dia beranjak pergi dari gerombolan teman-temannya.
Ketika pulang sekolah, Acha duduk di halte bus. Tanpa diduga, cowok dengan motor sport berhenti di hadapan Acha.
"Udah lupa sama gue ya?!" Cowok bermotor itu membuka helm. Ternyata dia adalah Alan.
"Kak Alan!" pupil mata Acha membesar.
"Ayo naik!" perintah Alan.
"Tapi aku--"
"Lo mau naik secara sukarela atau dipaksa?" potong Alan mengancam.
Acha tak punya pilihan selain naik ke motor Alan. Ia berpegangan erat pada pinggul cowok tersebut. Mengingat cara Alan berkendara cukup laju dan ugal-ugalan.
__ADS_1
"Kak Alan mau ngajakin aku mati ya?!" pekik Acha dari belakang.
Bukannya tersinggung, Alan justru tergelak. Dia melajukan motornya lebih cepat.