
...༻〇༺...
Usai bicara dengan Ezra, barulah Acha berani menemui Alan. Dia tidak ingin menyapa lebih dulu. Acha hanya memunculkan dirinya berada di sekitar Alan. Tentu saja dengan tujuan agar Alan yang menyapanya lebih dulu.
Kelopak mata Alan melebar ketika menyaksikan kehadiran Acha. Kedua temannya bahkan juga tampak kaget.
"Itu bukannya cewek sasaran lo, Lan?" tanya Roby.
"Iya, lo benar!" jawab Alan sambil mendengus kasar. Ia sekarang benar-benar malas untuk berbasa-basi.
"Eh lihat tuh! Gue juga lihat Bimo!" seru Zoni yang sukses melihat kehadiran Bimo. Cowok itu nampak mendatangi Acha.
"Apa? Bimo?" mendengar nama rivalnya disebut, barulah Alan merasa bersemangat. Dia menenggak minumannya lebih dulu sampai tandas. Setelah itu, barulah Alan bergerak untuk menghampiri Acha.
Menyaksikan Alan berjalan ke arahnya, Bimo berusaha membawa Acha pergi.
"Ayo kita cari udara segar keluar!" ajak Bimo sembari menarik tangan Acha. Akan tetapi gadis itu menolak dan segera melepas pegangan Bimo.
"Aku mau tetap di sini!" ungkap Acha. Bimo lantas hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Cha!" panggil Alan. Menyapa dengan antusias. Membuat Acha dan Bimo sontak menoleh. Bimo tampak langsung cemberut.
"Kak Alan!" seru Acha sambil tersenyum.
"Nggak nyangka kamu ada di sini juga. Jadi semangat aku," ucap Alan.
"Ayo kita pergi, Cha! Kau tadi mau makan sesuatu kan," ajak Bimo yang tak tahan menyaksikan interaksi di antara Acha dan Alan. Ia berusaha meraih tangan Acha lagi. Namun gadis itu lagi-lagi menolak.
"Enggak, Kak. Aku sama Kak Alan aja," ujar Acha.
"Bagus deh," kata Alan yang segera meraih tangan Acha. Berbeda dengan Bimo, dia sama sekali tidak mendapat penolakan.
Bimo hanya bisa mendengus kesal sambil mengepalkan tangannya. Meskipun begitu, dia bergerak mengikuti Acha dan Alan. Bahkan sampai ikut duduk bersama untuk makan.
Alan mengerutkan dahi. Dia sebenarnya merasa puas bisa melihat Bimo kesal.
Sementara Acha, dia merasa terganggu dengan kehadiran Bimo yang terus membuntutinya.
"Kak Bimo bisa pergi nggak sih?" tukas Acha.
__ADS_1
"Enggak! Aku kan kakakmu. Wajar kalau aku menjagamu dari cowok jahat!" sahut Bimo seraya mendelik ke arah Alan.
"Tapi ini berlebihan!" balas Acha memberengut. Dia segera meraih tangan Alan. Menyeret cowok tersebut untuk pergi meninggalkan Bimo.
"Lari, Kak!" ucap Acha seraya berlari laju memasuki kerumunan orang banyak di pesta. Dia dan Alan berusaha menghilangkan jejak dari Bimo.
"Acha!" panggil Bimo. Dia bergegas mengejar Acha dan Alan. Tetapi dirinya sulit menemukan mereka karena banyaknya orang yang ada di sekitar.
"Ke sini!" melihat Bimo terus mencari, Alan mengajak Acha beranjak dari ruang utama pesta. Keduanya menaiki lift menuju lantai dua. Mereka merasa lega setelah berhasil meninggalkan Bimo. Kini Acha dan Alan menyandar ke dinding dalam lift untuk mengatur nafas.
"Apa Bimo memang sebegitunya sama kamu?" tanya Alan. Menatap Acha dengan sudut matanya.
"Begitulah," tanggap Acha. Dia dan Alan terkekeh bersama sejenak.
Alan terus melirik Acha. Mengamati gadis tersebut dengan serius. 'Apa ini saatnya gue beraksi? Tapi apa perlu gue melakukan hal sejauh ini untuk membuat Bimo kesal?' batinnya.
Pintu lift perlahan terbuka. Alan dan Acha segera keluar dari lift.
"Sekarang apa?" tanya Acha.
"Aku ajak keliling gimana?" cetus Alan. Dia sebenarnya ingin mengajak Acha ke kamar untuk menjebak gadis itu. Alan berniat akan memutuskan hubungan dengan Acha setelah berbuat begitu.
Alan menyeringai. Dengan begitu dia tidak perlu berlama-lama lagi melakukan sandiwara.
Kini Acha dan Alan memasuki ruang tengah di lantai dua. Di sana terdapat lemari piala serta foto-foto Alan dan keluarganya.
"Wah... Piala punya Kak Alan banyak juga," imbuh Acha.
"Nggak semuanya punyaku, Cha. Piala yang ada di sini campuran," terang Alan. Dia sengaja membiarkan Acha berjalan lebih dulu.
"Ini Kak Alan waktu kecil ya?" tanya Acha. Namun Alan tidak menanggapi sama sekali.
Acha lantas heran. Dia menoleh ke belakang. Keningnya mengernyit ketika tidak menemukan Alan.
"Kak Alan?" panggil Acha. Ia celingak-celingukan mencari Alan.
Alan sebenarnya bersembunyi di balik lemari piala. Diam-diam dia mendekati Acha dan langsung memeluk gadis itu dari belakang.
"Duarrr!" seru Alan. Sengaja ingin membuat Acha kaget.
__ADS_1
Benar saja, Acha kaget sampai berjengit. "Ish! Kak Alan! Jantungku rasanya hampir copot loh," protesnya. Acha merasa salah tingkah saat bisa merasakan tangan Alan melingkar di pinggulnya.
"Sorry," ujar Alan sambil tergelak kecil. Lalu memposisikan kepala ke pundak Acha. Gadis tersebut perlahan menoleh. Saat itulah Alan berusaha mengambil kesempatan untuk mencium bibir Acha.
Tahu niat Alan apa, Acha buru-buru membuang muka. Dia tidak akan membiarkan dirinya lengah lagi.
"Kenapa? Masih malu?" tanya Alan. Dia memutar tubuh Acha dengan cepat menghadapnya. Sehingga mereka kini saling berhadapan.
"Enggak, Kak. Ini rumahmu. Nanti kalau keluargamu lihat kan nggak enak," kata Acha beralasan.
"Kau benar. Mau ke kamarku nggak?" ajak Alan.
"Kamar?" pupil mata Acha membesar.
..._____...
...Bonus Visual...
...Acha...
..._____...
...Bimo...
..._____...
...Alan...
..._____...
...Ezra...
__ADS_1