
...༻〇༺...
Puas mengintip apa yang dilakukan Acha, Bimo pergi ke kamar. Dia membersihkan diri dan berganti pakaian. Selanjutnya, barulah cowok itu menemui Acha.
Pintu diketuk oleh Bimo. Acha sontak gelagapan. Cewek tersebut yakin kalau orang yang datang adalah Bimo.
Sebelum membuka pintu, Acha masih sempat merapikan rambut. Setelah itu, barulah dia buka pintunya.
Benar saja, orang yang datang adalah Bimo. Dia menyapa dengan senyuman lebar.
"Kita jadi kan belajar bareng?" tanya Bimo.
"Jadi, Kak!" sahut Acha antusias. "Tunggu aku mau ambil buku-bukunya dulu," tambahnya.
"Mau kemana? Kita belajar di sini aja nggak apa-apa," ucap Bimo sembari masuk ke kamar Acha.
"Di sini? Di kamarku?" Acha sedikit kaget.
"Iya. Tapi kalau kamu nggak mau, kita bisa--"
"Nggak, Kak! Boleh kok!" potong Acha cepat. Dia memegangi lengan Bimo yang nyaris beranjak keluar. Cowok tersebut lantas tersenyum. Lagi-lagi dia mengusap puncak kepala Acha.
"Di sini, Kak!" Acha menyuruh Bimo duduk di kursi depan meja belajar. Sementara dirinya menggunakan kursi dari meja rias untuk diduduki. Acha menarik kursi itu ke dekat Bimo. Sekarang keduanya siap belajar.
Acha memberitahu soal Matematika yang membuatnya kesulitan menjawab. Bimo segera mengajari Acha pelan-pelan.
__ADS_1
Acha berusaha fokus dengan penjelasan Bimo. Akan tetapi terkadang dia tidak fokus karena sosok Bimo yang lebih menarik perhatian dibanding soal Matematika. Jantung Acha terus berdebar lebih cepat.
"Gimana? Udah ngerti kan?" tanya Bimo. Dia telah selesai menjelaskan rumus yang harus diketahui Acha.
"Iya." Acha langsung mengangguk. Padahal sebenarnya dia masih belum begitu mengerti.
"Emang benar? Sekarang coba kerjain soalnya sendiri," ujar Bimo sembari memberikan kertas coretan dan pulpen pada Acha.
Acha tersenyum kecut. Dia terpaksa mengerjakan apa yang disuruh Bimo.
Sudah hampir setengah jam Acha mengerjakan satu soal yang disuruh Bimo. Sesekali dia menggaruk kepalanya sendiri karena kebingungan. Memang kemampuan tidak bisa berbohong layaknya mulut.
"Dih! Katanya tadi udah ngerti," kritik Bimo.
"Gara-gara Kak Bimo sih," tukas Acha. Tanpa sadar dia kebablasan.
"Eh bukan begitu, Kak. Maksudnya aku emang udah ngerti. Tapi ternyata kalau udah praktek beda," ralat Acha berbelit-belit karena salah tingkah. Ia memberi alasan seraya memegangi tengkuk.
Bimo terkekeh. Dia tak bisa menahan tawa. "Oke. Jadi bagian mana yang masih bikin kau bingung?" tanyanya.
Acha segera menjelaskan rumus yang masih tidak dimengerti. Bimo lantas memberi jawaban. Cowok itu mendekatkan dirinya lebih dekat dengan Acha. Ia bahkan sampai menarik kursinya.
Hati Acha semakin tak karuan. Dia sesekali menenggak salivanya sendiri. Acha juga tak bisa menahan diri untuk tidak mencuri pandang ke arah wajah tampan Bimo.
'Udah, Cha! Fokus! Fokus! Fokus! Sebaiknya jangan lihat ke arah Kak Bimo.' Acha menggeleng. Dia memperingatkan dirinya sendiri. Kemudian berusaha fokus dengan penjelasan Bimo.
__ADS_1
Ketika benar-benar fokus, Acha bisa memahami apa yang diterangkan Bimo. Dia kembali disuruh untuk mengerjakan soal sendiri. Dan kali ini akhirnya berjalan dengan baik.
"Ini jawabannya benar kan, Kak?" tanya Acha setelah berhasil mengerjakan satu soal. Bimo lantas memeriksa dan langsung membenarkan.
"Yeaay! Akhirnya aku bisa. Sekarang biar aku yang kerjakan semua soalnya sendiri ya, Kak!" Acha bersorak gembira. Sifatnya yang ceria selalu memberi kehangatan untuk hati orang di sekitar. Tak terkecuali Bimo.
Bimo menatap Acha. Ia tampak terpaku. "Cha!" panggilnya sambil memegangi lengan Acha. Lalu mendekatkan diri ke hadapan cewek itu.
"I-iya?" Acha mengerjapkan matanya dengan cepat. Dia diserang perasaan gugup ketika Bimo memandanginya begitu.
"Aku baru sadar. Kau pakai lipstik?" tanya Bimo.
"Em... A-anu. Aku baru aja beli lipstik baru. Jadi dicoba langsung." Acha memberikan alasan asal.
Bimo memasang tatapan dan senyuman curiga. "Begitukah?"
"Iya! E-emangnya Kak Bimo mikirnya ke--" ucapan Acha terpotong saat Bimo membelai rambutnya. Kemudian mengaitkan rambut Acha ke daun telinga.
Tubuh Acha seketika membeku. Rasanya dia juga kehabisan nafas. Apalagi wajah Bimo berada di jarak begitu dekat dengan wajahnya. Hanya berhelatkan beberapa senti.
"Bukan karenaku?" tanya Bimo dengan nada berbisik.
Pupil mata Acha membesar. Detak jantungnya semakin tak terkendali. Ia ingin menghindar, namun dirinya sudah terhipnotis akan pesona Bimo.
Mata Bimo berhenti membalas tatapan Acha. Ia terlihat fokus menatap bibir ranum milik adik tirinya itu. Bimo perlahan mendekat dan menyatukan jidatnya dengan dahi Acha. Kedua hidung mereka juga saling bersentuhan karena itu.
__ADS_1
'Kak Bimo mau ngapain? Apa dia akan cium bibir gue?' batin Acha menduga. Karena menyukai Bimo, dia tentu mengharapkan itu terjadi. Atensi Acha juga sudah mulai teralih untuk menatap bibir Bimo.
Kini Bimo memiringkan kepala. Sedikit lagi bibirnya bersentuhan dengan bibir Acha. Karena itulah Acha memejamkan mata.